Film Bumi Manusia dan Kegentaran Itu

Film Bumi Manusia dan Kegentaran Itu

Reaksi saya ketika mengetahui Bumi Manusia–Novel pertama dari tetralogi Pulau Buru karya Pramudya adalah senang, senang sekali. Pelan-pelan perasaan gentar datang menyelinap karena tak ingin ‘film’ tentang Minke yang ada dalam benak selama ini dirusak oleh Hanung dengan memvisualisasikannya dalam bentuk film. Apalagi film komersil yang dibiayai oleh ‘pedagang’ dalam menjaring laba.

Bumi manusia, ditulis Pram ketika menjadi penghuni Kamp Kerja Paksa di Pulau Buru oleh rezim Soeharto. Novel ini merupakan biografi RM. Tirto Adi Suryo–Pelopor Pers Nasional pertama–yang ditulis dalam bentuk roman. Novel setebal 535 halaman tentu saja akan dipenggal-penggal oleh Hanung sesuai dengan durasi sebuah film. Kemungkinan besar yang diekpose adalah sisi asmara yang pilu-mengharu-biru antara Minke dengan Annelis Mellema.

Padahal titik berat cerita yang ditulis Pram dalam Bumi Manusia adalah periode penyemaian dan kegelisahan dimana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah seorang pemuda berdarah priyayi jawa. Pergulatan Minke untuk keluar dari kepompong kejawaannya (feodalisme) menuju manusia yang bebas dan merdeka. Di sudut lain membelah jiwa ke-Eropa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban. Pergulatan ideologi dan kondisi sosial Hindia Belanda pada awal abad ke 20, saat mulai tumbuh cikal bakal nation Indonesia. Era membibitnya pergerakan nasional, pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan. Kesadaran bahwa pribumi sejajar dengan Londo. Pergulatan Minke menentang feodalisme Jawa, tergila-gila dengan pencerahan dari benua Eropa, meskipun belakangan ia sadar bahwa ada yang tidak beres dari pencerahan yang datang Eropa. Semua itu yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.

Apalagi setelah mengetahui Minke diperankan oleh Iqbaal Ramadhan. Bagi saya kharakter Iqbaal yang milenial jauh sekali dengan karakhter Mingke dalam Novel Bumi Manusia. Mesti sama-sama berusia 20-an tentu jauh berbeda dengan pemuda Iqbaal 20-an pada zaman sekarang. Mingke pemuda yang sudah matang, intelek, revolusier, tegar dalam menghadapi ketika Annelis direbut paksa dan dibawa ke Belanda. Saya rasa Iqbaal jauh dari gambaran Mingke, bagaikan barat dan timur. Seandainya Alex Komang masih hidup dan masih muda, ia karakter yang cocok untuk memerankan Minke. Toh mustahil membangkitkan Alex Komang, tak perlu aktor terkenal yang penting tokoh familiar dengan dunia sastra, seperti Gunawan Maryanto pemeran Widji Thukul dalam istirahat kata-kata. Untuk pemeran Annelis-Bunga Penutup Abad–gadis indo ini terserah diperankan siapa saja tak masalah, sepertinya Hana Al Rasyid juga cocok. Sedangkan Nyai Ontosoroh–janda dan jomlo idealis berkharakter dan bermartabat–sebaiknya diperankan oleh Happy Salma atau Lola Amaria.

Rasanya saya tak berani melangkahkan kaki ke Bioskop untuk menonton film ini. Setidaknya melangkah dengan perasaan gentar memasuki studio dan mempersiapkan mental untuk siap di acak-acak ‘film’ Bumi Manusia yang selama ini dalam tertancap di kepla. Seperti sepasang remaja yang kenal dan menjalin asmara melalui dunia maya tapi tidak berani bersua di dunia nyata demi menjaga khalan masing-masing, kurang lebih seperti itulah perasaan saya dengan film ini.

Bagaimanapun juga dengan mengadaptasi novel ini ke dalam film adalah sebagai upaya Hanung dalam memberikan apresiasi kepada seorang sastrawan yang pernah berkali-kali menjadi nominator peraih Nobel. Kita harus hargai dan berterimakasih kepada Hanung. Soal mau menonton atau tidak itu hal lainnya.

https://alwialbana.wordpress.com/2018/05/26/film-bumi-manusia-dan-kegentaran-itu/

****

Al Albana, Andalas 8 Ramandhan 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close