Saling-Silang Muhammadiyah dan Minangkabau

Muhammadiyah, Ahmadiyah dan Komunis masuk ke Minangkabau dalam waktu yang hampir bersamaan yaitu pada medio 1920-an. Jika Komunis dibawa oleh H.Datuak Batuah dan Natar Zainuddin alumni Sumatera Thawalib, murid Haji Rasul, sedangkan Ahmadiyah dibawa masuk ke Minangkabau oleh tiga serangkai ; Zaini Dahlan, Abu Bakar Ayub dan Ahmad Nuruddin. Mereka ini juga alumni Sumatera Thalib.

Sedangkan Muhammadiyah dibawa ke Minangkabau oleh Haji Rasul sendiri, sekembali dari lawatan ke Jawa pada 1924 dalam rangka menziarahi anaknya, ‘sibujang jauh’-Abdul Malik Karim Amrullah yang belakangan dikenal dengan nama Hamka dan menantunya A.R. Sutan Mansur yang sudah lebih dulu menjadi pengurus Muhammadiyah di Pekalongan.

Dalam lawatan ke Jawa, selain bertemu dengan H.O.S Cokroaminoto di Surabaya, beliau juga diundang oleh K.H. Ahmad Dahlan pendiri Muhammadiyah di Jogja. Selama tiga hari menjadi tamu K.H. Ahmad Dahlan mereka bertukar pikiran. Dan pendiri Muhammadiyah itu minta izin tulisan Haji Rasul di Al Iman diterjemahkan ke dalam Bahasa Jawa sebagai bahan untuk diajarkan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Beliau setuju dan tertarik dengan sistim pendidikan yang digagas Kyai Dahlan.

Sekembali dari Jawa ia meminta adiknya Haji Yusuf Amrullah untuk mendirikan cabang Muhammadiyah di Kampung halamannya, Tanjung Sani-Maninjau. Inilah cabang Muhammadiyah pertama di Minangkabau. Seluruh keluarga dekat ; adik, anak, kemenakan disuruh menjadi pengurus Muhammadiyah sedangkan beliau sendiri tidak bersedia dituliskan namanya di kepengurusan Muhammadiyah, namun beliau memberikan dukungan yang sepenuhnya untuk dakwah Muhammadiyah. Setidaknya ada dua alasan yang membuatnya enggan menjadi pengurus Muhammadiyah secara formal-Organisasi ; (1) Beliau seorang egaliter, telah terlatih berfikir bebas, tidak taklid dan tidak mengekor. Dengan berada di luar Muhammadiyah beliau bebas mengkritisi apa-apa yang dilakukan Muhammadiyah yang menurutnya keliru. Ia menulis buku “Bercermin terus, untuk pengurus, pencari jalan lurus yang menghantam Muhammadiyah ketika melihat sebagian pengurus Muhammadiyah ketika itu belum dibekali oleh ilmu (pengetahuan) agama yang cukup, hanya mahir berpidato dan senang berorganisasi. Sedangkan yang kedua (2) Beliau pernah berkata “Dalam urusan agama (Islam) ulama Minangkabau belum kalah dibanding Kyai dari Jawa” ujarnya. Sedangkan Muhammadiyah lahir di Jawa didirikan oleh Kyai Dahlan.

Bahwa tudingan Muhammadiyah penjilat kepada pemerintah, tidak hanya terjadi di era demokrasi saat ini. Jauh sebelumnya juga pernah dialami oleh Muhammadiyah. Pada 1923 era kolonial Belanda. Muhammadiyah dituduh P.E.B singkatan dari Politicsche Economische Bond. Sebuah partai politik kanan, pembela pemerintah kolonial. Beranggotakan pegawai-pegawai pemerintah Kolonial Belanda. Seperti Golkar pada orde baru.

Untuk menanamkan kebencian lebih mendalam kepada Muhammadiyah. P.E.B diplesetkan menjadi (P)enjilat (E)kor (B)elanda. Ditambah lagi warna logo Muhammadiyah berwarna hijau simbol lembek terhadap kolonial, lawan dari warna merah yang revolusioner(milik kaum Komunis). Banci,ambigu, Muhammadiyah gerakan air mentah yang tidak ada rasa itulah stigma negatif yang dilekatkan oleh kaum komunis terhadap Muhammadiyah.

Salah satu alasan yang mereka gunakan dalam menuduh Muhammadiyah karena pemerintah kolonial memberikan bantuan dana kepada sekolah-sekolah yang didirikan Muhammadiyah. Menerima subsidi dari pemerintah kolonial ketika itu suatu pembenaran alat pencaci maki, terutama di kalangan pelajar-pelajar progresif yang telah terpapar paham kiri yang sangat keras menentang kolonial.

Pada kongres Muhammadiyah yang ke-19 pada tahun 1930 di Bukittinggi. Muhammad Yunus Anis berpidato bahwa Muhammadiyah menolak dengan tegas sistim penerapan Guru Ordonansi yang sedang dipaksakan oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Sistim Guru Ordonansi yaitu mewajibkan setiap guru agama melapor kepada Pemerintah Kolonial Belanda setiap kali akan mengajar. Hampir sama seperti wacana Sertifikasi Ustaz yang sempat menimbulkan pro kontra belakangan ini.

Sejak itu sirnalah propaganda kaum komunis dalam menghalagi dakwah Muhammadiyah di Minangkabau. Dengan tuduhan Muhammadiyah adalah antek kolonial. Apalagi sejak A.R. Sutan Mansur-Menantu Haji Rasul-Kakak Ipar Buya Hamka sebagai konsul Muhammadiyah di Minangkabau berhasil mempersatukan ulama tradisional yang disebut kaum tuo seperti Inyiak Joho, Sulaiman Ar Rasuli, Khatib Ali dengan tokoh progresif seperti Haji Rasul, Jamil Jambek, Ibrahim Musa, Abdullah Ahmad (murid-murid Syekh Ahmad Khattib) yang baru pulang dari Makkah yang waktu itu disebut kaum mudo yang sempat retak akibat semangat pembaharuan, mendobrak kejumudan dan taklik buta. Sejak itu gerakan Muhammadiyah tak terbendung lagi. Tua-muda, miskin kaya, di luhak-rantau berbondong-bondong masuk Muhammadiyah. 50% dari seluruh pengurus Muhammadiyah seluruh Hindia Belanda adalah Putera Minangkabau. Perkembangan Muhammadiyah di Sumaatera khususnya Minangkabau jauh meninggalkan tempat lahir Muhammadiyah di Jogja. Hingga hari ini belohlah kita sebut Minangkabau adalah Muhammadiyah.

Dari dua Karya Hamka ; Ayahku dan Islam & Adat Minangkabau terjawab rasa penasaran yang sudah lama berkecambah di kepala yaitu ; kenapa Muhmmadiyah sangat berpengaruh identik dengan Minangkabau bukan tempat lahirnya Jogja. Setelah membaca kedua buku ini terjawab sudah. Serta saya menyimpulkan bahwa ; Muhammadiyah berhutang kepada Minangkabau demikian pula sebaliknya.

Pergerakan pembaharuan Islam bermula sejak pulangnya tiga tokoh Paderi dari Mekkah dari berhaji dan menimba ilmu. Haji Sumanik, Haji Piobang dan Haji miskin dengan semagat revolisioner dalam melakukan pemurnian ajaran Islam di Minangkabau. Puncaknya adalah meletus Perang Paderi 1803-1838. Dengan ditaklukannya benteng Bonjol serta ditangkap dan diasingkan pemimpin terakhir kaum Paderi Tuangku Imam Bonjol berakhirlah Perang Paderi. Namun semangat pemurnia Islam yang sudah ditanankan tidak hilang begitu saja.

Pasca Paderi sejatinya kelompok terpelajar Minangkabau belum mengekor sepenuhnya kepada Kolonial Belanda. Orang tua yang mampu dan terpelajar mengirim putera-putera mereka untuk menimba ilmu ke Makkah dan Mesir bukan ke Batavia atau negeri Belanda.

Salah seorang putera terbaik diantaranya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy (1860-1912) yang menjadi Imam Khatib pertama non Arab Masjidil Haram. Sejak berangkat ke Makkah hingga wafat di Makkah hanya sekali pulang ke Minangkabau namun kecintaan dan semangat pembaharuan kepada tanah kelahiran diwujudkan dengan mendidik dan mengirim murid-muridnya untuk mendakwahkan tauhid di Alam Minangkabau.

Diantara sekian banyak muridnya adalah Syek Abdul Karim Amrullah-ayah Buya Hamka, Syekh Abdullah Ahmad-Pendiri PGAI & Adabiah Padang, Syekh Jamil Jambek-Guru Muhammad Hatta, Syekh Ibrahim Musa Parabek dan lainnya. Mereka ini sangat gencar dan mencurahkan seluruh tenaga dan pikirannya untuk menebas kesyirikan, bid’ah, tahayul dan khurafat. Saat lahan tauhid sudah gembur dan pohon dan ranting serta rumput sudah mulai layu tempat bersarangnya kesyirikan, Bid’ah dan khurafat datanglah Muhammadiyah, lalu tumbuh subur di bumi tauhid yang telah digemburkan oleh ulama-ulama disebut ‘Kaum Mudo’ tadi. Inilah yang saya maksud utang Muhammadiyah terhadap Minangkabau. Selain dominannya putera Minangkabau pada masa-masa dahulu dalam membesarkan Muhammadiyah di seluruh Nusantara terutama sejak tahun 30-80 an.

Sedangkan utang Minangkabau terhadap Muhammadiyah yang saya maksud adalah ; pada saat ulama ‘kaum mudo’ menebas hutan kesyirikan, bid’ah, tahayul dan khufarat dalam rangka menyuburkan tauhid terjadi gesekan dengan ulama-ulama tradisional yang disebut ‘kaum tuo’. Dalam pepatah minang disebut “tantuak ka naik talantung ka turun” sehingga menyebabkan keretakan hubungan di antara mereka. Sejarah mencatat sering terjadi perdebatan panas sejak kepulangan murid-murid Syekh Ahmad Khatib dari Mekkah. Ketajaman pena Abdullah Ahmad, keberbisaan lidah Haji Rasul di atas mimbar dalam menyerang kejumudan dan taklid buta telah menyinggung perasaan ulama ‘Kaum Tuo’ seperti Syekh Said Mungka, Syekh Sulaiman Ar Rasuli, Syekh Jamil Jaho, Khatib Ali dan lainnya. luka dan retak inilah yang ditenun kembali oleh Muhammadiyah melalui tokoh-tokohnya, salah satunya seorang putera Minang sendiri AR Sutan Mansur-Menantu Haji Rasul dan Kakak ipar Buya Hamka. Dengan kelemahlembutan dan kedalaman pemahaman agamanya AR Sutan Mansur dapat diterima oleh ‘Kaum Tuo’ maupun ‘Kaum Mudo’.

****

Al Albana, Andalas 20 Rajab 1439

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close