Adil Dalam Perbuatan Karena Dalam Pikiran Tak Ada Yang Tahu

Seorang terpelajar juga harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi perbuatan. Itulah arti terpelajar itu”. Itulah nasinat dari Jean Maramis kepada Minke untuk tidak menelan mentah-mentah saja stigma negatif dan opini massa terhadap seorang Nyai-‘gundik’- Ontosoroh dalam Bumi Manusia karya Pramudya Ananta Toer.

Adil sejak dalam pikiran- orang lain tidak akan tahu apa dalam pikiran seseorang?, apakah sudah bersikap adil atau belum. Bahkan seorang yang memiliki kemampuan cenayang pun tidak dapat mengetahui pikiran seseorang secara pasti kecuali hanya mengira-ngira dengan cara dusta. Perbuatanlah yang dapat membuktikan seseorang adil atau tidak. Itu pun akan menjadi kontestasi perdebatan dengan masing-masing sudut pandang.

Sejak seminggu belakangan ini, saya menyampul buku-buku softcover dengan plastik bening. Sebelum berangkat ke toko saya mengambil secara acak sejumlah buku yang kira bisa masuk kedalam backpack kecil yang setiap hari saya bawa ke toko, lalu membungkus dengan plastik bening sela-sela aktifitas. Besoknya seperti itu lagi. Dua hari yang lalu saya menemukan buku ini ketika mengeluarkannya dari dalam tas. Saya tidak suka buku ini. Namun sebagai orang yang berusaha berbuat adil, saya tak boleh membeda-bedakan perlakuan terhadap buku. Jika buka lain disampul plastik dengan rapi maka buku ini juga mesti mendapat perlakuan yang sama. Jangan seperti Oom Loreng yang suka sweeping buku lalu memusnahkan dengan membakarnya tanpa pernah membaca sebelumnya.

Sebagian besar saya tidak setuju dengan isi buku ini. Buku ini dibeli isteri saya sekitar tiga tahun lalu saat mengikuti kajian Padang Bulan di Mushola depan rumah. Meski tak suka saya tetap membaca buku ini hingga tuntas, tanpa pernah membuka-buka lagi seperti buku yang lain.

Buku ini bertujuan mencari-cari kelemahan dari kelompok salafi. Membandingkan fatwa yang bertolak belakang di antara sesama ulama salafi (Syekh bin Baz, Syekh Utsaimin dan Syekh Albani). Kelompok Salafi atau yang sering diolok-olok oleh kelompok islam yang berselisih pemahaman dengan nama Talafi(saya tidak tahu arti dan maksud), tapi secara umum sebagian orang menyebut Wahabi, sebagian lagi–yang punya selera humor tinggi–menggelari dengan Wahabong. Saya tidak ikut-ikutan.

Intinya buku ini bertujuan untuk menangkal dominasi budaya Arab atas kebudayaan Nusantara. Mereka sinis terhadap orang-orang berjenggot dengan jidat hitam serta celana cingkrang. Jenggot tebal ketipisan, celana panjang kependekan ledek mereka.

Sebagai peminat sejarah dan kebudayaan, saya mengagumi kebudayaan-kebudayaan Tua, seperti Yunani, Romawi (Eropa), Mesopotamia, Persia, Mongol (China), Hindustan (India) tentu juga budaya Arab.

Meskipun tipis saya memelihara jenggot namun celana masih isbal (tidak cingkrang) dan jidat juga tidak ‘balak enam’. Gamis dan surban juga bukanlah pakaian kegemaran saya. Biasanya kalau ke Masjid saya pakai kemeja lengan panjang atau baju koko dengan bawahan sarung, sedangkan penutup kepala saya pakai peci hitam dengan bordir berwarna silver. Tapi saya tidak suka dan tidak ikut-ikut sinis serta mengolok-olok dengan penampilan fisik dengan penampilan budaya Arab. Apalagi menyebut mereka tukang bom, intoleran dan anti NKRI. Meskipun isteri dan sanak saudara saya tidak ada yang menggunakan cadar, saya tidak suka kepada mereka memandang sinis dan diskriminasi muslimah bercadar oleh mereka yang mengaku paling toleran dan berbhineka.

Saat ini saya senang peci hitam bukan berarti saya nasionalis tulen. Tidak. Sebagaimana fashion yang dinamis, mungkin saja nanti saya akan menggunakan penutup kepada deta, blangkon bahkan surban atau kafeah seperti yang digunakan Yaser Arafat.

Aneh lagi kelompok ini, mereka beranggapan identitas seperti jenggot, celana cingkrang, jubah, surban dan cadar adalah budaya Arab bukan bagian dari Syariat Islam tapi mereka sinis dan mencibir terhadap semua itu. Jika itu budaya bukankah ia (Kebudayaan Arab) juga berhak yang sama seperti kebudayaan lain ; Jas, Kemeja dan Pantolan dari Eropa, Kopiah dari Turki, Sarung dari Yaman, Peci dan baju koko (takwa) dari China. Kenapa kalian sewot dengan orang bercadar tapi permisih dengan gaya pakaian ala K-Pop, Tank Top dan Harajuku, padahal kalian sendiri yang bilang semua itu (identitas ke-Arab-Arab-an) adalah budaya Arab bukan syariat Islam. Sebagai budaya, Jilbab, Cadar, Celana Cingkrang, Jenggot mestinya mendapat panggung yang sama pada kontestasi kebudayaan di Indonesia sama seperti kebudayaan lainnya yang datang dari Eropa, China, India, Jepang atau K-Pop Korea.

Kalian mencibir kepada orang-orang yang menyelipkan ‘ane’, ‘ente’, ‘akhi‘, Sukron‘ saat berbicara namun salut dan terkagum-kagum kepada kelas menengah yang menyelipkan kata ‘whatever’, ‘even, as is’ dan lain. Saya memang menyukai bahasa dan sastra Arab tapi belum bisa dan juga tidak pernah menggunakan kosa-kata Bahasa Arab dalam berbicara. Jika terpaksa saya menggunakan Bahasa Inggris dengan bule. Namun saya tidak mencibir mereka yang menggunakan ‘ane’, ‘ente’,(ke-Arab-Arab-an) atau mereka yang ‘keminggris’ agar dianggap intelek. Karena keduanya adalah produk budaya yang sedang berkontestasi pada pagung kebudayaan Indonesia.

Benar sih, sama seperti mereka yang ‘keminggris‘ agar dianggap intelek sebagian yang berpakaian dan berbicara ‘ane’ ‘ente’ merasa paling alim dan benar, namun tidak semuanya seperti yang kalian duga. Sedikit sekali. Lebih banyak yang tawadu’ dan rendah hati. Jika cara pandang anda seperti ; mengenaralisir dan pukul rata dari penampilan fisik seseorang bagaimana menghadapi ‘emak-emak’ bawa matic, sen ke kiri beloknya ke kanan. Bisa-bisa anda yang didamprat dan diseprot habis-habisan ”Uda tu nan salah. Maliek nan tampak sajo, memang sen ambo ka kida tapi niak di hati ambo belok ka suok, makonyo manilai sesuatu jan hanyo nan tampak dari lua sajo, liek dalam hatinyo”, yang artinya dalam Bahasa Urdu seperti ini : [Mas (Abang) yang bersalah, hanya melihat yang tampak saja. Memang sen saya ke kiri tapi niat hati belok kanan. Makanya menilai sesuatu jangan hanya yang terlihat dari luar saja. Selami hatinya]. Sebaiknya perdebatan seperti ini bagi yang sudah punya isteri jangan anda diteruskan jika tidak ingin ‘perang dunia ketiga’ kecuali jomlo yang sedang mencari pasangan.

****

Al Albana, 26 Syawal 1439

Kategori Buku, Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close