Sepakbola Bukan Matematika, Politik Juga!

Kemenangan As Roma atas Barca tadi malam membuat saya sedikit paham, kenapa Konglomerat hitam selalu berdiri dua kaki pada setiap ajang pemilihan. Baik itu Pilkada, Pilpres pemilihan ketua umum partai, pemilihan Wali Nagari mungkin juga pemilu Kades. Yang dapat Saya dapat dipastikan bahwa hal ini tidak terjadi pada pemilihan ketua RW dan RT .

Siapa pun pengusaha hitam itu ; sembilan naga, tujuh panda, tiga buaya darat, gerombolan cacing tanah. Dari Konglomerat asing, aseng, yang pasti bukan dari pedagang asongan.

Seperti halnya sepakbola politik memberikan apa yang tidak dapat diberikan oleh Matematika dan Filsafat. Ia melampaui kepastian-Matematika dan juga melintasi logika-Filsafat. Hingga kick off babak pertama, hampir bisa dipastikan seluruhnya–pengamat, analisis, supporter, penonton, baik yang pendukung Barca, yang netral sampai pendukung AS Roma menyumpahi Barca kalah dan tersingkir–jauh dalam hati mereka terdalam tersirat bahwa Barca akan melenggang ke babak selanjutnya. Hasil 4-1 untuk kemengan Barca pada leg pertama mustahil bisa dikejar oleh AS Roma. Kalaupun menang rasanya mustahil AS Roma lolos, mengingat selisih gol cukup signifikan. Tapi kenyataannya AS Roma melenggang ke semi final setelah menaklukan Barca 3-0. Begitulah Matematika sepakbola. Seperti pada leg pertama ; Pemain AS Roma mencetak tiga gol, sedangkan pemain Barca hanya mencetak 3 gol, namun kemenagan 4-1 untuk Barca.

Begitu pula kiranya dalam politik (ajang pemilihan). Se-kredible apapun lembaga survey dengan metode canggih yang digunakan dalam mengutak-atik data (sampling) tak ada yang dapat memberikan jaminan hasil pemilu sesuai prediksi sebelumnya. Apalagi lembaga survey saat ini tak lebih dari konsultan politik dalam upaya mempengaruhi opini publik. Konon katanya “hanya butuh 2% sampel untuk memprediksi 98% gejala alam dan kebiasan hewan, namun sebaliknya 98% sampel tidak dapat memprediksi 2% kecenderungan manusia”.

Sedangkan bagi konglomerat ini bisnis harus tetap jalan siapapun calon yang memang. Maka dari itu mereka tak segan-segan menggelontorkan uang dan akomodasi dalam jumlah yang besar tidak hanya pada satu paslon. Celaka jika hanya satu paslon, setidaknya dua jika tiga berlebihan. Jadi siapun pemenangnya yang pasti menang adalah cukung dan tim sukses.

Lantas simpatisan garis keras yang berteriak dan saling hantam di linimasa kalian dapat apa?

****

Al Albana, Andalas, 23 Rajab 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close