Politisasi Masjid

Hari-hari belakangan, Frasa ‘Politisasi Masjid’ ramai diperbincangkan. Agama dan Politik adalah dua hal yang paling seksi untuk menjadi bahan obrolan. Mulai dari warung kopi hingga dunia maya tanpa sekat ini. Disikapi pro-kontra dengan gegap gempita oleh warganet tentu saja dengan alasan masing-masing pula.

Namun sebelum melangkah lebih jauh, ada baiknya kita sepakati dulu, apa yang dimaksud dengan Politisasi Masjid?, dengan begitu jelas bagian yang kita sepakati atau bagian mana yang kita tolak.

Islam mengatur seluruh aktifitas pemeluknya sejak dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai dari buang hajat, memasang alas kaki, makan hingga pernikahan dan kematiaan apalagi dalam urusan negara (politik). Jadi cita-cita yang utopis memisahkan Islam dengan urusan negara (politik). Tapi tunggu dulu politik Islam seperti apa?

Begitu pula halnya dengan Masjid. Pada zaman Rasulullah hingga Khulafaur Rasyidin. Mereka tidak memiliki istana seperti Imperium besar pada masa itu(Persia dan Romawi) . Jadi segala hal permasalahan tidak hanya soal agama namun juga negara (politik) dibahas di Masjid. Perihal ekononi, perjanjian damai hingga strategi perang dirumuskan di Masjid.

Dari gambaran di atas, jelas menggunakan Masjid dalam urusan politik boleh. Dan memang itulah fungsi Masjid selain tempat ibadah. Tapi urusan politik yang dibahas bermuara untuk kepentingan umat, bukan kepentingan golongan, kelompok, apalagi kepentingan partai dan tokoh politik tertentu. Misalnya khothib mengajak umat untuk memerangi kurupsi, mengajak umat untuk memerangi ketidakadilan, memilih pemimpin yang adil berdasarkan kreteria dalam Islam tanpa menunjuk sosok, memberdayakan ekonomi umat, edukasi dan proteksi umat dari penyerobotan lahan oleh korporasi nakal. Inilah yang di maksud dengan politisasi masjid untuk hal yang mulia (high politic).

Namun juga ada sebaliknya mimbar masjid digunakan untuk hal tercela (low Politic) yang bertujuan untuk mendapatkan kekuasaan , kursi di legislatif, mendapatkan jatah di eksekutif, atau untuk mempertahankan kekuasaan oleh sekelompok dan golongan tertentu. Ini jelas hal yang kotor tidak boleh memasuki Masjid yang suci.

Pada awal berdiri Daulah Umayyah pernah melakukan hal seperti ini. Mimbar Masjid digunakan untuk menghujat dan mencela Ali bin Abi Thalib dan keturunannya. Hal ini dilakukan karena Ali lawan potik dari Muawiyah (Daulah Umayyah). Padahal keduanya (Ali & Muawiyah) Sahabat dan Kerabat Rasulullah. Tradisi ini baru berhenti setelah dihapuskan oleh Umar bin Abdul Azis naik tahta. Khalifah ke-8 dari Daulah Umayyah yang wafat akibat diracun oleh pembantunya.

Jadi menggunakan masjid sebagai sarana berpolitik yang bermuara untuk kepentingan umat adalah wajar, yang kurang ajar adalah mereka yang menggunakan masjid untuk kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Ini yang mesti kita tolak.

****

Al Albana, Andalas 11 Sya’ban 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close