Sejarah Kopi

Oleh ; Ahmad Makki

Pelarangan kopi dipercaya hampir setua umur kopi mulai dikonsumsi manusia.
Hal ini bisa diketahui dari sebuah cerita rakyat di daerah Abyssinia, sekarang Etiopia.
Dikisahkan, seorang penggembala bernama Kaldi melihat kambing-kambingnya kegirangan setelah memakan buah menyerupai beri merah yang belum pernah dia lihat.
Dia pun mencicipinya dan merasakan efek rasa segar. Ketika dia memberi tahu orang-orang, popularitas buah ini segera meroket di daerah tersebut.

Tapi tak semua orang berpikir seperti Kaldi. Para agamawan setempat, yang mencurigai efek energi dari buah itu, segera menganggap gejala tersebut sebagai “pekerjaan setan”. Barulah setelah tahu buah itu bisa membantu mereka begadang untuk melakukan ibadah, buah yang di kemudian hari dikenal sebagai kopi ini legal dikonsumsi.

Saat Etiopia/abyssinia menginvasi Yaman/SHABA /sheba/magrib pada sekitar 700 SM — 600 SM,
mereka membudidayakan kopi di sana. Aktivitas perdagangan dengan bangsa Arab ikut membantu mempopulerkan kopi.
NationalGeographic.com dalam artikel “Escape from Arabia” menyebut bangsa Arab jualah yang menemukan cara baru mengonsumsi buah ini.
Jika sebelumnya dimakan dengan cara dibungkus lemak binatang, kopi mulai diseduh sebagai minuman, sebagaimana kita kenal sekarang.

Menurut Reay Tannahill dalam Food in History,
bangsa Arab menyambut baik kopi karena dianggap dapat menggantikan minuman keras bagi yg tidak suka bau sejenis Khamr ,yaitu : Qahwa/wine.
——
Hal ini terlihat dari kepercayaan sebagian orang bahwa penamaan kopi atau coffee dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Arab, qahwa,
yang berarti minuman anggur, alias wine.
Sebagian lainnya meyakini akar kata coffee adalah: kaffa, sebuah wilayah di Etiopia; istilah Arab quwwa yang berarti kekuatan; atau kafta, nama minuman yang dibuat dari tanaman khat.
———
Di Indonesia, kata “kopi” berasal dari bahasa Belanda koffie.
—-
kopi menyebar makin luas bersamaan era Islam.
kemana Islam pergi, ke sana pula kopi ikut.
Ketika agama ini merentangkan pengaruhnya ke Turki, negara-negara Balkan, Spanyol, dan Afrika Utara, kopi dapat ditemukan di sana. Beberapa sumber bahkan menyebutnya sebagai “minuman Islam”.
—-
Namun hingga abad ke-15 tak ada bibit kopi yang menyebar. Bangsa Arab yang sadar arti penting kopi sebagai komoditas, memonopoli peredaran kopi dengan mencegah peredaran bibit kopi ke luar daerah Arab dan abysinia. Kebun-kebun kopi dijaga ketat. Rencana ini berantakan hanya gara-gara Baba Budan, seorang jamaah haji asal Mysore, India, menyelundupkan tujuh bibit kopi dengan menempelkan di perutnya, lalu memulai perkebunan kopi di kampungnya.
—-
Karena popularitasnya kian membumbung, kopi yang awalnya identik dengan ritual keagamaan merambah ke sisi sekuler kehidupan manusia. Dalam dunia medis, pada abad ke-9 M, Al Razi menjadi orang pertama yang menyebut kopi dalam tulisannya dengan memasukkan kata bunn dan sebuah minuman bernama buncham, dalam ensiklopedi tentang zat-zat yang dipercaya menyembuhkan penyakit.

Sementara pada abad ke-11, Ibnu Sina mengatakan bunchum dapat “membentengi tubuh, membersihkan kulit, dan mengeringkan kelembaban di bawahnya, serta memberikan bau yang enak untuk tubuh”.

“Sekularisasi” kopi juga terlihat dengan jelas di Turki. Pada 1453, di sana berdiri toko kopi pertama di dunia, Kiva Han. Pentingnya kopi dalam kehidupan masyarakat Turki membuat negeri ini membolehkan tuntutan untuk menceraikan suami yang tak mampu memenuhi kebutuhan kopi untuk istrinya. Hal ini menunjukkan bahwa kopi telah menjadi komoditas sehari-hari.
—–
Berbeda dengan masyarakat Arab, hingga abad ke-16, orang-orang Eropa belum mengakrabi harum kopi. Sebagaimana dikutip Belief.Net, Claudia Rosen dalam bukunya Coffee, menceritakan bahwa baru pada 1615, saat para pedagang Venesia membawanya ke Eropa, kopi segera menggebrak seisi benua tersebut. Di Italia, beberapa pemuka gereja mulai khawatir. Mereka menyebut kopi sebagai “temuan pahit setan” sehingga meminta Paus Clement VIII melarangnya.
——
Clement VIII memutuskan untuk mencicipinya sebelum menjatuhkan putusan. “Kenapa minuman setan ini demikian lezat,” katanya setelah menyeruput, “sayang jika membiarkan para Muslim memilikinya secara eksklusif. Kita harus menipu setan dengan “membaptis” kopi.”

Sejak itu, penyebaran kopi di Eropa tak terbendung lagi hingga hari ini.
=======================
sumber :
https://historia$id/kuliner/articles/ritual-ngopi

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close