Kemarin, Dahulu dan Esok

Kemarin, selepas dari bermain air (karena saya tidak bisa berenang meski sering ke kolam renang) di ABG Water Park Lubuak Minturun. Kami mampir ke Pondok Pesantren Ar Risalah yang kebetulan satu arah dengan perjalanan pulang.

Sebenarnya isteri sudah sering bercerita tentang Pesantren ini. Salah seorang staff pengajarnya Ustadz Firman L.C adalah ustaz pembimbing manasik haji yang dari Kementrian Agama Kota Padang, ketika dia berangkat haji tujuh tahun lalu. Ia sangat tertarik dengan tausiah Ustaz Firman L.C. Namun saya belum pernah menanggapi tentang rencananya melanjutkan putera kami di Pesantren itu, selepas MI nantinya.

Saya pikir Pesantren Ar Risalah sama seperti Pesantren lainnya. Pesantren modern yang membebani santri dengan pelajaran-pelajaran sekolah umum, lalu santri disediakan asrama, untuk makan ada catering dan pakaian kotor diserahkan ke loundry. Agar tak terkesan ‘ndeso’ dan kekinian mereka mengganti istilah Pesantren dengan Boarding School. Sedangkan dalam benak saya pesantren itu mesti di pinggir sungai, ada kolam ikan, lahan yang untuk bercocok tanam dan berternak, ada lapangan yang luas untuk sarana olahraga. Jika putera kami belajar di pesantren mesti seperti itu jawab saya, jika Pesantren Modern seperti Kak Puput (Keponakan saya di Boarding Scholl Muhammadiyah Klaten) mendingan sekolah umum saja.

Selain mendapatkan bekal ilmu agama yang lebih mendalam alasan saya memilih pesantren untuk pendidikan anak agar anak juga dibekali kemampuan dasar seperti mencuci, memasak, membersihkan diri dan lingkungan, serta mencintai dan menjaga ekosistim dan alam. Semua itu ada di pesantren (tradisional). Karena disana ilmu adalah amal sedangkan di sekolah umumnya, ilmu adalah pengetahuan yang dipadatkan lagi pada selembar kertas salam bentuk numerik.

Kehidupan secara komunal selama di pesantren melatih kemampuan santri dalam bersosialisasi. Sebagian besar pesantren melarang santri menggunakan ponsel, itulah penyebabnya santri dekat dengan buku dan dunia literasi. Dari pada bengong santri lebih memilih membaca buku dan menulis. Saya sering menemukan blog yang bagus ternyata ditulis oleh alumni pesantren. Selain mendapatkan ilmu agama secara komprehensif dan mendalam, hal seperti ini (kedekatan dengan literasi) membuat saya lebih memilih (meskipun sebatas rencana) mendidik putera di Pesantren daripada sekolah umum.

Dulu, dahulu sekali, ketika putera kami masih dalam kandungan, saya punya cita-cita dan harapan yang tinggi untuknya. Saya ingin ia mendapatkan ilmu agama yang jauh melebihi saya. Saya berharap ia mendapat pendidikan Islam hingga Al Azhar. Pada hari ketujuh kelahirannya, kami menyembelih dua ekor kambing untuk aqikahnya. Bagi saya Pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu yang berorientasi pengatahuan. Yang dimaksud dengan ilmu adalah amal. Merubah laku, bilang ke alm ibu saya “mak, tolong do’akan agar dia dapat mengaji sampai ke Mekkah”. Di hari aqikahnya itu. Ibu saya tentu senang sekali, seakan harapannya kepada saya akan dituntaskan oleh cucunya. Dulu ketika kelas enam SD, ibu dan nenek meminta saya melanjutkan pendidikan di Surau saja. Mengaji berbagai kitab dengan sistim halaqoh(tradisional) agar bisa menjadi Tuangku (ustaz). Dan saya menolakya.

Waktu bergulir. Saat dia bayi, saya membaca Trilogi Ahmad Fuadi ; Negeri Lima Menara, Ranah Tiga Warna dan Rantau Satu Muara. Gambaran dalam novel itu menyesakan kepala saya. Sangat yakin saya berkata kepada isteri “anak kita mesti masuk Darussalam Gontor”.

Ia (putera kami) tumbuh dan berkembang. Kami bermain bersama, berdiskusi alot dan tak jarang pula bertengkar hebat. Semua itu semakin mengakrabkan kami. Hubungan kami tidak sekadar Ayah-Anak tapi lebih, teman akrab, mursyid-murid bahkan juga kompetitor dalam merebut kasih sayang bundanya.

Menjelang ia masuk SD, saya mulai goyah. Sanggupkah saya terpisah dengan dia?, melepaskannya pergi ke ujung timur pulau jawa, Pondok Pesantren Darussalam Gontor, Ponorogo, seperti yang sangat saya inginkan beberapa tahun sebelumnya.

Saya sadar, mental saya tidak sekuat ibu Imam Syaf’i yang tega untuk tidak membukakan pintu saat Imam Syaf’i pulang ke Gaza tanpa dimintanya, “Anakku Syaf’i sedang belajar di Madinah ketika ia tahu anaknya Imam Syaf’i mengetuk pintu. Menyadari saya tak kuat berpisah jauh darinnya,maka dari itu saya berdamai dengan harapan-harapan. Solusinya Thawalib Padang Panjang.

Membaca karya-karya Hamka mengantarkan saya mengenali sejarah panjang dan berliku Pondok Pesantren Thawalib ini yang awalnya bernama Sumatera Thawalib. Didirikan oleh H. Abdul Karim Amrullah–Ayah Buya Hamka pada tahun 1911. Walaupun belum pernah berkunjung kesana, dari sejarah panjang yang saya baca, sekolah ini luar biasa, pada masa lalu. Murid-muridnya tidak hanya menjadi mubaligh handal, tapi juga diplomat ulung, saudagar sukses, birokrat, direktur BUMN, wartawan hebat dengan menerbitkan surat khabar. Bahkan H. Datuak Batuah yang dibuang ke Digul dan Zaini Dahlan merupakan alumni terbaik Sumatera Thawalib.

Saya membayangkan ruang-ruang diskusi yang riuh, singa-singa podium yang tangguh dalam mempertahankan pendapatnya. Saling-serang dalam berdepat. Tentunya debat intelektual bukan debat moral seperti di media sosial saat ini. Saya menangkapnya guru-guru Sumatera Thawalib pada tempo doleloe apalagi Haji Rasul memberikan kebebasan berfikir kepada murid. Mendidik murid berpikir kritis itulah yang ditekankan. Sehingga murid-murid tidak mengekor dan taklid buta kepada guru. Bahkan Ahmadiyah dan Komunis masuk ke Minangkabau dibawa oleh Alumni Sumatera Thawalib. Ketika ditanya tentang H. Datuak Batuah dan murid-muridnya yang terpapar pemikiran kiri , Haji Rasul menjawab “seorang guru yang hebat mesti menghasilkan murid yang lebih hebat darinya, sedangkan seorang murid yang hebat harus mengakui siapa gurunya”. Melatih murid berfikir kritis inilah yang jarang saya temukan di sekolah umum, sehingga semua murid terlihat seakan-akan sama, seperti seragam mereka. Takut menjadi berbeda.

Sejak saat itu, saya mantap ingin mengantarkan putera kami untuk sekolah di Thawalib. Walaupun isteri meledek “itukan gambaran pada zaman dahulu, mereka (para guru) sudah tertimbun tanah, apakah sekarang masih seperti itu?”

Sejak mampir dan berkeliling di areal Pesantren Ar Risalah kemarin. Areal yang lumayan luas, lokasi cukup jauh dari keramaian, udara yang sedikit lebih sejuk karena di areal perbukitan masih banyak pohon-pohon. Bangunan-bangunan pesantren dengan topografi bertingkat-tingkat. Di bagian belakang menuju kaki bukit terlihat areal bercocok tanam yang cukup luas dapat ditanani aneka sayur-sayuran. Sejak itu, saya merasa Padang Panjang terlalu jauh. Thawalib bagus tapi bagi saya terlalu jauh dan berat. Saya merasa tidak kuat jika bertemu anak hanya sebulan sekali. Seakan-akan jarak antara Padang- Padang Panjang bertambah setelah kunjungan ke Ar Risalah bulan lalu.

Saya pikir kalau di Ar Risalah, saya bisa bertemu dengan anak setiap minggu. Setiap jum’at saya bisa sholat di Masjid areal Pesantren dan bisa bertemu dengan anak.

Semoga, berjalan waktu saya semakin mantap dan tak goyah lagi. Yang saya cemaskan saat dia benar siap, saya yang tidak kuat untuk jauh darinya, sehingga akhirya masuk sekolah umum.

****

((Al Albana, Sya’ban 1439))

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close