Kemarin dan Film Infinity War Yang Tak Terselesaikan

Sampai di rumah pukul 17.40, bergegas masuk kamar mandi dan segera bersalin. Kamu sudah mandi dan berganti pakaian terlebih dahulu. Sesuai rencana kita akan menonton film Infinity War. Tidak ingin terulang tragedi kegagalan menonton film Ayat-Ayat Cinta 2, bunda telah memesan tiga karcis terlebih dahulu siang tadi. Dari karcis yang dipesan menunjukan jadwal tayang Infinity War di studio 4 pukul 18.35, kita kebagian nomor bangku B 9,10 dan 11 baris kedua dari atas.

Saat akan berangkat Kak Citra datang, meminta bantuan untuk memasang bohlam di ruang praktek yang telah padan sejak kemarin. Mendapati bohlam pengganti belum ada, saya lansung meluncur ke toko yang menjual alat-alat listrik dan membawa dua buah bohlam untuk dipasang. Sepertinya jadwal yang sudah direncanakan sejak pagi tadi sedikit berubah yang mengakibatkan terlambat sampai di studio.

Dalam shcedule kita berangkat dari rumah pukul 18.00, lansung menuju mushola Transmart Lt.3 untuk menunggu azan dan menunaikan sholat magrib. Namun saat kita meninggalkan rumah saat jarum jam sudah menunjukan pukul 18.15, baru berjalan beberapa ratus meter suara azan berkumandang. Kita putuskan berbelok ke sebuah masjid di daerah Berok-Gunung Pangilun untuk menunaikan kewajiban sholat magrib.

Saat menghempaskan pantat di bangku studio jam menunjukan pukul 18.47, saat Thanos menghabisi Loki dan Thor . Artinya jika film mulai tayang pukul 18.35 kita telah terlambat 12 menit.

Sajak menghentakan pantat di bangku kamu selalu mengambil tangan saya untuk menutupi matamu, karena takut menyaksikan kekejaman Thanos dalam menghabisi para avengers lawan-lawannya. Terlebih lagi melihat wajah Ebony Maw–Penyihir Jahat–antek Thanos yang paling pintar. “Bagaimana ini?, kamu yang mengikuti kartun Avenger selama ini, sehingga hafal seluruh nama superhero dan kekuatannya. Ayah kan tidak tahu. Sekarang kamu takut dan menutup mata, terus ayah tanya sama siapa?”, ujar saya untuk menumbuhkan keberaniannya. “Saya ngantuk, lapar dan capek” jawabmu untuk menyembunyikan rasa takut. Kamu masih malu mengakui ketakutan tapi tidak berdaya mengendalikan gerak tubuh yang menunjukan bahwa kamu sedang ketakutan. Bundamu paham lalu merangkul dan memindahkan kamu kedalam pelukannya, lalu membuka snack dan menyuapi. Sedikit agak lega namun matamu lebih sering ditutupi daripada dibuka.

Di layar studio baku hantam semakin keras dan sengit. Thanos dan anteknya seperti malaikat maut pencabut nyawa mendatangi planet-planet dalam mencapai tujuannya. Saya yang dari dulu memang tidak pernah tertarik dengan film bergenre fiksi ilmiah seperti ini tidak dapat mengikuti alur ceritanya.

Saya memang suka fiksi tapi tidak untuk fiksi ilmiah. Lagi pula kemampuan otak saya tak mencukupi mencerna film-film berat seperti ini. Otak saya hanya mampu cerna film-film drama, komedi dan kolosal. Saya suka drama musikal seperti film Rhoma Irama, saya tertarik film kolosal yang berhubungan dengan sejarah, saya menikmati film drama keluarga. Film ringan dan enteng yang tidak meninggalkan beban di kepala dengan pertanyaan-pertanyan setelah menontonnya.

Inilah pertama kali saya datang ke bioskop untuk menonton film bergenre fiksi ilmiah yang selama ini saya kukuh mempertahankan diri untuk tidak menjadi bagian korban cuci otak oleh Marvel Studio Avenger dengan propaganda dan promosi yang gencar luar biasa, sehingga berhasil menjadikan film produksi Marvel sebagai budaya populer, menjadi lifestyle generasi muda. Seakan-akan bagi generasi jaman now merasa belum menjadi penghuni planet bumi yang kaffah sebelum mengikuti seluruh film-film produksi Marvel. Itulah yang saya pertahankan selama ini ; untuk tidak menambah akumulasi angka penonton serial Marvel. Bertahan di tengah upaya penyeragaman selera film oleh produser pemburu dolar. Seorang snob film akan menyebut orang-orang yang di antrian panjang Infinity war sebagai sub spesies manusia. Namun kemarin saya kalah. “Sekuat-kuatnya ayah akhirnya jebol juga demi mengikuti keinginan anak untuk menonton film Avenger”, ujar saya saat menyanggupi permintaanmu beberapa hari yang lalu.

Empat puluh lima menit berlalu, kamu masih ketakutan dan menutup rapat kedua mata dalam pelukan bunda. “kalau memang takut banget, ayo kita pulang”, saya mengajak. “Iya” jawabmu cepat. Saya berdiri lalu membereskan barang-barang dan kita pun meninggalkan studio saat baku hantam semakin keras dan alur cerita semakin rumit.

Sebagai seorang yang juga penakut semasa kecil saya dapat merasakan gejolak ketakutanmu. Saya tidak ingin film ini mengakibat traumatik bagimu. Di perjalanan pulang kita mampir untuk membeli martabak. Saya tanyakan lagi “menyesal nggak?, kita menonton tidak sampai selesai?”, “takut sih, tapi ingin lanjut nonton juga” jawabmu. “Bagaimana sih?, besok kalau kita ulang nonton lagi berani?”, “berani, ehh nggak usah” jawabmu sambil mengunyah martabak krispi.

Tadi pagi bundamu cerita bahwa semalan kamu terbangun dan memeluk bunda kencang sekali ekspresi wajahmu seperti orang ketakutan. Lama baru baru kamu tertidur lagi setelah dipijit dan digosok-gosok kepalanya. Bahkan kamu sempat bertanya “bun, pagi masih lama?” dengan ekspresi wajah yang ketakutan.

Setelah kamu bangun saya tanya “kamu semalam mimpi?”, “tidak, tapi saat terbangun tengah malam saya terbayang-bayang terus wajah anak buah Thanos yang seram itu”.

Sudahlah Nak!, sama seperti Ayahmu hatimu lembut, tidak usah dipaksakan untuk mendengarkan hantaman bersuara keras, wajah-wajah seram yang menakutkan, perkelahian tak terperi. Bahkan melihat mata melotot Tetty Liz Indriati pada sinentron di televisi kamu lansung suruh ganti saluran.

Semoga nanti ada film-film Rhoma Irama reborn. Bang Rhoma memacu kuda di padang savana yang luas, bermain gitar di pinggir telaga.

****

Al Albana, Andalas 18 Sya’ban 1439.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close