Taraweh 11 atau 23 Rakaat?

Dear Alwi

Nanti malam kesebelas Ramadhan, sudah delapan masjd kita kunjungi untuk sholat taraweh selama bulan ramadhan tahun ini. Sebenarnya saya ingin sholat di sebuah masjid di pinggir Muara Padang. Beberapa bulan yang lalu sepulang dari Pantai Air Manis kita melintas di depan Masjid itu.

Siang ini tiba-tiba saya ingin sholat di Masjid itu. Masjid yang berada percis di bibir Muara Padang. Di ujung Jembatan Siti Nurbaya sebelum naik ke Gunung Padang.

Temaran cahaya dari lampu jalan dan lampu kapal yang tengah bersandar yang jatuh di permukaan muara terlihat seperti simponi yang indah bisa menambah kesyahduan Ramadhan kita tahun ini. Selainnya saya senang melihat arsitek masjid yang masih sederhana. Sekadar mengingatkan Masjid-Masjid masa kecil dulu.

Tapi ketika kita sholat Taraweh di Masjid Nurul Iman beberapa hari yang lalu, seorang ibu yang berdomisili di daerah sana sholat Taraweh ke Masjid Nurul Iman, alasannya disana jumlah rakaat Taraweh plus Witir 23 rakaat. Bagi saya ini hal yang biasa. Karena jika sedang di Pariaman saya juga sholat Taraweh 23 rakaat. Bahkan ketika kecil dulu surau-surau di kampung kami memulai Taraweh pukul 11 malam selesai menjelang pergantian hari.

Namun bagimu ini hal yang aneh, karena selama ini kita sholat Taraweh plus Witir 11 rakaat. Dan itu wajar untuk anak seumuranmu bahkan sebagian orang yang sudah tua pun masih senang memperdebatkan hal seperti ini.

Barangkali tentang Taraweh 11 atau 23 rakaat sama halnya bagimu subuh pakai qunut atau tidak. Saya suka kamu selalu mempertanyakan hal-hal yang mengganjal bagimu. Tidak mudah menerima begitu saja. Pertanyaan-pertanyaanmu sering membuat saya kaget dan menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab. Bahkan sering saya angkat tangan karena tak mampu menjawab.

Nah, masalah subuh dengan qunut atau tidak mana yang lebih utama, seperti pertanyaanmu tempo hari. Saya tidak akan menjawab dari sudut pandang fikih karena memang tidak berkompenten untuk itu. Jangankan saya yang hanya bisa alif ba ta, ulama-ulama terdahulu saja yang hafal puluhan kitab silang pendapat dalam hal ini, apalagi kita. Tapi saya akan jawab seperti yang saya lakukan selama ini. Selama bertahun-tahun di Batavia saya sholat subuh dengan qunut (kebetulan mushola di depan rumah subuh dengan qunut) tapi jika subuh di rumah tanpa qunut. Tapi ketika pindah ke Padang saya subuh tanpa qunut sesuai dengan masjid dekat rumah dan kebanyakan masjid di Kota Padang. Kalau imamnya tidak qunut masa saya memaksa qunut, sebaliknya jika imamnya baca do’a qunut tak mungkin saya menolak untuk mengaminkan. Itu do’a yang baik. Di dalamnya kita bisa mengenang kesedihan Rasulullah ketika 70 sahabat rasulullah dibantai di Bi’r Ma’unah akibat provokasi Amir bin Thufail.

Tak terbayangkan kesedihan Rasulullah. Para sahabatnya pembaca dan penghafal Al Qur’an ditumpahkan darahnya hanya menyisakan satu orang saja yang hidup yaitu Kaab bin Zaid an Najjar yang terluka.

Itulah jawabanku. Ikutilah yang dilakukan imam semuanya benar. Qunut atau tidak bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan di luar majelis ilmu. Apalagi oleh orang-orang yang dangkal ilmu seperti kita. Begitupulah kiranya perihal Taraweh 11 atau 23 rakaat.

Suatu saat saya akan ajak kamu ke Masjid yang menyelenggarakan Taraweh 23 rakaat. Mungkin saja masjid di pinggir muara itu ataupun masjid lain. Sekadar memberi tahumu bahwa Taraweh juga ada 23 rakaat berbeda dengan yang selama ini kita lakukan.

Kita berjarak 1.400 tahun dengan Rasulullah yang mulia. Ibarat sungai nak! kita sudah jauh dari hulu. Konsekwensinya hulu sungai yang satu sudah bercabang-cabang berupa anak sungai. Banyak hal yang membuat sungai pengetahuan kita keruh sehingga tidak dapat diminum lagi airnya. Hindari merasa yang paling benar. Salah satu caranya terus-menerus mencari kebenaran.

Saya–semoga kamu juga–bukanlah orang yang suka berbantah-bantahan apalagi di media sosial. Benar kata ahli ada dua hal yang sebaiknya tidak diposting di media sosial yakni “strong religius and political views”. Perdebatan tentang dua hal ini sangat jarang yang konstruktif. Karena masing-masing orang sebelum memposting sudah membawa ‘kebenaran masing-masing’. Hasilnya akan sulit menerima ‘kebenaran baru’.

Itulah sebabnya setiap kali menyaksikan perpecahan akibat perbedaan dalam menafsirkan nash-nash agama, saya merasakan kerinduan seperti yang dirasakan oleh penyanyi-penyanyi kasidah.

”Law kana bainanal habib” senandung mereka.

Andai Rasulullah masih ada bersama kita…..

****

Al Albana, Andalas 10 Ramadhan 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close