Me-Nusantara-kan Islam Sejak Dahulu Kala Dari Perbendaharaan Lama Buya Hamka

Upaya-upaya me-nusantara-kan Islam tidak hanya terjadi saat ini, namun sudah sejak jauh hari, sejak awal islam menyebar dan diterima di nusantara.

Keruntuhan Majapahit, lalu Raden Fattah yang merupakan putera Brawijaya V–Raja terakhir Singosari, memeluk Islam dan mendirikan Kerajaan Islam Demak bersama Mertuanya–Sunan Bonang pada tahun 1482.

Walaupun Islam sudah masuk sejak abad ke-10, bahkan menurut beberapa ahli islam sudah sampai di Nusantara sejak tahun 51 H, pada saat Khalifah Yazid bin Mu’awiyah berkuasa. Namun baru berkembang dengan pesat pada penghujung abad ke-15, bersamaan dengan kedatangan bangsa Eropa ke Nusantara.

Ajaran Islam menentang kolonialisme atau penjajahan sehingga pertumbuhan Islam dirasa mengusik eksistensi Kolonial Belanda. Salah satu cara yang dilakukan untuk meredupkan cahaya Islam adalah singkretisasi ajaran Islam dengan agama-agama nusantara yang sudah eksis.

Kolonial Belanda pada satu sisi membesar-besarkan Kerajaan ‘Budha-Syiwa’ Majapahit. Mengagung-agungkan nama Airlangga dan Gajahmada namun pada sisi lainnya menihilkan peran Patiunus, Sunan Guri, Sunan Kalijaga. Sentimen ini yang dikipas-kipaskan kepada adipati-adipati belum menerima Islam sepenuhnya kecuali sebagai agama spritual semata agar terjadi gesekan antara Kesultanan Demak dengan daerah-daerah yang masih kuat pengaruh hindu.

Setelah Demak lemah, munculah Kerajaan Mataram dengan raja-raja yang sepenuhnya telah dibawah kendali Kolonial Belanda. Singkretisasi Islam dengan agama nusantara semakin kalis. Itu semua dilakukan oleh raja-raja agar tidak dijungkalkan oleh Kolonial Belanda dari kursi kekuasaan.

Mas Ransang setelah menjadi Sultan Mataram bergelar Panembahan Agung Senopati Ing Alogo Abdurahman menulis Sastra Gending, merupakan salah satu usaha beliau dari segi filsafat untuk mendamaikan antara ajaran Hindu dengan Tauhid Islam, dipertemukanlah ajaran ‘fana’ dalam tasawuf Islam dengan ‘nirwana’ dalam ajaran Budha dan ‘atma’ dalam ajaran Hindu. Dalam susunan yang sangat halus . Dicari-cari kira-kira mana yang sama lalu dibangun campuran baru yang tidak Hindu lagi namun tidak juga Islam. seakan-akan menjadi satu agama sendiri,yang terlepas dari Hindu dan juga Islam. Islam yang telah bersenyawa dengan tradisi. Islam yang tidak lagi mengawang pada ajaran tak tersentuh, melainkan Islam yang telah terinstitusikan secara subtil dalam tradisi. Oleh karenanya ia nyaris tak memilah-milah lagi agama vis avis budaya. Hamka menyebut Islam Jawa berada di dalam kondisi bagalu putu, alias samar, tak jelas, dan campur aduk.

Usaha-usaha ini diteruskan oleh keturunannya tentu saja mendapat dukungan dari Kolonial Belanda, sampai kepada Ranggwarsita, Pujangga Jawa yang terkenal, yang memperkenalkan ajaran Kawan Gusti, campuran ajaran Al Hallaj dan Al Ghozali, dibumbui ajaran Hindu.

Jika ada upaya untuk memurnikan Islam seperti sediakala saat kedatangan awal Islam ke Nusantara dulu, akan berhadapan dengan bedil Kolonial Belanda. Seperti yang dialami oleh Trunojoyo dan Pangeran Diponegoro.

Dengan memakai ajaran seperti ini, apa saja agama yang dipeluk, baik Islam maupun Hindu, akan dapat dipertemukan. Orang-orang tidak perlu memberat-berati dirinya karena semua ajaran agama adalah sama, yang telah diambil saripatinya.

****

Al Albana, Andalas 29 Ramadhan 1439

Kategori Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close