Pupus

Semalam dan tadi sepanjang perjalanan ke sekolah kami ngobrol lagi tentang keiinginanya untuk menjadi ketua kelas.

Di kelas 3-C, hasil pembagian kelas kemarin ada 8 murid berasal dari kelas 2-D (ex teman-temannya di kelas 2) dari total 40 murid di kelas itu. Lalu saya menjelaskan sedikit tentang matematika bahwa 8 orang dari 40 adalah 20% atau 1/5 dari total murid.
“Jadi peluangmu untuk terpilih jadi ketua hanya 20% itu pun jika seluruh murid ex 2-D memilihmu”, saya menjelaskan.
“Tapi Yah, ada Faruk juga diantara yang 8 orang itu”, jawabnya.
“Pupus, pupus sudah harapan untuk jadi ketua tahun ini di kelas 3, setidak tertunda sampai kelas 4 setahun lagi”,

Faruk adalah bintang pelajar dan ketua di kelas 2-D. Ia juara I dan Ketua Kelas sejak kelas I. Selain pintar ia juga punya leadership yang bagus. Satu lagi, kedua orang tuanya sangat mendukung anaknya menonjol dalam segala hal. Saya salut kepadanya ; beberapa kali ia menjemput guru ke ruang kantor karena belum kunjung datang juga sedangkan jadwal belajar sudah masuk.

Sebagai murid baru karena pindahan dari sekolah lain pada tahun ajaran baru tahun lalu. Saya berpesan kepadanya “tidak baik mengganggu kenyamanan dan kebahagian orang lain, jadi jangan sampai kamu menggeser dia dari tangga juara apalagi dari ketua kelas”.

Dari pertama sekolah, saya tidak pernah menargetkan dia untuk juara. Karena peringkat terkait lansung dengan orang lain (murid lain). Saya lebih senang dan memberinya target kepada hal yang tidak terkait orang lain.
“Ayah senang kamu juara, tapi target ayah bukan itu, nilaimu naik setiap semester jika itu berat, pertahankan jangan sampai turun”.
Saya lanjutkan “jika targetmu peringkat (juara) itu mudah, ayah pindahkan kamu ke sekolah yang murid-muridnya dengan nilai akademis di bawahnu, seperti SD Inpres tempat ayah sekolah dulu, kamu akan juara sepanjang masa disana”.

Sederhanayanya saya memberikan target yang tidak terkait dengan orang lain tapi dengan dirinya sendiri. Mungkin orang lain bilang saya aneh, tak mengapa. Di era persaingan bebas dan ketat ini, justeru saya melarang dia bersaing dengan orang lain. “Hindari persaingan, perbanyak kerjasama”, itu yang saya pesankan.

Ketika terima Raport semester kemarin. Ia datang membawa raport kepada saya, “seperti yang ayah pesankan” katanya sambil menyerahkan raport; Nilai naik tapi secara peringkat turun. Saya terkekeh saat melihat nilai raportnya. “Ya, seperti ini yang ayah maksud” kami tertawa terbahak.

Anakku Alwi, setiap keinginan bisa terwujud dan gagal bisa juga tertunda. Sepertinya keinginanmu untuk menjadi ketua kelas tahun ini sebaiknya ditunda dulu. Lagian alasanmu untuk menjadi ketua kelas hanya sekadar agar tidak kena marah cik gu (untuk kepentingan sendiri) tidak seperti alasan mereka yang bernafsu menjadi Presiden, Gubernur, Ketua DPR, Walikota, Bupati yang konon katanya untuk rakyat(untuk orang lain).

****

Al Albana, Andalas, Syawal 1439

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close