Overdosis

Ini bukan tentang Overdosis Miras Oplosan yang mengakibatkan belasan korban nyawa di Depok-Jawa Barat. Kalau yang itu salah dosis, bukan over dosis. Ini tentang orang yang overdosis dalam menggunakan ‘wall~dinding ratapan yang disediakan Mark di Facebook ini oleh sebagian orang sebagai tempat pemujaan kepada politisi.

Mengekresikan sikap politik dan keberpihakan kepada salah satu kubu atau tokoh politik pada era tsunami informasi saat ini adalah hal yang wajar dan tidak terhindarkan kecuali bagi orang-orang selevel sufi seperti Ahmad Dhani (masih mengaku sufi nggak sih?) atau mereka yang ‘masa bodo’.

Gelombang informasi yang beragam mempengaruhi preferensi politik yang berbeda pula pada setiap orang. Cita-cita menseragamkannya adalah hal yang utopis dalam negara demokrasi kecuali di Korea Utara, itu pun masih ada riak meski dikekang oleh pemerintah.

Maka dari itu yang perlu dijaga dalam kehidupan sosial (terutama dunia maya) adalah ; (1) sikap saling menghargai atas perbedaan pandangan dan pilihan masing-masing. Ini bukan masalah benar-salah yang mutlak seperti matematika. Ini masalah relasi sosial dalam ekosistim besar yang kita sebut dunia maya. Sikap ini perlu dijaga karena tidak seorangpun yang mau ‘dibodoh-bodohkan, digoblok-goblokan’. (2) Gunakan Bahasa yang sopan dan hindari kata-kata kasar yang mengandung potensi perdebatan. Itu saja belum cukup ada satu hal lagi yang tak kalah penting yaitu sesuai judul tulisan ini (3) porsi(dosis) sama seperti halnya lainnya bahwa tidak ada segala sesuatu yang berlebihan tidak membawa mudhorat. Begitu pula pemujaan yang dilakukan oleh para fans garis keras terhadap tokoh idolanya. Setiap saat, sepanjang hari, bulan berganti,kalender bertukar, mengabiskan berpuluh-puluh GB kouta internet hanya untuk melakukan pemujaan terhadap tokoh yang disanjungnya. Perilaku seperti ini juga akan menimbulkan rasa eneg bagi orang yang menyaksikan. Segala sesuatu berlebihan (overdosis) juga berdampak buruk dalam hal ini tentu bukan pada pelakunya sendiri tapi lingkungan yang menyaksikannya. Seperti makanan enak sekalipun jika dikonsumsi berlebih bisa membuat muntah.

Kasihan, pemuja seperti ini terkadang sudah tidak terlihat keogirinalitasan dirinya, seakan semua telah tertutup oleh tokoh atau kelompok yang diidolakan. Mulai dari photo profil hingga sikapnya terhadap dinamika sosial-politik terkini, hampir semua seragam. Mereka tergantung kepada tokoh dan kelompok, solidaritasnya tinggi kalau ribut. Seolah-olah mereka tak memiliki pandangan bebas sendiri, tidak memiliki keyakinan pemikiran sendiri.

Mungkin orang-orang seperti ini perlu diperiksa kejiwaannya ; ada pada kegilaan peringkat berapa berdasarkan kamus gila milik Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi. Yang konon menurutnya ada 44 Tingkat Kegilaan.

****

Al Albana, Andalas, 1 Sya’ban 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close