MINANG COMPLEX

Sebagai penyuka Bahasa dan Budaya, saya apreciate atas yang dilakukan oleh anak-anak muda pelaku industri kreatif di Kota Wisata Bukittinggi. Terutama di bidang fashion. Usaha clothing dengan brand berbahasa minang seperti Mangkuak (Mangkok), Kapuyuak (Kecoak), Tengkelek (Bakiak) dan lain sebagainya.

Bahkan anak-anak muda keren ini lebih kreatif daripada Joger yang ada di Bali atau Dagadu di Jogja. Jika Joger dan Dagadu sebagian besar menggunakan Bahasa Indonesia untuk menuliskan kata-kata jenaka dan menggelitik hanya sedikit sekali menggunakan Bahasa Daerah (Bali dan Jawa) tapi kaos Mangkuak, Kapuyuak dan semua clothing yang ada di Bukittinggi full menggunakan Bahasa Minang tentu dengan kata-kata yang jenaka dan menggelitik.

Bahkan untuk ukuran (size) mereka berani menggunakan Bahasa Minang ;
S = Sampik, M = Manangah, L = Lapang, XL saya lupa kepanjangannya.

Saya mampir ke salah satu outlet yang cukup besar penunjuk arah juga menggunakan Bahasa Minang. Ketika saya ingin ke kamar kecil tertulis penunjuk arah KARAYIE = Tempat Buang Air. Di Kamar Pas (Fitting Room) tertulis Biliak Cubo-Cubo. Saya juga menemukan tulisan Dilarang Maisok untuk peringatan Dilarang Merokok. Tampek Manumpang Barang untuk Tempat Penitipan Barang.

Namun rasa kagum dan bangga saya sedikit berkurang, ketika kembali dari toilet dua orang pramuniaga sedang berbincang-bincang dalam Bahasa Indomi.
Anda tahu Bahasa Indomi, Indonesia-Minang, kalau sekadar Bahasa Indonesia dengan dialek Minang tak masalah bagi saya, karena logat atau dialek memang susah diubah, saya pun seperti itu namun mencampurkan kosa-kata Bahasa Minang ke dalam Bahasa Indonesia saya tidak suka. Menggelikan. Mendingan Bahasa Minang Sekalian atau Bahasa Indonesia Logat Minang.

Apakah kebudayan termasuk bahasa di dalamnya hanya untuk dibangga-banggakan kepada orang luar, sedangkan kita sendiri enggan bahkan sebagian lagi saya melihat ada yang sudah pada level malu jika putera-puteri mereka menggunakan Bahasa Minang?.

Kita tersinggung dan marah jika kebudayaan kita direndahkan orang lain, namun kita malu menggunakannya dalam kehidupan sehari.
‘Minang Complek’ Muhammad Yaman-Saudara Muhammad Yamin menyebutnya, generasi minang yang jauh hidup dari tatananan adat Minang, namun jika Adat minang dilecehkan mereka berada pada barisan paling depan untuk mempertahankan.

Saya gelisah melihat fenomena ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close