Hilal

Muhammadiyah, berdasarkan metoda hisab menetapkan 1 Ramadhan 1439 bertepatan dengan Kamis, 17 Mei 2018. Sedangkan pemerintah melalui Kementrian Agama akan mengadakan sidang isbat sore ini dalam rangka penetapan 1 Ramadhon. Dengan menggundang perwakilan seluruh ormas islam Kementrian Agama menggunakan kombinasi hisab dan rukhyat hilal dalam penentuan awal Ramadhan. “Berpuasalah (menetapkan 1 Ramadhon) kamu dengan melihat bulan dan berbukalah kamu (menetapkan 1 Syawal) dengan melihat bulan, jika hilal tertutup awan maka genapkanlah bilangan Sya’ban 30 hari)”

Dengan metode rukhyat hilal yang digunakan Kementrian Agama akan ada dua kemungkinan;
(1) Hilal (bulan sabit) terlihat oleh seseorang dan/ atau beberapa orang di satu titik dan /atau beberapa titik. Setelah saksi mata bersumpah untuk menyatakan bahwa benar-benar telah melihat hilal, maka pihak otoritas (Kementrian Agama) akan mengumumkan bahwa awal puasa (1 Ramadhon) jatuh pada Rabu, 16 Mei 2018.
(2) Hilal tidak terlihat dan/atau tak seorangpun yang berani disumpah bahwa telah melihat hilal. Artinya jika ada orang yang mengaku telah melihat hilal tapi tidak berani bersumpah, maka kesaksiaannya tidak diterima. Maka Kementrian Agama menetapkan umur Sya’ban 30 hari, sehingga 1 Ramadhon (awal puasa) baru jatuh pada Kamis 17 Mei 2017. “Jika hilal tidak terlihat maka sempurnakan bilangan Sya’ban 30 hari”, begitulah dalilnya.

Jika sore nanti hilal terlihat maka inilah pertama kali sejak reformasi Pemerintah (Kementrian Agama) lebih dahulu berpuasa daripada Muhammadiyah.

Dalam banyak hal saya mengikuti tata cara dalam beribadah mengikuti Muhammadiyah misalnya subuh tanpa qunut, begitu pula zikir setelah sholat, jumlah rakaat taraweh. Namun dalam hal penetapkan awal puasa(1 Ramadhon) dan berhari raya (1 Syawal) selama ini saya mengikuti Pemerintah. Pernah beberapa tahun lalu Lebaran (1 Syawal) Muhammadiyah lebih dahulu dari Pemerintah, saat itu saya sedang lebaran di Padang. Hampir seluruh Masjid sudah melakukan Sholat Id, termasuk jalan dua jalur yang percis di depan rumah yang biasa digunakan untuk Sholat Id juga telah melaksanakan Sholat. Termasuk semua keluarga serumah. Untuk menghormati keluarga dan tetangga yang sudah lebaran saya mengurung diri di Kamar.

Setelah mencari tahu dan bertanya, akhirnya saya bisa memahami metode hisab yang digunakan oleh Muhammadiyah. Insyaallah mulai Ramadhon tahun ini saya ikut Muhammadiyah dalam berpuasa dan berhari raya.

Silakan ikuti yang anda pahami, jangan hanya sekadar ikut-ikutan apalagi menyalahkan pilihan orang lain yang berbeda. Kedua metoda ini sudah benar dengan dalil masing-masing pula.

****

Al Albana, 29 Sya’ban 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close