DAWUK ; Kisah Kelabu Dari Rumbuk Randu

Novel ini meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 untuk Kategori prosa. Ditulis oleh seorang yang menggilai film dan musik India tentunya juga Dangdut dan Rhoma Irama. Maka dari itulah novel ini kental dengan nuansa bollywood dengan latar pesisir utara Jawa.

Kisah asmara si buruk rupa tanpa sanak saudara hidup sebatang kara ; Mat Dawuk dan sicantik namun bengal dan liar tak bisa diatur, suka ngawur, puteri seorang pemuka agama; Inayatun. dua sejoli yang dipandang miring oleh masyarakat, berlatar belakang kehidupan sosial sebuah desa di pesisir Jawa yang berubah oleh tanaman komoditas sehingga sebagian besar penduduknya terpaksa memilih menjadi buruh migran ke Malaysia.

Dibalut dengan humor, laga dan musik India, tapi tidak ada dendam. Karena seorang yang hidup sebantang kara mustahil memuntaskan dendam maka memilih kalah adalah jalan yang masuk akal ditempuh Dawuk. Ia mati mengenaskan di rumah kandangnya miliknya setelah dibakar masa. Lalu diberitakan “si jago merah menghanguskan kandang sapi di dekat hutan pinggiran desa Rumbuk Randu. Lokasi jauh dari pemikiman tak memungkinkan upaya tindakan penyelamatan. Lagi pula menurut saksi mata, kebakaran terjadi pada tengah malam. Meski demikian tak seorang pun tahu penyebab kebakaran. Yasir seorang Pamong Desa Rambuk Randu, mengungkapkan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebu, hanya saja seekor anak sapi dilaporkan ikut hangus terbakar telah sebuah kandang dan seeokor anak sapi ikut hangus terbakar”. Begitu murah. Nyawa Dawuk dihargai seekor anak sapi.

Dari novel ini kita disadarkan bahkan kebenaran terkadang memang bisa ditutupi, apalagi bagi seorang kecil yang hidup sebatang kara tanpa keluarga, menghadapi seluruh tatanan masyarakat mulai dari pemuka agama, kepada desa, carik, dan mandor yang punya uang. Stigma negatif yang melekat memang susah dihapus meskipun dengan bukti-bukti yang kuat di pengadillan sekalipun. Harap terakhir orang-orang mencari keadilan. Setiap orang bisa kalah dan terus-menerus kalah tanpa kemenangan, sesuia dengan takdir yang telah digariskan.

Sebagaimana keganjilan pasangan Dawuk-Inayatun, penulis juga menempatkan diri (aku) pada posisi yang tidak lazim. Penulis bukanlah sebagai tokoh utama (Dawuk) bukan pula yang menyaksikan sehingga mengetahui seluruh kejadian peristiwa yang dialami Dawuk. Teknik menulis yang ganjil. Penulis menempatkan Aku sebagai seorang yang pendengar kisah yang diceritakan oleh seorang yang bernama Warto Kemplung. Kalian tahu Warto Kemplung?, Warto=Warta ; berita, khabar, sedangkan kemplung ; bual, bohong, palsu. Ya. Kalau jaman now kita sebut saja sipembawa hoaks.

Warto Kemplung-sipembual ini, melakukan aktifitas pembualan di warung kopi untuk mendapatkan sebatang-dua batang rokok, syukur kalau lebih ada yang suka rela membayarkan kopinya di warung Siti, yang sudah kesal diutangi terus. Tidak jelas dan memang tidak ada pekerjaan tetap Warto Kemplung selain membual dan menunggu kiriman uang dari anaknya yang menjadi TKW di Malaysia. “Bulan depan anakku kirim. Semua utangku akan kubayar. Ditotal saja dari sekarang. Kalau perlu kau kasih bunga juga tak apa” ujarnya setiap kali ditagih utang oleh Siti-Pewarung yang sudah kesal akan utang-utangnya.

****

Muhammad Dawud, nama yang diberikan oleh kakeknya (Abdullah Alawi), terlahir dengan wajah yang buruk, sehingga orang-orang memanggilnya Dawuk. Kalian tahu arti Dawuk?, ia sebutan untuk kambing dengan bulu berwarna kelabu, kambing jelek. Buluk kalau kata orang Betawi. Kelahirannya dianggap membawa sial oleh bapaknya karena telah merengut nyawa ibunya saat bersalin. Karena dianggap sebagai pembawa sial, sang bapak membenci Dawuk lalu pergi menghilang meninggalkan desa Rumbuk Randu dan anaknya yang masih bayi. Belakangan terdengar khabar sibapak durhaka mati terlindas Bus Indonesia jurusan Surabaya-Semarang.

Beruntung masih ada kakek yang memilihara dan menyayanginya. Namun sayang tak berselang lama sang Kakek yang dipanggil orang-orang dengan nama Dulawi juga menghilang, masuk ke dalam hutan tak kembali lagi. Hingga dua puluh tahun kemudian hadir sebagai saksi yang meringankan Dawuk. Namun apa daya kesaksiaan itu tak dapat membebaskan cucunnya, Dawuk.

Dawuk lahir sebagai bocah berwajah jelek dengan bibir cuil, seorang penyendiri dan pemalu karena tidak seorang pun yang mau berteman dengannya. Namun dia senang dan menikmati kesendirian itu. Terlebih setelah kakeknya menghilang. Ia menjadi anak yang terlantar, tanpa ada yang mengasihi. Ia bermain sendiri di kuburan, di tegalan dan di bibir hutan. Jika ditanya, ia akan menjawab sedang mencari ibu jika di kuburan sedangkan di bibir hutan ia sedang mencari kakek, jawabnya.

Tidak ada yang tahu dan tidak ada yang peduli sejak kapan ia tidak kelihatan lagi di desa Rumbuk Randu. Sebagian orang mengira dia telah diterkam oleh binatang buas di pinggir hutan. Namun siapa yang peduli.

Tapi belakangan terdengar khabar dari para buruh migran di Malaysia yang pulang ke desa Rumbuk Randu bahwa Dawuk ada di Malaysia. Awalnya dari seorang. Dua orang. Kemudian beberapa orang menyakinkan bahwa benar Dawuk–bocah terlantar, penyendiri yang hidup sebatang kara di desa Rumbuk Randu–yang mereka lihat di Malaysia.

Kini bocah jelek liar penyendiri dengan bibir cuil itu tumbuh menjadi lelaki dewasa yang menakutkan dan mengerikan. Ia menjadi seorang pembunuh bayaran di Malaysia. Senjatanya dua ruyung kecil dan runcing yang dibungkan dengan rantai sepanjang satu jengkal telah memecahkan belasan batok kepala korbannya. Ia diupah untuk melenyapkan nyawa seseorang. Bisa karena urusan dendam, utang-piutang, hingga sengketa asmara. Korbanya mulai dari buruh migran asal Rumbuk Randu, Taiwan, Bangla hingga orang Vietnam.

Di Malaysia pada sebuah stasiun kereta api mereka pasangan ganjil ini dipertemukan ; Dawuk dan Inayatun. Inayatun puteri Pak Imanullah–Tokoh agama dan masyarakat desa Rumbuk Randu yang cantik jelita namun liar tak bisa diatur minggat dari Rumbuk Randu hingga terdampar di Malaysia. Inayatun meminta Dawuk untuk menikahinya sebagai suami keempat setelah gagal berumah-tangga sebanyak tiga kali.

Ina, demikian ibu dan bapaknya memanggilnya, sejak kecil adalah gadis pujaan. Primadona Desa kata lagu Bang Rhoma. Saat kanak-kanak ia bayi perempuan dengan mata hitam besar dan pipi montok, kulit terang dan mulut kecil yang tak berhenti mengoceh. Para tetangga akan berebut menimang dan mencubitnya karena gemes. Wanita yang sedang hamil atau yang berencana punya anak mengelus perut sambil menatapi wajahnya, berharap memperoleh anak perempuan sepertinya. Ia adalah pemenang lomba bayi sehat sekecamatan dua kali agustusan berturut-turut. Ia sebagai bukti keberhasilan kerja pemerintah Orde Baru dalam meningkatkan kesehatan Ibu dan Anak Indonesia pada Pelita III.

Tak menunggu lama, para pemujanya beralih dari para ibu-ibu dan petugas posyandu ke para lelaki teman sebayanya. Ia mekar mendahului musimnya. Mata bocah yang bulat besar berubah menjadi mata gadis genit menggoda. Dada dan pinggulnya tumbuh dan terbentuk jauh lebih cepat dibanding gadis sebayanya. Belum genap empat belas tahun ia dikhabarkan telah berbadan dua. Konon seorang dukun ampuh dengan cekatan telah menyelesaikan janin sebelum waktunya keluar.

Ina tumbuh sebagai gadis cantik yang disukai banyak laki-laki, gadis badung yang sulit diatur, suka ngawur. Ina memang pandai mengaji, sepandai itu pula ia merayu laki-laki. Bahasa Arabnya fasih, sefasih saat ia bicara kotor dan memaki. Tak mengherankan terutama ibu-ibu yang dulu mendambakan punya anak sepertinya, kini menggambarkannya seperti musibah, dan karena itu memanggilnya dengan sebutan “Ina-lillahi” plesetan dari Inayatun. Tak ada lagi ibu-ibu yang berangan-angan punya anak perempuan sepertinya. Jika dulu ibu-ibu megelus perut dan berharap punya bayi seperti Inayatun,bkini kembali menepuk perut sembari menggumamkan istigfar dan berucap “amit-amit jabang bayi. Ia dianggap ancaman yang merusak remaja putera yang baru akhil balig hingga ancaman yang dapat merusak keutuhan rumah tangga.

Tak sanggup memperbaiki akhlak puterinya, Pak Iman bermaksud mengirim Inayatun ke Pondok Pesantren begitu ia tamat tsanawiyah. Ina beranggapan Bapaknya membuangnya. Atau memang ia ingin bebas menikmati pemujaan laki-laki atas dirinya. Inayatun malah minta izin pergi lebih jauh. Ke Malaysia. Begitulah akhirnya mereka berjumpa pada sebuah stasiun kereta api di Malaysia. Saat Ina membutuhkan perlindungan dari kejaran seorang pemuda belia yang posesif yang memaksanya untuk menikah.

Merasa aman dan nyaman. Inayatun– perempuan cantik namun liar dan ngawur serta susah diatur–dengan Dawuk–lelaki buruk rupa dan mengerikan, yang sejak lahir tak pernah mendapatkan kasih sayang dan perhatian–, seperti botol bertemu tutup mereka memutuskan untuk menikah secara siri. Lalu kembali pulang ke Desa Rumbuk Randu.

Disinilah berawal tragedi yang memilukan itu. Sejak pasangan ganjil itu kembali pulang ke desa Rumbuk Randu. “Mengapa tidak kau laburi saja muka ibumu ini dengan tahi, In” jerit ibunya sebelum tumbang pingsan. “Begitu rusakkah kamu sampai tidak lakunya”, tanya bapaknya dengan jijik. Itulah sambutan dari orang tua Inayatun atas kepulangan puterinya dengan menggandeng Dawuk.

Mereka tidak peduli dengan omongan miring para tetangga bahkan orang tua sekalipun. Seakan-akan pasangan ini sudah kebal dan ba’al terhadap stigma negatif dari masyarakat Rumbuk Randu. Mereka bahagia menjalani hari-hari di sebuah rumah kandang, pemberian bapak Inayatun di pinggir hutan. Iya, rumah kandang. Bekas kandang sapi yang dipugar Dawuk seadanya. Beralaskan tanah beratap jerami, dan dinding anyaman dari bambu. Tanpa jendela dengan dua pintu. Satu di depan dan satu lagi di dapur. Tanpa dialiri listrik. Sehari-hari Dawuk bercocok tanam di pinggir hutan. Menanam jagung, kacang panjang dan aneka sayuran. Jika hasil panen berlebih Inayatun menjualnya ke pasar dan uangnnya digunakkan untuk membeli ikan dan kebutuhan lainnya. Ina terlihat sangat percaya diri saat berjalan melintasi kampung menuju pasar. Ibu-ibu jadi bersemangat bersolek setelah melihat dandanan Ina, yang tak pernah mereka sapa.

Namun kebahagian pasangan ganjil itu tak berselang lama. Manis madu pernikahan itu direnggut paksa oleh sebuah nestapa. Ina yang tengah hamil muda terbunuh. Dawuk yang mendapat firasat buruk berlari kencang seperti dikejar setan dari ladang menuju rumah kandang mereka. Setelah mendobrak pintu mendapati isterinya dengan perut terluka mengangga berlumuran darah. Di dalam rumah kandangnya juga ada Blandong Hasan dan Mandor Har yang ingin berniat jahat menodai kehormatan Ina. Dawuk berhasil melumpuhkan Mandor Har, namun dari arah belakang Dawuk, Blandong Hasan mengayunkan Kampak untuk membantu sekondannya. Dawuk berkelit ke samping, Kampak itu tepat mengenai dada Blandong Hasan, cipratan darahnya mengenai wajah buruk Dawuk.

Dawuk memanggul tubuh isterinya yang berlumur darah ke Puskesmas Kecamatan Galeng Gede. Namun malang Ina tidak terselamatkan. Karena telah kehilangan banyak darah. Dokter mendekati Dawuk “Isteri anda sudah tiada, juga bayinya” ujar sidokter terbata-bata. Dawuk bingung memikirkan kata ‘tiada’. Dawuk tidak pernah sekolah dan buta huruf. Selama ini yang dia tahu. ‘Mati’, ‘matikan’ dari orang-orang yang menggunakan jasanya untuk meleyapkan nyawa seseorang.

Dalam kebingungan di depan Puskesmas, ia mendapatkan orang-orang datang dan berteriak ke arahnya. Makin lama makin dekat. Makin jelas teriakan mereka. Blandong Hasan paling depan ada belasan bahkan puluhan orang menuju kearahnya sambil berteriak “itu Mat Dawuk”,

“Dia yang bunuh Inayatun dan Mandor Har”

“Bunuh Mat Dawuk”

“Ganyang”

Pateni wae”

Dawuk bingung ketika bambu sebesar paha menghajar tengkuknya. Kemudian belasan benda tajam maupun tumpul menghujam setiap jengkal tubuhnya. Muai dari besi, kayu hingga bambu bergantian kadang bersamaan mengenai tubuhnya. Hujan turun semakin deras, siang digulung gelap malam. Muazim mengumandangkan azan magrib. Orang yang berjumlah puluhan menggulung tubuh Dawuk yang terkapar berlumur darah. Mereka bubar setelah puas meluapkan amarah. Dan menyangka Dawuk telah mati. Tak berselang lama sebuah mobil patroli polisi mengangkat tubuh Dawuh pipih dan berlumur darah.

Tiga hari kemudian warga desa Rumbuk Randu dikagetkan oleh ‘penampakan’ Dawuk yang berjalan pelan dan pasti memasuki rumah Pak Iman. ” Aku tidak membunuh anakmu”, lalu kembali menyerahkan diri ke kantor Polisi. Warga Rumbuk Randu ketakutan karena mengira yang datang ke rumah Pak Iman adalah roh Dawuk yang telah mereka bunuh beramai-ramai.

Di pengadilan Dawuk dituduh telah membunuh Inayatun dan Mandor Har. Alasannya Dawuk mendapati Ina sedang berselingkuh dengan Mandor. Tentu saja cerita rekayasa Blandong Hasan ini dengan mudah dipercaya oleh warga. Seperti apa rekam jejak Ina sejak kecil hingga menikah untuk yang keempat kalinya merupakan katalis yang mempercepat ‘karangan’ Blandong Hasan diterima. Apalagi Dawuk yang dekat dengan bau amis darah ketika menjadi pembunuh bayaran di Malaysia membuat ‘karangan’ Blandong Hasan sulit dibantah.

Di pengadilan Abdullah Alawi alias Dulawi, kakek Dawuk yang telah mengilang sejak 23 tahun silam dihadirkan sebagai saksi. Satu-satunya saksi yang meringankan Dawuk. Ia menceritakan seluruh kronologis kejadian tanpa mengurangi atau menanbah. Namun kesaksiannya dianggap sebagai angin lalu. Stigma dan opini publik menjadi lebih dominan dibanding saksi dan barang bukti dalam mempengaruhi keputusan hakim menentapkan hukuman. Dawuk divonis 7 tahun penjara. Ia menerima dengan pasrah. Sedangkan Pak Iman dan Blandong Hasan menginginkan Dawuk dihukum mati.

Dawuk yang sudah mati rasa atas segala keinginan dan harapan sejak kematian Inayatun menjalani hukuman penjara tanpa perasaan. Berbeda dengan Pak Iman dan Blandong Hasan serta seluruh warga Rumbuk Randu tidak puas, mereka menginkan Dawuk mati. Berbagai cara mereka lakakan baik dengan cara halus dengan meminta orang pintar mengirimkan santet guna membunuh Dawuk sampai cara kasar dengan mengirim tiga begundal untuk membunuh Dawuk ke dalam penjara. Namun semuanya gagal. Mereka semakin yakin Dawuk memiliki kesaktian. Tapi mereka bingung darimana dan kepada siapa yang mendapatkan ilmu itu. Mereka tahu satu-satunya orang yang berinteaksi dengan Dawuk adalah kakeknya Dulawi, namun Dulawi sudah menghilang sejak Dawuk berusia 7 tahun dan baru muncul kembali sebagai saksi di pengadilan. Lalu menghilang kembali.

Selesai menjali hukuman tak ada dendam di hati Dawuk atas kezholiman Pak Iman dan Blandong Hasan serta seluruh warga Rumbuk Randu yang telah memfitnahnya sehingga harus mendekam di penjara selama 7 tahun mempertanggungjawabkan perbuatan yang tak pernah dilakukannya. Mestinya ia yang menuntut Blandong Hasan agar dihukum untuk mempertangjawabkan perbuatannya yang telah merengut nyawa satu-satu orang yang pernah ia cintai.

Tak ada dendam. Tak ada amarah. Yang ada pasrah dan menyerah. Usai menuntaskn hukuman 7 tahun di penjara, Dawuk tidak pernah kelihatan di Rumbuk Randu, dikhabarkan ia kembali ke Malaysia hingga 7 tahun kemudian muncul lagi di Rumbuk Randu. Di rumah kandangnya. Kehadirannya dengan wajah mengerikan, rambut panjang tak terurus serta bibir cuil menghadirkan rasa takut bagi warga. Anak-anak takut datang ke Masjid karena Dawuk juga ikut sholat berjamaah. Anak-anak takut karena tanpilan fisiknya. Sedangkan mereka orang-orang dewasa takut terbongkar kejahatan dan fitnah yang telah meraka perbuat atas Dawuk. Dawuk meski dileyapkan. Apapun itu caranya itu harus ditempuh. Tapi bagaimana caranya?, bukankah 14 belas tahun lalu mereka secara massal telah menghabisi Dawuk di depan Puskesmas Galeng Gede hingga tak seorangpun diantara mereka menyangka Dawuk masih hidup.

Sebenarnya kehadiran Dawuk di Rumbuk Randu hanya agar dekat dengan kuburan satu-satunya manusia yang dia cinta dan kasihi serta satu-satunya manusia yang menganggap keberadaannya walaupun hanya sesaat tapi pernah ada. Tak banyak yang dilakukan Dawuk. Siang ia ke ladang menanam aneka sayur, malam terdengar secara samar-samar suara lagu India yang dia putar dari tape dengan tenaga battery bukan listrik. Tak seorang pun warga yang menyapanya. Sebagian menghindar dan menjauh saat berpapasan. Tapi baginya tak mengapa. Bukankah sejak ia dilahirkan sudah seperti itu.

Hingga suatu malam pada separuh bulan Sya’ban rumah kandang Dawuk didatangi 25 orang warga yang dikomandoi oleh Pak Iman-mantan mertuanya. Dawuk meladeni dengan sopan , menuruti semua perintah para pengeroyok. Jika warga menginginkan ia dipenjara lagi dengan tuduhan telah membunuh Blandong Hasan yang mati terjatuh dari tangga ia bersedia mengakui, namun yang warga tidak puas, yang mereka inginkan adalah meleyapkan nyawa Dawuk. Dawuk merogoh kantong celanaya lalu menyerahkan ruyung yang selama ini ditakutkan warga. Belum puas juga Pak Iman meminta kalung benang buatan kakek yang selama ini melingkar di lehernya untuk dilepas.

“Bapak santri, tokoh agama, masih percaya hal-hal semacam itu?”

Tapi aku orang jawa Mat!, kau juga. Sudahlah jangan membodohiku”

Kalau tidak boleh bersama kakek saua di saat-saat pengabisan, berikan kesempatan saya menghadap tuhan. Antarkan saya ke Masjid terlebih dahulu. Setelah itu terserah kalian”.

Masa semakin beringas,mereka mengikat Dawuk di rumah kandangnya. Besok pagi koran mengkhabarkan “si jago merah telah menghanguskan kandang sapi di pinggiran desa, tak ada korban jiwa, hanya saja seekor anak sapi dilaporkan ikut hangus terbakar”

Al Albana, Andalas. Syawal 1439

Kategori Buku, Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close