Keik Marmer

Semalan saya diberi sepotong keik(penulisan untuk cake sesuai KBBI). Iya sepotek kecil, seperti tester aneka makanan di yang ditawarkan oleh SPG di Mall. Dan saya lupa memuji kelezatannya. Bukan karena diberi terlalu sedikit, atau tidak enak, tapi memang saya sengaja untuk tidak memuji saat itu karena kata-kata lisan tidak tidak mencukupi untuk memuji rasanya. Maka untuk itulah saya menuliskan disini.

Dan saya penasaran kenapa dikasih hanya satu potekan kecil, rasa penasaran mengantarkan saya merasa seperti Rudy Kurniawan–ahli wine asal Indonesia yang terpidana di Amerika– dimana jaminan keorisinalitas dan titimangsa produksi sebotol wine dipertaruhkan kepada keahlianya. Tentu saja bukan dalam perkara wine yang haram itu, tapi soal keik dan aneka kuliner lainnya dia mempertaruhkannya kepada saya. “Rasamu adalah rasaku”, anggap saja seperti itu dalam benaknya. Alasannya saya sering diminta mencicipi rasa (garam, asem, pedas, manis dan lainnya) masakan yang tengah dimasaknya terutama saat dia puasa.

Tadi pagi sebelum berangkat kami ngobrol lagi tentang keik. Saya juga belum memuji hasil mahakaryanya. Saya yang cenderung sok tahu dan sering sinis terhadap yang namanya sekolah-sekolahan dan kursus-kursusan. Saya bilang begini “sebetulnya tidak perlu sekolah atau kursus membuat kue, yang perlu dipelajari dan dikuasai pengetahuan dasar tentang bahan-bahan. Mulai dari kegunaan, sifat-sifat bahan terhadap air dan suhu, perubahan warna dan sebagainya, hingga bahan alternatif. Selanjutnya hanya keberanian dan percaya diri berekpresimen dengan bantuan mbah google dan eyang youtube. Trial and eror itu itu kuncinya”, “justeru pengetahuan dasar tentang bahan yang diajarkan di tempat kursus”, timpalnya. “Oh, begitu kirain kayak di buku-buku aneka resep, kita lansung praktek tanpa pengetahuan dasar tentang bahan.

Obrolan selanjutnya tentang besaran profit margin dari usaha kue. “Bayangkan yah, kira-kira keik yang kemarin jika dihitung modal bahannya cuma Rp 20.000-25.000 sedangkan harga jual di pasaran berkisar Rp 45.000-50.000 sedangkan di hoya dijual dengan harga Rp 110.000”, ia menjelaskan dengan semangat. Saya tak perlu mengafirmasi dengan mengambil contoh kekayaan dan kesuksesan Farah Quin dan Barapati Rajawane karena keahliaanya membuat aneka kue. Saya belum melakukan riset berapa kekayaan mereka. Tempo hari ketika berkunjung ke Ubud, adik saya menunjuk salah satu villa yang mewah dengan sewa puluhan juta semalam. Melihat bentuknya tidak terlalu mencolok dan berbeda dengan villa yang berada dilokasi sekutar, “Keistimewaannya apa?” tanya saya penasaran. “Tamu bisa meminta Farah Quin sebagai koki” jelasnya. Begitulah para pengelola villa memanjakan mata dengan lanskap yang asri dan indah serta memanjakan lidah (selera) untuk mengeruk kantong para tamu yang bingung menghabiskan uangnya.

Kalau soal rasa, ini hal yang paling sulit dijelaskan dengan kata-kata. Anak saya sering bertanya bagaimana rasanya setiap kali saya menawarkan makanan yang tidak disukainya (karena tidak berani mencicip). “Susahnya nak menjelaskan tentang rasa kecuali dengan kata-kata normatif seperti uenak, lezato, lazis, makyus dan semua kata-kata itu tidak akan menjawab penasaranmu sebelum berani mencoba”.

Dan karena dikasih terlalu sedikit, sedangkan rasanya terlalu ueenak, saya sumbringah dan bergembira ria ketika mendengar bahwa koki ATM akan membuat lagi siang ini. Tentu saja saya saya ingin menyembunyikan khabar gembira ini. Bagi kalian (kaum ibu) yang penasaran dan ingin mencoba sendiri membuat keik ini di rumah silakan minta resepnya. Tapi yang tidak punya waktu alias super sibuk silakan di order!. Tentu bukan kepada saya, silakan hubungi ‘Dapur Bunda Alwi’. Saya cuma tukang berbagi khabar gembira saja yang dijanjikan minum es durian ganti nan lamo setiap kali orderan 10 loyang dan kelipatannya.

****

Al Albana, Andalas, 23 Sya’ban 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close