Bukan Ajang Idol

Dahulu. Dahulu sekali, Indonesia (baca Nasionalisme) hanya hadir pada saat saat tertentu misalnya ; Susi Susanti berlaga di All England dan Olimpiade, Tim Sepakbola Nasional berhadapan dengan Thailand yang gawangnya dijaga Shom Phong dan gawang Indonesia dijaga oleh Ponirin Meka di SEA Games. Atau saat upacara bendera pada 17 Agustus. Selebihnya kita menyebut Indonesia dengan ‘Pemerintah’, dengan penekanan sesuatu yang bukan milik kita, tapi milik sekelompok orang yaitu Pak Harto dan jejarannya.

Datanglah suatu masa, dua puluh tahun silam, kita menyebutnya reformasi. Kata Indonesia (Nasionalisme) yang dahulunya jauh kita rebut. Semua orang tak segan dan tak malu menyebut atas nama rakyat. Mewakili rakyat. Demi rakyat. Atas nama rakyat. Rakyat ditumbalkan untuk kepentingan pribadi dan kelompok. Padahal pada zaman dulu juga sudah ada DPR namun jarang kita mendengar kata-kata semacam itu. Seperti itulah demokrasi, rakyat semakin disebut, angka-angka penderita dan kemiskinan semakin sering ditampilkan. Seakan-akan rakyat dilibatkan dan semua yang mereka usahakan bermuara pada rakyat. Sejatinya tidak. Demokrasi yang ada saat ini semakin menjauh dari kepentingan rakyat.

Perhatikan gambar-gambar dibawah ini, kita sibuk memperdebatkan hal-hal yang bukan substansial yang bertujuan untuk kepentingan rakyat. Sejak kapan aksi gagah-gagahan seperti ; buka baju memperlihatkan otot dada, berkuda dan motoran, latihan tinju, menjatuhkan tubuh dari panggung, lomba renang, jogging dan sebagainya seperti ini dapat mensejahterakan rakyat?. Bahkan pada pemilu lalu ada yang lebih menggelikan lagi ; seorang Jenderal Purnawirawan dan seorang pengusaha kaya raya sepanjang hari menggenjot becak di televisi miliknya, demi untuk mendapat suara. Mereka mereka sibuk dengan polesan dan gincu seakan-akan sedang mengikuti ajang Idol seperti di televisi. Mereka bukan beradu gagasan dan program yang pada tingkat tertentu (jika menang dan dieksekusi) akan mensejahterakan rakyat. Mereka sibuk berdandan, celakanya lagi sebagian kita terkesima. Saya melihat ini sebagai afirmasi kegagalan kampanye pada periode sebelumnya. Kubu yang satu pada kampanye lalu sibuk dengan “Bocor, Bocor!”, “Macan Asia”, ternayata semua itu tidak mengantarkan menjadi juara. Sedangkan kubu yang lainnya dengan program boombastis ; “nawacita”,”kerja!, kerja, kerja”, setelah menang dan ditagih janji-janji tak mampu memenuhi janji karena berbagai alasan dan memang janji yang utopis. kapok tak mau janji lagi. Inilah bentuk kampanye yang mudah, murah tentu bagi rakyat yang murahan memberikan suaranya. **** Al Albana, 27 Rajab 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close