Warisan

Orang atau kelompok yang kalah biasanya membangun streotip negatif kepada kelompok yang mengalahkannya untuk diwariskan kepada anak-cucu mereka. Karena hanya itu yang dapat dilakukan. Kulit Putih tidak beradab, tidak punya sopan-santun, kasar, tidak punya etika dan basa-basi sedangkan kita bangsa beradap, sopan, ramah, senang menolong, suka bergotong royong adalah warisan dari para leluhur yang kita telan mentah-mentah.

Namun jika kita membuka lembaran sejarah, banyak hal yang belum kita ketahui tentang bangsa kulit putih yang konon katanya bejat. Penjajahan dan kolonialisme adalah hal yang buruk, semua sepakat dengan itu. Tapi ada sisi terang yang tidak tersampaikan kepada kita selama ini. Saya pernah diceritakan oleh kakek bahwa pada zaman Kolonial Belanda, seorang kusir harus punya dua ekor kuda penarik, agar bisa digunakan secara bergantian jika ‘menarik’ andong seharian, satu kuda untuk pagi hingga siang, satu kuda lagi dari siang hingga malam. Kalau tidak sang kusir bisa ditindak secara hukum oleh Pemerintah Kolonial. Kita lihat kenyataan saat ini, sebagian kita membawa puluhan ekor ayam dengan motor dengan posisi kaki diikat kepala menggelantung ke bawah. Kasihan. Siapakah bangsa beradap?

Sejarah mencatat sebagian besar pahlawan nasional kita yang menetang Kolonial Belanda meninggal di pengasingan bukan diujung basoka, bayonet atau tiang gantungan bertolak belakang dengan mereka yang ditutuh (tertuduh) teroris akibat alasan dan kepentingan tertentu. Nyawa mereka berakhir di ujung senjata densus 88, tanpa diberi kesempatan membela diri di hadapan pengadilan. Siapakah bangsa beradap?

Sedangkan pahlawan nasional yang menentang dan menghalagi kolonial sebelum dibuang (diasingkan) melalui proses hukum dan pertimbangan yang sangat panjang. Bahkan di pengasingan pun mereka juga diberikan fasilitas dan tunjangan yang cukup. Rumah pengasingan mereka biasanya lebih besar dari rumah rakyat biasa. Mereka diizinkan membawa isteri, anak, para pembantu serta sebagian pengikut. Tunjangan yang mereka terima lebih dari cukup untuk biaya hidup, ke tempat pengasingan mereka diantar oleh pejabat tinggi kolonial.

Setelah lebih 70 tahun merdeka, stigma buruk yang diwariskan itu semakin mengental ditambah lagi dengan semangat anti-antian, pokoke segala yang bukan dari kita yang datang dari luar itu buruk. Anti Asing, Anti Aseng, anti Arab, anti China, anti Timur Tengah. Kita bangsa terbaik dengan kebudayaan terbaik pula tak perlu lagi tambahan dari luar, begitulah kira-kira kata mereka yang anti-anti dan curiga sana-sini.

Coba bayangkan jika bangsa ini tidak berintegrasi dengan bangsa asing seperti Bangsa Arab, Ruum (Eropa), Turki, China, India dan lainnya. Mungkin saja bangsa kita masih seperti suku-suku terasing dengan pakaian seadanya serta makanan dari hasil meramu yang sering kita tertawakan, dengan negara seperti Kepulauan Solomon, Fiji atau Bhutan.

Saya hanya mau menegaskan tidak semua yang datang dari luar itu buruk dan tidak semua yang dari kita baik, begitu pula sebaliknya. Tugas kita adalah memilih dan memilah; mengambil yang baik meninggalkan yang buruk tanpa melihat itu datang dari luar atau dari milik kita sendiri. Semua saling melengkapi dan tambal sulam, sehingga tercapai peradaban yang tinggi. Tidak ada peradaban besar yang berdiri dengan sendiri tanpa sumbangsih budaya sekitarnya.

****

Al Albana, Andalas, 29 Syawal 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close