Mengenal Magnum Opus Tetralogi Pulau Buru

Pramudya Ananta Toer adalah sastrawan besar yang pernah dimiliki bangsa ini. Ia telah menghasilan lebih dari 50 karya sastra. Keseluruhannya adalah novel. Ia termasuk sastrawan yang konsisten dijalur prosa, tidak tergoda untuk menulis puisi ataupun naskah drama.

Karyanya telah diterjemahkan kedalam 42 bahasa. Namanya berkali-kali masuk nominasi peraih Nobel Sastra. Diantara sekian banyak karya yang ditulisnya hampir semua mendapat apresiasi dari dunia sastra. Mulai dari Arus Balik, Arok Dedes, Bukan Pasar Malan, hingga Gadis Pantai, Nyayian Seorang Bisu, Jalan Menikung dan banyak lainnya. Namun yang paling fenomenal adalah tetralogi Pulau Buru; Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca.

Tetralogi ini ditulis oleh Seniman Lekra ini ketika menjadi penghuni Kamp Kerja Paksa di Pulau Buru. Cerita yang ini terinsprasi dari perjalanan hidup tokoh Pelopor Pers Nasional pertama kali yaitu RM. Tirto Adi Soerjo.

Bumi Manusia

Minke. Seorang pemuda terpelajar, siswa kelas akhir H.B.S. Surabaya. Lahir 31 Agustus 1880 tarikh yang sama dengan Ratu Wihelma. Pribumi tulen, anak Bupati B. Banyak belajar ilmu dan pengetahuan Eropa, juga banyak bergaul dengan orang Eropa. Bahasa Belandanya sangat bagus. Benci dengan segala sesuatu yang berbau feodal, juga adat istiadat Jawa yang kebudak-budakan: harus menyembah-nyembah dan berjalan merangkak di hadapan pembesar. Berasal dari keluarga terpandang namun kepriyayian bukan dunianya.

Oleh karena itu, Minke tak pernah sedikitpun bercita-cita menjadi bupati seperti ayahandanya. Minke lebih suka menjadi penulis, menjadi orang yang tidak diperintah dan tidak memerintah, menjadi manusia bebas. Sewaktu di H.B.S. ia sudah banyak menulis teks iklan dan artikel pendek untuk koran lelang. Karier awalnya adalah copywriter. Nama penanya Max Tollenaar.

Sejak perkenalannya dengan keluarga Nyai Ontosoroh, Minke mulai rajin menulis/mencatat tentang orang-orang yang dikenalnya, baik yang simpati ataupun antipati. Dan cerpennya yang pertama berjudul Een Buitengewoon Gewoone Nyai die Ik ken (Seorang Nyai Biasa yang Luar Biasa yang Aku Kenal) dimuat di koran S.N.v/d D. Setelah itu, cerpen maupun artikelnya sering muncul di koran.

Kunjungan pertamanya ke Boerderij Buitenzorg langsung membuat Minke kagum pada Nyai Ontosoroh, seorang nyai pribumi berwawasan luas layaknya perempuan terpelajar Eropa. Sekaligus ia juga jatuh cinta pada Annelies, dara cantik jelita putri Nyai Ontosoroh. Dayung bersambut, Annelies juga cinta pada Minke dan Nyai Ontosoroh pun suka pada Minke sebagai calon menantunya. Atas permintaan Nyai Ontosoroh, Minke akhirnya tinggal di rumah mereka.

Sasus hubungan Minke dengan keluarga Nyai Ontosoroh tercium pihak sekolah. Minke dikeluarkan dari H.B.S. karena berdasarkan jawaban-jawaban Minke di pengadilan sebagai saksi kasus pembunuhan Herman Mellema; Minke telah tidur sekamar dengan Annelies. Minke dianggap sudah terlalu dewasa bergaul dengan sesama murid H.B.S. Namun tak lama kemudian, tepatnya sepuluh hari setelah terbit tulisan Max Tollenar tentang totok, pribumi, dan Indo, Minke dipanggil kembali oleh pihak sekolah. Minke dinyatakan diterima kembali sekolah di H.B.S.

Dalam waktu bersamaan Minke ditawari bekerja sepenuhnya di koran S.N.v/d D. ia tidak jadi dikeluaarkan oleh pihak sekolah. Minke belajar semakin rajin. Di pesta kelulusan, Minke dinobatkan sebagai siswa dengan prestasi terbaik. Kebahagiaan Minke bertambah-tambah karena Direktur Sekolah mengumumkan undangan pesta pernikahan Minke di tengah-tengah pesta kelulusan.

Setelah kelulusaan sekolaah Minke dan Annelis menikah. Kebahagiaan Minke dengan Annelia hanya berlangsung enam bulan. Ir. Maurits Mellema (saudara tiri Annelis dari pernikahan sah) meminjam tangan Pengadilan Amsterdam memisahkan Annelis dengan orang-orang yang dicintainya, ibu dan suaminya dengan cara yang amat kejam. Selama-lamanya.

Dengan dalil Annelis masih dibawah umur pernikahan mereka dibatalkan oleh pengadilan putih. Hak perwalian atas Annelis ada dibawah tangan Ir. Maurits Mellema bukan Nyai Ontosoroh–ibu kandung–karena hanya seorang gundik. Annelis dibawa paksa oleh Ir. Maurits Mellema ke negeri Belanda. Dan gadis penutup abad mengembuskan nafas tak lama setelah menginjakan kaki di Belanda. Sesuai rencana Maurits Mellema dalam upaya menguasai seluruh kekayaan Nyai Ontosoroh berupa perkebunan dan perternakan.

Novel ini ditutup dengan dialog antara Minke dengan Nyai Ontosoroh pada halaman terakhir (535) yang sering dikutip oleh orang dalam menghibur diri dari kekalahan.

“Kita kalah ma” bisik Minke. Nyai Ontosoroh menjawab “kita telah melawan , nak, nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Anak Semua Bangsa

Dalam kesedihan yang mendalam akibat direbut secara paksa isteri yang sangat dia cintai, melalui Pengadilan Putih. Minke tak ingin berlarut-larut kemudian ia meneruskan sekolah ke S.T.O.V.I.A, sekolah Pendidikan Dokter Pribumi di Batavia. Tahun 1901. Meski terlambat masuk, Minke dengan cepat dapat mengejar ketertinggalannya. Bahkan, ia dibebaskan dari klas persiapan yang biasanya ditempuh selama dua tahun. Di masa-masa awal, waktu Minke hanya untuk belajar dan belajar. Setelah memasuki bulan keenam, siswa tingkat satu mulai mendapat kelonggaran keluar asrama pada Sabtu sore dan sepenuh Minggu. Di Sabtu sore, siswa biasanya gentayangan mengeluyur entah ke mana.

Siswa Sekolah Dokter dengan uang saku sepuluh golden sebulan, makan tanggungan asrama, sudah bisa bertingkah semau dan sesuka hatinya. Bisa mencicil sepeda sebagus-bagusnya, atau mengirimkan lima gulden untuk membantu keluarga, atau dapat kawin dan mendirikan rumah tangga sederhana, bahkan tanpa itu pun orang sudah dapat memikat calon istri. Penduduk kampung Ketapang, Kwitang, adalah pemburu menantu calon dokter.

Maka juga Kwitang menjadi daerah perburuan para siswa. Bukan hanya karena banyaknya orang yang ingin jadi mertua calon dokter, bukan hanya karena gadis-gadisnya, juga bukan karena orang-orang di sini menghormati para éléve.

Ada alasan pokok: setiap siswa butuh satu keluarga. Di sana ia dapat melepas pakaian kebangsaan berganti pakaian Eropa, jadi sinyo. Dengan pakaian Eropa orang bebas bergentayangan, beridentitas netral, apalagi dalam mencari nyai-nyai. Semua orang kampung Kwitang kenal adat para siswa ini. Dan, keluarga-keluarga bersaing, gigih berebut kesempatan menjamu. Dengan layanan dari anak gadis masing-masing yang telah di ambang masa kawin. Seorang siswa tinggal hanya mengangguk, besok atau lusa ia telah punya seorang istri, tunggal atau yang kesekian. Tidak terkecuali Minke.

Minke mendatangi Ibu Badrun, wanita tua, janda, hidup dari pensiun mendiang suaminya, dengan dua orang anak lelaki pungut. Teman-temannya heran, mengapa keluarga seperti itu yang Minke pilih. Bila hendak mengeluyur entah ke mana, di situlah Minke berganti pakaian Eropa. Di tempat itu pula Minke meninggalkan sebuah sepeda yang diangsur dari toko sepeda Van Hien. Juga ke rumah Ibu Badrun-lah surat-surat Minke dialamatkan.

Belum genap setahun menjadi Student STOVIA, Minke berkenalan dengan seorang wanita China, Ang San Mei. Bukan karena kebetulan Minke kenal dengan gadis Ang. Tapi, Ang San Mei adalah orang yang seharusnya dia cari; kepadanya ia harus menyampaikan surat mendiang sahabatnya di Surabaya, Khouw Ah Soe. Mei yang ramping, mendekati kurus, cantik, sipit, dan pucat, didukung dengan pengetahuan dan kepribadian telah memikat hati Minke sejak pertemuan pertama.

Ketika Mei sakit, Minke merawat dan mengusahakan obat untuknya. Ketika kontrak Mei sebagai guru Bahasa Inggris di Tiong Hoa Hwee Koan dibatalkan secara sepihak karena Mei dianggap punya hubungan dengan seorang pribumi, Minke menjadi tertantang sekaligus merasa bertanggung jawab membantu Mei; gadis yatim piatu yang hidup sebatang kara di negeri orang. Minke kemudian membawa Mei tinggal di rumah Ibu Badrun. Untuk tambahan penghasilan, Minke bekerja menulis teks advertensi di koranlelang.

Sebelum tutup tahun pengajaran, Tuan Direktur memanggil Minke, mengingatkan Minke tentang hubungannnya dengan Mei yang bisa mengganggu pelajarannya. Minke tak menggubris. Hubungannya dengan Mei berjalan terus.

Tak lama kemudian, Minke dan Mei menikah. Seterusnya, Mei tinggal di rumah Ibu Badrun. Mei rajin belajar bahasa Melayu. Pada hari-hari tertentu di pagi hari Mei memberikan pelajaran privat bahasa Mandarin dan Inggris anak-anak Tionghoa dari keluarga kaya di sekitar Kramat. Di sore hari dia duduk sambil membaca, menunggu kedatangan Minke dari kantor koran lelang. Pada jam sembilan malam, bila Minke kembali pulang ke asrama, Mei mengantarnya sampai pintu pagar.

Tahun 1904 adalah tahun penting dalam kehidupan Minke dan Mei. Mereka menerima undangan dari Sekretariat Gubernur Jenderal untuk menghadiri resepsi perkenalan Jenderal Van Heutsz menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda menggantikan Gubernur Jenderal Rooseboom. Hanya karena sepucuk undangan yang dialamatkan di sekolah itu, semua orang memandang lain, hormat, kagum, dan terheran-heran. Tuan direktur sekolah dan para siswa menyarankan agar Minke dan Mei datang secara patut.

Di lain waktu, di suatu senja Minke dipanggil menghadap Jenderal Van Heutsz. Dalam pertemuan singkatnya, Van heutsz meminta pendapat Minke sebagai terpelajar pribumi menghadapi kemungkinan kemenangan Jepang. Minke menjadi sibuk mempersiapkan tulisan sebagai jawaban pertanyaan Van Heutsz. Dan, ia ingin berdiskusi dan bertukar pikiran dengan Mei sebagaimana yang sudah-sudah. Ketika pulang ke Kwitang, Minke tidak mendapatkan Mei di rumah. Dan, itulah pertama kalinya dalam kehidupan perkawinannya Mei keluar malam.

Minke sadar, Mei telah menemukan dirinya kembali sebagai aktivis yang bersemangat memenangkan perjuangan Angkatan Muda bangsanya. Malam-malam berikutnya, Mei pulang larut malam, bahkan tidak pulang. Minke akhirnya enggan pulang ke Kwitang. Ia sadar, kebahagiaan dan kedamaian perkawinannya memang telah berakhir sampai di sini. Bila hendak menemui Minke, Mei datang ke kantor koranlelang di jalan Kramat. Setiap Mei datang, Minke menyerahkan seluruh penghasilannya untuk hari itu kepada Mei. Mei selalu menghitung, mencatat dalam buku, dan seperempatnya dia kembalikan pada Minke sebagai belanja.

Begitulah bulan demi bulan hampir-hampir menginjak setahun. Sampai suatu ketika Mei tidak datang-datang lagi ke kantor selama seminggu. Mei terbaring sakit di kamar, ia menolak dibawa Minke ke rumah sakit. Dan, Minke menuliskan sebuah resep untuk Mei.

Dari situlah awal bencana itu dimulai. Bukan obat yang diperoleh, justru Minke kemudian digelandang ke kantor polisi karena dianggap menulis resep palsu. Minke lantas diambil Direktur Sekolah dari tahanan. Mei tergeletak sakit di rumah sakit. Dua bulan lamanya Minke merawat dan menunggu istrinya di rumah sakit. Pelajarannya semakin tercecer dan tak tersusul lagi terutama dalam praktikum. Penyakit Mei semakin parah dan akhirnya meninggal.

Dalam suasana berkabung, Minke dipecat sebagai siswa dari sekolah. Ia harus mengembalikan biaya pelajaran dan asrama sebesar 4 tahun kali 11 bulan kali 40 gulden. Tanpa ragu, Minke menandatangani surat hutang itu dengan janji pelunasan selama tiga bulan. Ia pun ogah mengikuti anjuran Direktur Sekolah untuk menghadap Gubernur Jenderal supaya memperoleh keringanan. Tak lama berselang, Minke membayar lunas semua hutangnya pada sekolah dengan uang bantuan dari Surabaya. Nyai Ontosoroh–mantan mertuanya.

Minke sama sekali tak bersedih dengan pemecatan dirinya dari sekolah dokter. Justru ia merasa mendapat jalan lapang menjadi manusia bebas. “Jadi menusia bebas lebih cocok bagiku daripada menjadi dokter Gubermen, Tuan-tuan. Kita akan bertemu di masyarakat besar nanti.” ucap Minke di hadapan teman-temannya. Ia meninggalkan STOVIA dengan dada membusung.

Jejak Langkah

Selepas dari STOVIA Minke lalu menjadi pemrakarsa berdirinya Syarikat Priyayi. Organisasi modern pertama milik pribumi yang mendapatkan pengesahan dari gubermen. Dari organ inilah kemudian muncul gagasan membikin suara mencapai masyarakat luas tanpa batas melalui barang cetak. Sebuah perseroan terbentuk, dan koran mingguan “Medan” terbit.

Koran “Medan” berisi penyuluhan hukum dan peraturan. Hanya dalam waktu tiga bulan telah terdaftar seribu lima ratus langganan tetap, tersebar di seluruh Jawa, beberapa kota besar di Sumatra dan Celebes. Kebanyakan langganan koran “Medan” adalah mereka yang ingin selamat dan naik pangkat karena menjalankan peraturan dengan baik, mematuhi hukum yang ada.

Kebutuhan langganan akan penyuluhan hukum semakin membeludak. Seorang ahli hukum harus disewa untuk memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para penanya. Perlakuan sewenang-wenang dalam perusahaan-perusahaan kereta api, perkebunan, kantor-kantor Gubermen, perampasan anak gadis dan istri oleh pembesar setempat, mengisi permohonan-permohonan pertolongan. Dan, “Medan” menjadi dewa penyelamat dalam kehidupan pribumi di Hindia Belanda. Dari koran mingguan, “Medan” terus melaju dan lahirlah koran harian “Medan”.

Sementara itu, Syarikat tidak bisa bergerak sebagimana diharapkan. Minke merasa keliru dalam mencari massa. Anggota Syarikat adalah para priyayi yang statis, tak punya inisiatif, tak punya gairah hidup, ingin menghabiskan hidup dengan tenang dalam dinas Gubermen. Karena itu, Minke sepakat dengan Raden Tomo yang bermaksud mendirikan organisasi beranggotakan anak-anak muda yang masih punya jiwa dan semangat berkobar.

Bersama siswa-siswa STOVIA, Raden Tomo melahirkan Boedi Oetomo. Minke menolak tawaran untuk duduk di dewan pimpinan BO; ia kecewa karena dalam Angaran Dasar Rumahtangganya, BO hanya beranggotakan orang Jawa, dan menggunakan Bahasa Jawa dalam bahasa resminya. BO berkembang pesat terutama di Sala dan Yogyakarta.

Minke yang sejak lama mengimpikan persatuan Hindia Belanda sebagai bangsa majemuk, menthok di BO. BO hanya untuk bangsa tunggal. Harus dicari unsur yang dapat mempersatukan Hindia Belanda sebagai bangsa ganda. Pun organisasi yang dibentuk haruslah berwatak bangsa majemuk, berbahasa Melayu, bukan dari golongan priyayi, tetapi dari golongan orang bebas, golongan orang merdeka.

Sahabat Minke di Syarikat Priyayi Thamrin M Thabrie mengusulkan kaum pedagang dan beragama Islam. Karena pedagang adalah golongan orang bebas, dan Islam adalah agama mayoritas bangsa Hindia Belanda. Terbentuklah Syarikat Dagang Islamiyah. S.D.I. bermaksud memajukan perdagangan kaum pribumi memperkuat barisan golongan merdeka. Membebaskan penghasil-penghasil kecil dari kesewenang-wenangan tengkulak dan periba, membangunkan modal sebesar-besarnya untuk mendirikan perusahaan-perusahaan. Hasil dari semua usaha akan dipergunakan untuk memajukan perdagangan, kerajinan tangan, pendidikan dan pengajaran. Tak lama, S.D.I.

Minke bertekad menjadi propagandis dan mengunjungi Singapura, Malaya, Siam dan Filiphina. Dalam konferensi kecil di Buitenzorg, Minke menyerahkan mandat Pimpinan Umum Syarikat pada Hadji Samadi di Sala. Sejak mandat ditandatangani, sejak itu pula Pimpinan Pusat berpindah dari Buitenzorg ke Sala.

Untuk penerbitan majalah dan koran, Minke telah mnyerahkannya pada Sandiman dan Marco. Tiga hari menjelang keberangkatan Minke, “Medan” menerbitkan tulisan Marco yang melancarkan serangan kasar pada Gubernur Jenderal Idenburg. Minke pun berang, “Medan” sudah gegabah dan mengambil tindakan bodoh. Apa boleh buat, serangan itu sudah tercetak dan beredar. Pada hari yang sama, Minke ditangkap dan diasingkan.

Rumah Kaca

Pada buku, Minke tak lagi menjadi subjek–sebagai aku. Seorang bernama Pangemanann dengan duan huruf n meringkus biografinya lewat pengarsipan yang rapi hingga ia terbuang. Pangemanann, sang arsiparis, merangkum ulang semua sepak terjang Minke di jalan pergerakan, di lapangan jurnalistik, serta utang-piutang percetakan. Tak lupa, juga catatan dari asmara yang tak pernah sampai. Hingga ia meninggal di Mangga Dua, Batavia, Nyai Ontosoroh yang sudah menikah dengan seniman Prancis, Jean Marais, berziarah ke kuburannya. Menurut kabar, ia dikuburkan oleh seorang sahabat-adik CiptoMangunkusumo yaitu Gunawan Ciptomangunkusumo yang seperti nasib Minke, tak berumah tak berharta. Sang gembel Jakarta.

****

Kategori Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close