Berdiri di Pundak Jerapah

Sudahlah, jika kalian tidak dapat memahani pernyataan dan pemikiran Amien Rais, sama seperti kalian tidak dapat memahami KH. Makruf Amin, Syaf’i Maarif, Gus Dur dan lainnya, lebih baik diam saja. Cercaan dan makian kalian tidak akan mengurangi kebesaran mereka. Hanya akan mempertonton ketidakberadaban anda di dunia maya yang tanpa sekat ini.

Mungkin saja frekwensi saya dan sebagian anda tidak dapat menangkap pemikiran mereka. Mereka Intelektual hebat, telah mengabiskan sebagian besar waktunya untuk kajian-kajian ilmu sosial dan politik, maupun agama. Mereka telah melahap dan memamah ribuan buku, mengkaji belasan terori politik sedangkan daftar pustaka kalian hanya sebatas linimasa sosial media.

Amien Rais seorang Profesor dibidang ilmu politik, mendapatkan gelar Master dan Doktor dibidang yang sama di Amerika. Sepak terjangnya dalam kancah perpolitikan di Indonesia tidak usah diceritakan lagi, karena hampir semua orang sudah tahu peranan beliau dalam merobohkan kokohnya dinding Orde Baru, kecuali kid jaman now.

Dulu kita juga sering terkaget-kaget dengan pernyataan dan pemikiran Gus Dur. Kyai Karismatik dan eksentrik, mantan Presiden RI ke-4. Seorang kutu buku dan juga produktif menulis. Menurut seseorang (saya lupa lamanya) ketika berkunjung ke salah satu perpustakaan di Kota Bagdad hampir seluruh buku di perpustakaan itu ada tanda tangan Gus Dur sebagai bukti peminjaman. Soeharto segala cara menghadangnya agar tidak terpilih menjadi ketua PBNU sama seperti saat menjegal Megawati menjadi ketua PDI.
Begitu pula keheranan dan kekagetan kita kepada KH. Makruf Amin, Syaf’i Maarif dan tokoh-tokoh lainnya.

Just info sebagai bukti mereka orang hebat. Amien Rais dan Gus Dur adalah dua orang yang sangat ditakuti pemerintahan Orde Baru yang kalian rindukan itu, (piye kabare, penak jamanku to?). Karena apa?, kecedasan dan keberanian mereka.

Jadi wajar jika ada pernyataan dan pemikiran mereka yang tidak kita pahami. Untuk melihat sesuatu yang terhadang tembok yang tinggi kita mesti berdiri di atas pundak Jerapah kalau perlu di bahu rakasasa. Begitulah pemikiran mereka. Lagi pula tidak ada paksaan untuk sepakat dengan pernyataan dan pemikiran mereka, baik itu sebagai warga negara maupun umat.

Tapi jika dapat memahami namun tidak setuju, tidak mengapa juga. Mana mungkin kita bersepakat dengan dengan seseorang dalam segala hal meskipun seorang tokoh besar atau ‘ulama’ sekalipun. Kecuali kepada seorang manusia agung lagi mulia, nabi akhir zaman Muhammad Rasulullah, s.a.w. atau mereka yang taklid buta dengan meletakan standard kebenaran pada seorang tokoh atau kelompok lalu membiarkan kepalanya sebagai tempat tumbuh rambut saja.

Sesederhana itu cara saya membela cendikiawan dan/ulama tanpa memuja setinggi langit melebihi haknya dan tidak pula mencela mereka. Setuju ambil tidak tinggalkan.

****

Al Albana, Andalas, 29 Rajab 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close