Bumi Manusia Yang Merepotkan

Bumi Manusia Yang Merepotkan

Bumi Manusia, novel pertama dari tetralogi Pulau Buru karya Pram memang merepotkan. Awalnya merepotkan Pram sendiri karena ide cerita sudah berdiam dalam lingkaran kepala Pram sejak tahun 60-an. Hingga ia dilemparkan oleh ke Kamp Siberia-nya orde baru di Pulau Buru pasca Gestok. Ide cerita Bumi Manusia tentu ikut pula dengannya. Agar tidak hilang dan menguap Bumi Manusia dicerikan secara lisan kepada sesama tapol di Pulau Buru.

Hingga Soemitro mengunjunginya ke Pulau Buru, lalu menghadiahkannya sebuah mesin tik. Dengan pemberian kertas dari gereja di pulau Pram mengetik naskah Bumi Manusia yang merepotkan itu hingga tuntas pada 1975, lalu diseludupkan ke luar penjara untuk dicetak dan diterbitkan secara klandestin.

Kali ini Bumi Manusia merepotkan Kejaksaan Agung karena Bumi disanyilir mengandung ajaran Marxis dan Lenin–musuh utama Orde Baru. Hingga pada 1982 Kejaksaan Agung melarang peredaran Bumi Manusia. Sehingga para penggemar Pram dan Bumi Mahasiswa harus sembunyi untuk membaca novel ini jika tidak ingin dituduh PKI dan dipenjarakan.

Tahun 98, angin reformasi berhembus kencang, Soeharto terjungkal, Orde Baru tumbang Bumi Manusia bebas melenggang. Makin digemari dan banyak dibaca orang. Ketika Pram masih hidup, Hanung yang masih muda belum sehebat sekarang pernah mendatanginya untuk minta izin mengangkat Bumi Manusia ke layar lebar. Pram hanya tersenyum untuk menolak Hanung.

Kini Bumi Manusia merepotkan warganet terutama pembaca Bumi Manusia. Mereka takut ‘film’ Bumi Manusia yang ada di kepala masing-masing diacak-acak oleh Hanung. Apalagi setelah mengetahui ‘Dilan’ yang sangat milenial yang memerankan Minke yang matang, tenang, intelek, dan revolusioner.

Bumi Manusia memang merepotkan. Merepotkan Pram,Orde Baru, Pembaca, Hanung dan Falcon bahkan juga Dilan (Iqbaal). Tapi yang paling absurd adalah tekanan (kerepotan) yang diterima Hanung, Falcon dan Iqbaal. Padahal Falcon dengan uangnya sendiri, Hanung dengan skillnya serta Iqbaal juga hanya karena dipilih, tapi mereka menerima semua harus menghadapi amukan(kemarahan) para pembaca Bumi Manusia.

Duhai Bumi Manusia,ini era semua orang merasa berhak atas segala.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close