ZIARAH DAN KEPUNAHAN BAHASA

Dulu, dahulu sekali,–ketika masih penjadi ‘buyuang panakuik’– saya bergidik setiap kali mendengar kata ziarah. Karena kata ini identik dengan duka-cita. Tepatnya kematian, atau segala yang berhubungan dengan mistisme, hal yang paling saya takuti semasa kecil. Misalnya ziarah ke rumah orang yang baru meninggal atau ziarah ke kuburan.

Belakangan ini, saya membaca buku-buku karya Hamka. Selalu ia menggunakan kata ‘ziarah’ sebagai ganti kata ‘kunjung’. Misalnya dalam buku Islam dan Adat Minangkabau, ia menuliskan “Pada pertengahan 1924, ketika Abdul Malik ingin hendak berangkat ke Jawa menziarahi kakaknya dan iparnya A.R. Sutan Mansur di Pekalongan”. Padahal Kakak dan iparnya ketika itu masih hidup. Atau “saya sempat berziarah ke Semenanjung Malaya, dua tahun sebelum Syekh Taher Jalaludin meninggal”, tulis Buya Hamka dalam buku Ayahku.

Hamka lebih sering menggunakan kata ziarah daripada kata berkunjung, begitu pula sastrawan lainnya tempo dulu seperti Marah Rusli, Nur Sutan Iskandar, Abdoel Muis, khususnya yang berasal dari Sumatera. Terutama pada buku-buku terbitan tempo dulu. Bahkan edisi terbaru pun sebagaian editor masih mempertahankan gaya bahasa asli penulis walaupun menggunakan ejaan yang disempurnakan (EYD).

Untuk memastikan arti kata ziarah saya cek di KBBI. Ternyata benar seperti yang didefinisikan saat ini. Ziarah ; kunjungan ke tempat yang dianggap keramat atau mulia (seperti makam) untuk berkirim do’a.

Begitulah sebuah kata dapat bergeser artinya. Jika pada tempo dulu ziarah = berkunjung, maka saat ini sudah menyempit artinya, berkunjung ke tempat keramat.

Beberapa hari yang lalu saat ngobrol dengan isteri tentang ‘Penistaan’ rendang oleh seorang master chef dari Inggris. Lalu kami berbincang tentang chef, dengan membandingkan chef-chef terkenal dalan negeri. “Kalau kehebatannya hanya seputar cake dan pudding itu belum hebat, bagi saya, chef yang hebat mampu membuat ‘pakan nasi’ yang enak” Saya menukas pembicaraan.

‘Pakan nasi’ sudah lama saya tidak mengucapkan kosa-kata itu. Mungkin ada kali 15 atau 20 tahun lampau. Walaupun masih menggunakan Bahasa Minang, belakangan saya lebih sering menggunakan kata ‘samba’ untuk menunjuk lauk. Bahkan keponakan-keponakan saya yang asli Pariman dan menetap di Pariaman bertutur dalan Bahasa Minang dialek Pariaman tidak pernah saya mendengarkan mereka melafalkan kata ‘pakan nasi’. Mereka yang mengucapkan kata ‘pakan nasi’ sebagian besar sudah berada dalam tanah yang kita ziarahi ‘setiap hari baik bulan baik’.

Saya juga rutin mendengarkan radio. Stasiun Radio lokal dengan slogan “Benteng Budaya Nagari”. Tapi ketika sesama penyiar berbincang dengan “elu gue” logat kaum urban Jakarta dengan level paripurna. Berkali-kali saya memastikan bahwa saya tidak sedang mendengarkan Prambors Radio, Mastang FM atau Cosmopolitan FM yang berjarak 1300 km dari sini.

Dengan pengalaman ini saya percaya bahwa kepunahan Bahasa Daerah hanyalah soal waktu, setidaknya kosa-kata semakin berkurang dari masa ke masa.

****

Al Albana, Andalas, 20 Rajab 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close