Sebelum Facebook Membusuk

Tanpa sadar, saya ternyata memang lebih sering berada di tengah-tengah, di antara pro dan kontra dalam berbagai hal, termasuk dalam wacana penutup Facebook.

Padahal Facebook adalah media sosial satu-satunya yang masih setia saya gunakan hingga hari ini. Dan facebook pulalah media sosial yang paling awal saya gunakan. Kemarin–2 Mai–Mark mengingatkan dan berterima kasih atas ocehan-ocehan yang tak penting yang saya tuliskan di facebook miliknya ini sejak 9 tahun silam. Tahun 2009 saya pertama kali menggunakan Facebook. Saya termasuk pengguna (hiper) aktif Facebook sejak tiga tahun belakangan sejak berhenti memburuh sehingga punya waktu lebih luang di dunia maya. Namun saat mendengar wacana penutupan Facebook di Indonesia reaksi saya normal saja. “Apa yang terbaik menurut pemegang kebijakan sajalah”, jawab saya ketika ditanya perihal penutupan Facebook.

Saya juga pernah menggunakan media sosial lainnya seperti Instagram, Twiter dan Path. Ketiga aplikasi itu tidak bertahan lama di gawai saya dan telah di uninstall.

Sejak gagal menjadi Pramugara dan Bintang Iklan saya sadar wajah dan fisik saya tidak tidak cocok untuk bergentayangan di Instagram. Sedangkan saya juga bukanlah Traveler yang berburu objek wisata dan aneka kuliner yang instagramble setiap akhir pekan. Jadi apa yang bisa saya bagikan di Intagram. Sedangkan untuk menikmati histori instagram yang dibagikan lingkaran pertemanan, kemampuan visual sama buruknya dengan audio saya, singkatnya saya tak terlalu bisa menikmati gambar. Sehingga tidak dapat menikmati wajah yang kinclong-kinclong dan destinasi wisata rancak serta makanan yang enak yang dibagikan oleh lingkaran pertemanan. Sayang dan mubazirkan. Dengan alasan ini aplikasi Istagram saya copot dari gawai yang saya miliki.

Lain lagi dengan Twiter, aplikasi ini lumayan lama di gawai saya, namun sangat jarang saya log in unggahan kurang dari 50 kali. Alasannya pencopotan aplikasi ini ada tiga; pertama(1) saya tidak familiar dengan fitur-fitur yang disediakan, kedua (2) langgamnya terlalu rock. Keras. Isinya politisi benaran sahut-sahutan. Bukan aktifis jempol seperti saya dan sebagian anda. Serta yang ketiga (3) kharakter dibatasi, sehingga tidak dapat menulis berpanjang-panjang seperti ini.

Sedangkan Path saya hanya mengunakan media sosial ini juga baru pertengahan tahun lalu, kira-kira tiga bulan kemudian saya copot aplikasinya dari gawai. Saya juga tidak tahu alasannya kenapa tidak menyukai media sosial yang sebagian (<1 %) sahamnya milik Bakrie Telecom.

Kembali ke Facebook. Awal-awal bersosial media, postingan juga masih sederhana dan sangat biasa belum dilengkapi dengan fitur-fitur semenarik saat ini. Lagi pula Mark belum se-agresif saat ini dengan pertanyaan aktraktif ; apa yang sedang anda pikirkan?, ada yang ingin anda bagikan. Seingat saya dulu di berada Mark tidak bertanya tapi seperti ini “Al Albana is “; …..,. Jika postingan yang tahun jebot ditampilkan pada fitur on this day, terkadang saya tersenyum malu melihat postingan-postingan tempoe doeloe. Ingin rasanya saya hapus namun saya sadar, biarlah postingan lama itu menjadi artefak sejarah, sehingga dengan melihat kenangan itu kita bisa melihat gradasi pemikiran dan cara pandang dari masa ke masa.

Melalui facebook saya menemukan banyak gagasan dengan pelbagai sudut pandang. Dan melalui facebook pula saya berlatih dan belajar menuliskan gagasan dan kesesatan pemikiran. Bagi saya yang terdapat dalam facebook tidaklah hitam-putih, benar-salah, kita-mereka. Namun hanya untuk memperkaya lautan khazanah pengetahuan, memperluas sudut pandang. Karena Facebook adalah media sosial yang cenderung kepada opini bukan news. Sehingga kita tidak dapat menghakimi pendapat orang lain. Bagi saya hanya dengan memperbanyak membaca kita dapat memperluas sudut pandang, sehingga dengannya memaksa kita mengunyah kerasnya ego dan mengakui keberadaan dan kebenaran yang ada di luar diri kita.

Dan ini yang terpenting. Sebagai seorang yang senang bernostalgia, saya ingin mengabadikan setiap jejak langkah dalam bingkai kata-kata terutama momen-momen kebersamaan dengan keluarga tercinta dan Facebook milik Mark ini menyediakan berandanya.

Tentu saja tidak bijak jika saya hanya menyampaikan pujian kepada Facebook ini. Jika diakumulasi entah sudah berapa ribu jam yang saya menghabiskan waktu dengan menatap linimasa facebook ini. Membuang waktu percuma dengan membaca omong kosong penuh kemaksiatan yang jika ditimbang tidak kalah bobotnya dengan mamfaat yang saya dapatkan. Kesadaran seperti itulah yang membuat saya tidak tegang mendengar wacana penutupan facebook.

Tapi seandainya pemangku kebijakan setelah mengitung secara matang tetap menutup facebook maka izinkanlah saya atas satu permintaan. Silakan facebook diblokir untuk unggahan-ungahan baru, namun izinkanlah kami untuk tetap dapat log in dan sekadar membuka unggahan-unggahan lama. Sebab yang kami takutkan bukan sepinya masa depan tanpa facebook tapi lenyapnya kepingan masa lalu bersama facebook.

****

Al Albana, Andalas 17 Sya’ban 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close