Meluncurlah

Beberapa bulan belakangan, kamu sering melepaskan tangan dari peganganku di saat kita sedang berada di tengah dikeramaian. “Tak usah dipegang Ayah” ujarmu sambil berusaha melepaskan diri. Berkali-kali saya dan bundamu berdiskusi tentang ini. Terkadang kami merasa orangtua yang terlalu berlebihan dalam melindungi kamu. Sering saya mengutuki diri sendiri karena belum bisa memberi kepercaan kepadamu. Bahkan diusiamu yang ke-8 ini, setiap berpergian diluar rumah tak sekalipun tanganmu lepas dari pegangan kami.

Mungkin ini efek traumatik kami pernah kehilanganmu sekitar 10 menit pada event Bobo Fair di JCC tahun 2012 silam. Usiamu kala itu baru 2 tahun. Bundamu menjerit histeris saat mendapati kamu tidak ada pada salahsatu diantara kami. Saya memang tidak berteriak dan tidak pula menangis. Saya rasakan saat itu, seakan-akan lantai yang saya injak runtuh dan saya terjun dalam waktu yang lama untuk dijebloskan ke pusat bumi. Setelah melapor kepada Satpam dengan menjelaskan Usia, ciri dan pakaian yang kamu kenakan saat itu, saya berbalik ke stand Kodomo yang kita singgahi sebelumnya. Ternyata saat saya membayar untuk sejumlah produk sebagai persyaratan ikut lomba mewarnai, kamu melepaskan tangan saya dan kembali bergabung dengan balita-balita lainnya dengan deretan meja-meja kecil dan peralatan mewarnai. Mendapati kamu sudah duduk dengan sebuah meja kecil di hadapanmu, kembali darah yang tadi seakan-akan pergi.

Sejak itu, setiap berpergian ke pusat keramaian kami sudah berkomitmen bahwa saya harus mengendongmu agar tidak lepas karena keasyikan dengan shoping window atau tawar-menawar. Terlebih di pusat perbelanjaan Tanah Abang atau Mangga Dua.

Menginjak usia lima tahun kamu mulai belajar sepeda. Setiap sore kamu bermain di lapangan depan rumah. Meski lapangan terlihat jelas dari rumah namun kami takut membiarkanmu bermain dengan teman-temanmu di lapangan. Salah satu diantara kami mendapingimu di pinggit lapangan. Ada saja yang mendatangkan ketakutan pada kami ; takut kamu dijahatin teman sebaya, atau yang lebih seram lagi isu penculikan anak. Padahal di sana ramai ibu-ibu yang sedang mendampingi buah hatinya.

Tak butuh waktu lama bagimu untuk belajar sepeda tanpa roda penyeimbang. Awalnya saya copot satu, berselang sebulan kemudian saya copot yang satunya lagi. Saya kaget ketika kamu lansung bisa pada hari roda bantu dicopot dua-duanya. Tidak peristiwa tragis dan konyol seperti nyebur ke got, atau menabrak dinding selama kamu belajar naik sepeda, sehingga tidak ada luka dan lecet yang membekas untuk dikenang.

Setelah bisa bersepeda jarak edarmu semakin bertambah, sehingga kami semakin kerepotan mengikuti lari sepedamu. Kami tak biasa membiarkan kamu bermain tanpa terjangkau oleh pandangan mata. Setiap kami menghilang di balik dinding rumah tetangga, atau kamu berbelok masuk blok yang tak terjangkau dari mata, saya berlari mengikutimu dari belakang.

Seiring berjalan waktu kamu semakin bertambah usia dan berat, tentunya saya semakin keberatan untuk menggendongmu. Saya usulkan kepada Bundamu, jika kita bepergian ke pusat keramaian beri gelang tanganmu yang diikatkan pada pergelangan tanganku . Tapi ditolaknya karena tidak etis dan juga ribet berpapasan di tengah keramaian. Akhir kembali seperti biasa; kita berjalan bertiga membelah keramaian pusat grosir Tanah Abang dan Mangga Dua atau berkejaran di stasiun commuterline dengan kamu nangkring di pundakku.

Kamu keenakan dan terus-terusan mau jalan meskipun di tempat sepi. Bahkan sampai TK kamu minta digendong sampai ke dalam kelas, setiap pagi minta tutak (gendong belakang) sama bunda ke rumah depan. Saya mengultimatum bahwa setelah tujuh tahun tidak boleh digendong lagi.

Di akhir tahun kemarin, setelah dua kali gagal, akhirnya kita berhasil menonton film Ayat-Ayat Cinta 2 [saya menulis tentang film ini di bisa dibaca di Tentang Perempuan Ayat-Ayat Cinta ] di XXI Transmart Padang. Lokasi theater berada di lantai 3, untuk menuju kesana melalui eskalator kita harus melewati lorong-lorong dan pajangan peralatan rumah tangga dan pecah belah. Saya menuntunmu karena takut kamu terlepas di tengah kerumunan atau tak sengaja menyenggol dagangan Chaerul Tanjung. Tapi tiba-tiba kamu melepaskan pegangan tanganku, dan saya seperti mendengar kamu bilang, “Tak usah dipegang, Ayah…”

Saya membiarkanmu dan kita jalan beriringan. Kamu di depan. Saya memandangi punggungmu dan berpikir inilah awal dari semuanya. Kamu seketika menjelma anak panah yang siap melesat. Saya yang tidak siap. Rasanya saya tak ingin menarik tali busur itu. Setidaknya sampai kita keluar dari lorong ini.

Ada sebuah pepatah barat “like a bull in a china shop”. Seperti banteng di toko porselen. Itu pengandaian untuk seseorang yang bertindak ceroboh di suatu tempat sehingga menyebabkan kerusakan atau membahayakan orang lain.

Kamu bukan banteng. Kamu adalah anak kecil yang beranjak remaja tentu datang masanya menuju dewasa. Kamu akan bertanggungjawab pada semua tindakanmu. Semakin kamu besar, ruang yang kamu butuhkan untuk bergerak juga akan semakin besar. Dan seringkali tanpa sadar, kamu bisa saja merangsek ke teritorial orang yang tidak seharusnya kamu masuki. Ingat selalu pesanku hati-hati, kontrol gerakan! Selalu lihat sekeliling sebelum bergerak. Di samping untuk keamananmu sendiri, juga untuk memastikan agar jangan sampai ada hak orang lain yang kamu langgar. Dan yang disebut bergerak itu tidak harus selalu fisik.

Disetiap ‘gerak’mu ada identitas yang menempel tentu saja identitas dirimu sendiri, nama baik kami sebagai orangtuamu dan keluarga dan lebih luas lagi identitas agamamu, semua harus kamu jaga!

Untuk mengakhiri tulisan ini saya kutip sebuah syair dari Sayidina Ali bin Abi Thalib yang saya dapatkan dari buku ; Ayahku Karya Hamka, sebagai filsafat hidup bagimu!

Wahai orang-orang yang mencari jernih di dunia ini yang tidak ada keruhnya. Engkau adalah mencari yang tak ada. Jangan engkau harap maksudmu akan tercapai

Ketahuilah olehmu bahwa selama kita hidup kita senantiasa akan mendapat ujian dengan yang baik atau yang jahat, dengan kemudahan atau kesulitan.

Dimana akan engkau jumpai suatu mamfaat yang tak ada mudhorat padanya dan penuh kemelaratan. Sebab itu jika engkau pengecut, engkau akan ditimpa malu yang amat besar. Dan jika engkau berani bertindak, engkau niscaya akan berjumpa dengan kemuliaan.

Tetapi barang siapa yang lari dari medan perjuangan, tidaklah dia akan terlepas dari pada apa yang ditakdirkan tuhan.

.

Sesederhana itu, Nak. Selamat ulang tahun. Meluncurlah sejauh yang engkau inginkan. Bergeraklah seluas yang engkau mau. Tapi ingin jangan merusak apalagi mengambil sesuatu yang bukan hakmu
Selalu banyak cinta untukmu, dengan atau tanpa kami pegang tanganmu.

****

Al Albana, Andalas 18 Rajab 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close