Keganjilan Bahasa Kita

Tadinya saya ingin meninggalkan smartphone ini di rumah, agar bisa berpuasa media sosial juga sekalian, namun karena anak lagi libur sekolah dan seharian di rumah, besar kemungkinan jika smartphone ditinggal ia akan main game seharian. Bundanya tak mau ribut soal ini meminta saya membawa smartphone.

Dalam rangka menjaga kekhusukan dan kekhidmatan ibadah puasa ada baiknya kita menahan diri untuk tidak memposting hal-hal yang berujung kepada silang pendapat, karena jika hal ini yang terjadi akan merusak setidaknya mengurangi nilai ibadah puasa kita. Adapun topik yang paling rentan menyebabkan perselisihan adalah politik dan saya berusaha memaksa diri untuk menulis tentang itu selama bulan puasa.

Berbincang bahasa, agar rilek dan santai.

Buka Puasa

Dua tahun lalu,ketika usia anak saya masih enam tahun, ia belajar puasa. Beberapa hari hingga puasa penuh hingga datang waktu berbuka dan sebagian lagi puasa bedug. Berbuka puasa saat bedug (azan zuhur). “Berapa lama lagi buka puasa?”, ia bertanya hampir setiap lima menit satu atau dua jam menjelang bedug magrib.

Istilah ‘Buka puasa‘ berasal dari bahasa indonesia murni. Bahasa Arabnya ‘Iftaar’. Adapun ‘sahur’ memang berasal dari bahasa Arab. Makna ‘buka puasa’ menurut saya (versi saya lho) sedikit agak ganjil karena justeru menjadi ‘penutup’ puasa, karena makan buka puasa berarti mengakhiri puasa. Bisa juga makan dalam rangka menutup/menyelesaikan puasa. Puasa justeru ‘dibuka’ dengan makan sahur menjelang fajar dan ditutup (diakhiri) saat azan magrib. Menurut saya kata ‘Buka Puasa’ lebih cocok digunakan untuk sahur sedangkan untuk mengakhiri (menyelesaikan) puasa digunakan kata ‘Tutup puasa’. Namun sekali lagi, yang penting istilah ini efektif digunakan dalam berbahasa.

Takjil

Bagi kita di Indonesia ‘Takjil’ identik dengan camilan atau makanan ringan untuk buka puasa. Kata ‘Takjil’ berasal dari bahasa arab yang bermakna “menyegerakan”. Keterbatasan kosa kata dalam Bahasa Indonesia mengakibatkan banyak kosa kata bahasa asing yang diserap tentu juga Bahasa Arab asal dari kosa kata ‘Takjil’, namun kaum muslimin nusantara salah dalam menyerap maknanya. Jadilah ‘Takjil’ dalam bahasa indonesia berarti makanan ringan untuk buka puasa bukan menyegerakan buka puasa.

Mushalla

Pada pagi 1 Syawal, Nabi Muhammad S.a.w berjalan sambil takbir menuju musholla, beliau memerintahkan seluruh kaum muslimin, termasuk kaum wanita yang sedang berhalangan dan anak-anak yang belum baligh untuk keluar rumah menuju musholla. Musholla yang dimaksud adalah tanah lapangan tempat dilakasanakan Sholat Id. Tapi kaum muslim nusantara mengartikan musholla sebagai masjid kecil kecil. Biasanya terletak di perkantoran, sekolah, pusat perbelanjaan atau komplek perumahan. Selama di mushalla tersebut belum dilaksanakan sholat jum’at walaupun besar dan megah ia akan tetap disebut musholla. Saya pernah beberapa kali menemukan mushalla lebih megah dan besar dari masjid saya di kampung.

Sebenarnya penyebutan untuk ‘masjid kecil’–yang tidak menyelenggarakan sholat jum’at–yang selama ini kita sebut sebagai musholla ini sudah ada dalam bahasa daerah masing-masing ; di Aceh disebut meunasah, di Minang dikenal dengan surau sedangkan di masyarakat Jawa menyebut dengan langgar. Hemat saya muncul istilah mushalla ketika perkantoran dan sekolah-sekolah yang jamaahnya majemuk menyediakan ruang kecil sebagai tempat ibadah sholat bagi karyawan dan siswa. Maka istilah yang mewakili untuk jamaah yang majemuk tidak ada. Maka dicomot istilah musholla dari Bahasa Arab meskipun artinya jauh berbeda.

****

Al Albana, Andalas, 1 Ramadhon 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close