Amien Rais, Muhammadiyah dan Minangkabau

Ini bukan tentang Amien Rais tapi Muhammadiyah, walaupun kita tahu sosok ini sangat kuat melekat pada Muhammadiyah terutama saat reformasi bahkan hingga hari ini. Massa ‘Muhammadiyah Cultural’ mungkin tidak tahu Haedar Nashir-Ketua Muhammadiyah saat ini, tapi mereka pasti masih ingat Amien Rais pernah menjadi ketua Muhammadiyah atau jangan mereka masih beranggapan Amien Ketua Muhammadiyah.

Dulu ketika reformasi bergulir panas, wajah Amien setiap hari mondar-mandir di televisi. Seorang bapak tua, setelah meneguk kopi, lalu menunjuk ke televisi “tuh lihat orang Minang pemberani, seperti Amien Rais” ujarnya. “memang Amien Rais orang Padang Pak?” timpal saya. “Iya, pastilah, Muhammadiyah” jawabnya dengan yakin. Saya tahu Amien Rais bukan orang Minang, walaupun nama belakangnya Rais, nama yang sangat identik dengan Minang. Tapi saya tak ingin merusak kebanggaanya sebagai orang Minang.

Di Kota Padang hampir 80% Masjid jamaah Muhammadiyah, saya rasa di kota-kota lainnya di Minangkabau seperti Bukittinggi, Payakumbuh, Solok juga kurang lebih sama. Saya teringat kembali obrolan dengan bapak di lapau hampir 20 tahun lalu. Saya penasaran kenapa dia begitu yakin bahwa Amien Rais adalah orang Minang hanya berdasarkan Amien ketika itu ketua Muhammadiyah.

Sebagai seorang yang sering penasaran terhadap hal-hal yang tak penting seperti ini, mengantarkan saya untuk mencari tahu hubungan Muhammadiyah dengan Minangkabau. Muhammadiyah didirikan oleh K.H. Ahmad Dahlan di Jogja. Di pulau Jawa pengaruhnya tidak terlalu kuat masih dibelakang Nahdliyin, terutama daerah ‘tapal kuda’. Berbeda sekali dengan di Minangkabau.

Saya pernah membaca sebuah anekdot, ketika seorang pemuda Madura (tak perlu ditanya NU atau bukan) melanjutkan pendidikan ke Jogja. Sampai di Jogja menghubungi ibunya di Madura melalui telepon bahwa ia diterima di Universitas Muhammadiyah Yogya (UMY). Tentu saja ibunya tidak setuju, “kuliah di kampus lain saja terserah asal jangan Muhammadiyah” jawab ibunya. Seminggu kemudia ia menghubungi ibunya lagi mengabarkan bahwa diterima di Universitas Ahmad Dahlan, sang ibu menjawab “bagus itu”. Begitulah stigma Muhammadiyah di kalangan NU kultural kadang masih disamakan dengan Ahmadiyah. Mungkin karena sama-sama berakhiran ‘diyah‘. Konon Amien mengaku salah satu faktor penyebab kekalahannya pada Pilpres 2004 karena ‘baju’ Muhammadiyah kekecilan baginya ketika itu.

Dari tulisan-tulisan Hamka saya mendapatkan hubungan saling silang antara Minangkabau dengan Muhammadiyah. Saya yang naif ini berkesimpulan Muhammadiyah berhutang kepada Minangkabau begitupun sebaliknya Minangkabau berhutang kepada Muhammadiyah, dan semua itu telah lunas dan tuntas.

****

Al Albana, Andalas, 02 Sya’ban 1439

Kategori Historia

Satu tanggapan untuk “Amien Rais, Muhammadiyah dan Minangkabau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close