‘SiPencemooh’ A.A.Navis

Sebulan yang lalu, ketika mampir ke sebuah Toko Alat Tulis Kantor untuk keperluan potokopi, saya melihat buku ini tergeletak penuh debu sepertinya sudah lama tak tersentuh. Saya ambil dengan sebuah buku lainnya Layar Terkembang tulisan Sutan Takdir Alisyahbana. Saya ingat pernah membaca dan memiliki buku ini ketika kelas 2 SLTP. Masih menggunakan ejaan Suwandi belum Ejaan yang disempernakan seperti sekarang, dan sudah hilang sejak lama.

Buka photocopy dengan kualitas yang sangat buruk–tintanya meleber serta kualitas kertas yang tak kalah buruk. Yang lebih parah lagi covernya dari kertas bekas (cover tabloid Anita). Beberapa halaman loncat dan terbalik serta beberapa halaman yang hilang. Pantas saja harganya Rp 5.000.

—-

Setiap kali mendengar nama A.A.Navis, yang terlintas di kepala kita adalah ‘Robohnya Surau Kami’, sebuah cerpen satire yang fenomenal. ‘Pencemooh nomor wahid’, ia dijuluki karena gaya kepenulisan dan tokoh rekaan dalam tulisannya selalu mengktritisi keadaan sosial di lingkungannya.

Pada Robohnya Surau Kami, ia menyindir keras kehidupan beragama. Soerang kakek tua yang hanya memikirkan kesholehan individual abai terhadap Tauhid Sosial. Hampir seluruh tulisannya adalah kritik sosial. Mengalir apa adanya, membangun kesadaran setiap pribadi agar hidup lebih bermakna.

Pada suatu kesempatan ia menyebutkan bahwa menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, namun jika diberi kesempatan memilih ia akan menjadi penguasa untuk menghabisi para kuruptor, walaupun resikonya, mungkin dalam waktu tiga bulan, ia lebih dahulu mati dihabisi kuruptor. Seperti itulah kegelisahannya menyaksikan negeri ini gerogoti koruptor.

Navis, memang unik dan berbeda dari sastrawan lainnya. Jika penulis pada umumnya sebutlah Hamka, Pram, Marah Rusli, STA atau Nur Sutan Iskandar memerlukan jarak, baik itu geografis, psikologis dan intelektual untuk menuliskan tentang kampung halaman, namun berbeda dengan Navis, ia tak pernah meninggalkan kampung halaman dalam waktu yang panjang (merantau) , namun ia dapat bercerita dengan enak dan enteng tentang teman-teman, tetangga dan lingkungannya.

Ini memang sedikit aneh. Jarak itu penting dalam menulis tentang kampung halaman dan kehidupan masa kecil. Sama seperti juru photo yang membutuhkan jarak dengan objek yang akan diphoto memerlukan sedikit jarak, jika tidak–lensa menempel pada objek–maka hasilnya hitam-pekat dan gelap. Namun berbeda Navis. Ia yang bisa melakukan dengan cemerlang. Mungkin karena ia mendapatkan pendidikan di sekolah yang keren, INS Kayu Tanam pada tahun 40-an dan punya banyak uang untuk membeli banyak buku ketika itu.

****

Al Albana, Andalas 4 Sya’ban 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close