Arah Kiblat

Saya senang, masjid semakin menjamur terutama di kota-kota besar. Pertumbuhan masjid berbanding lurus dengan laju pertambahan penduduk. Di Pusat-pusat perbelanjaan, Mal, bahkan pusat perkantoran ada saja masjid baru berdiri.

Dulu ketika masih menetap di Batavia. Di kantor saya dulu, sebelumnya hanya mushala kecil yang terletak nyempil di salah satu pojok. Sesuai dengan pertumbuhan jumlah karyawan dan saat mendirikan gedung baru di sebelahnya dilengkapi dengan Masjid yang lumayan luas dan memadai untuk kegiatan rohani karyawan. Saya bersyukur karena kajian rutin setip senin dan kamis ba’da zuhur di Masjid Al Hikmah nama Masjid itu yang terletak di Basement banyak mempengaruhi perjalanan spritual saya. Yang sebelumnya sedikit agak radikal.

Di banyak gedung perkantoran pengelola gedung memamfaatkan areal parkir dan ruang serbaguna sebagai venue sholat jum’at. Berbekal mimbar dan karpet jadilah sidang sholat jum’at.

Saya pernah sholat jum’at di Blok F pasar Tanah Abang sekitar lima tahun lalu, karena keasyikan berkeliling baru sadar ternyata hari Jum’at. Sesegera mungkin merapat ke arah suara azan, namun saya tidak menemukan masjid atau melihat kubah dan wajah khotib yang sedang berkhutbah. Hanya suara khotib dan jamaah yang telah duduk di los-los pasar yang di alas sebagian dengan sajadah namun lebih banyak dengan koran bekas. Arah kiblat mereka pun tidak seragan. Kebingungan menentukan arah kiblat saya ikuti saja sesuai dengan jamaah yang terdekat dengan posisi saya duduk. Namun jika saya melayangkan pandangan agak jauh ke kelompok jamaah lain arah kiblatnya berbeda dengan kelompok saya. Saya percaya masing-masing kelompok tidak melihat masjid hanya mengira-ngira arah kiblat. Jika ditarik garis imajiner antara jamaah kelompok saya dengan jamaah kelompok yang satu lagi maka posisi kami akan bersilangan. Saya tidak tahu mana yang benar. Bisa jadi jamaah kelompok saya menghadap ke Ethopia sedangkan sekolompok jamaah lain menghadap ke Mongolia. Ini kondisi darurat dan lagi pula saya belum punya android kala itu untuk mengunduh aneka aplikasi yang membantu kita menentukan arah kiblat.

Sejak pindah ke Padang saya rutin sholat jum’at di sebuah masjid yang megah dan baru diresmikan oleh Jusuf Kalla sebagai wakil dari pemerintah sejak setahun yang lalu. Saya suka masjid ini selain arsitek yang indah serta fasilitas yang mewah. Di masjid ini sepertinya pihak pengelola menyerap semua aliran-aliran dalam islam, sejauh yang tidak di fatwakan sesat oleh MUI. Meskipun dalam menyampaikan Khutbah Jum’at, khotib memegang tongkat, namun ustaz-ustaz yang didatangkan untuk mengisi kajian atau tabligh akbar beraneka ragam. Mulai dari ustaz selebritis yang sering wara-wiri di televisi sampai ustaz yang dituduh berpaham radikal tentu saja juga ustaz Islam Tradisional (Nusantara). Bagi saya tak mengapa. Ini yang membuat saya suka masjid ini.

Namun sejak dua minggu belakangan saya dikasih tahu bahwa arah kiblat di masjid itu sedikit keliru. Pihak pengelola dan pemilik yayasan tidak bersedia merubah arah karpet mengikuti arah kiblat yang sesuai. Merusak estetika dan keindahan Masjid alasannya.

Memang mesjid ini bukan milik pemda dan juga bukan hasil swadaya umat. Walaupun dibuka untuk umum namun biaya pembangunan dan operasional masjid sepenuhnya ditanggung oleh yayasan. Tidak ada kotak infak dalam masjid. Kalaupun sekali-kali ada kotak infak atau penggalangan dana itu dari masjid dan yayasan lain.

Mengenai arah kiblat masjid ini sedikit membingungkan. Saya pernah dikasih tahu bahwa setiap memberikan izin pendirian masjid, pengelola harus menyerahkan sekurangnya ada 40 photocopy KTP dan tanda tangan dari calon jamaah selainnya itu kementrian agama akan melakukan pengecekan terhadap arah kiblat masjid yang akan didirikan. Tentunya telah melewati prosedur seperti itu.

Mengenai arah kiblat yang saat sholat Jum’at di Blok F Tanah Abang saya bisa pahami dan menerimanya karena kondisi darurat dan pada masa itu penggunaan android belum seperti saat ini. Kalau di Masjid ini saya sedikit susah menerima pembenaran “yang penting niat”.

****

Al Albana, 21 Sya’ban 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close