Buya Hamka Dalam Kenangan

Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, Gelar Datuak Indomo, Suku Tanjuang [Maninjau, 17 Februari 1908-Jakarta, 24 Juli 1981]

“Tidak ada gading yang tak retak”, petuah lama yang kita pegang hingga hari ini. saya melihat kehidupan Buya dari segala segi yang dapat saya lihat. Baik yang saya baca melalui buku yang ditulisnya atau buku yang ditulis oleh orang lain tentang Buya. Dan yang saya telusuri melalui media internet dengan bantuan google. Saya tidak melihat ada retaknya, beliau adalah gading yang bertuah. Dari membaca tulisan-tulisannya terasa kejadian baru kemarin. Benar kata guru-guru bahwa ulama yang mewariskan ilmu yang bermamfaat seakan-akan tetap hidup di sisi kita, sejauh kita masih mempelajari dan mengamalkan ilmu yang telah diwariskannya.

Namun walaupun demikian, sebagaimana yang sudah kita ketahui dan yakini bersama tak seorang pun manusia yang ma’sum kecuali junjungan kita, Nabi akhir zaman Rasulullah Muhammad S.A.W. Mungkin saja sejauh ini Allah menutup ‘retak’ itu dari mata saya, juga sebagian dari anda. Sehingga informasi–keretakan–tidak sampai kepada saya khusus atau sebagian anda.

Saya memang jarang memuja kecuali tokoh yang telah selesai dengan fitnah dunia (sudah tiada) sehingga tertutup segala kemungkinan mereka akan tergelincir. Sedangkan kita dan siapupun yang masih hidup di dunia ini, kemungkinan tergelincir itu masih terbuka luas. Sadarkah kita banyak diantara mereka yang dulu kita puji-puja. Kita khabarkan segala kebaikan yang ada padanya lalu kita datang masa dan keadaan sehingga lisan kita dengan kencang dan lancar dulu memuja-muja berbalik sekencang itu pula menghujat mereka. K.H. Makruf Amin, Mahfud MD, Ridwan Kamil, Ali Muchtar Ngabalin, hingga yang terbaru TGB Abdul Madjid. Entah siapa lagi kedepannya?, mungkin saja Gatot Nurmantyo, Zulkifli Hasan atau bahkan Amien Rais. Semoga Anies Baswedan dan Anis Mata tidak mengalami hal yang serupa.

Bagi saya–tidak pernah mengenal lansung yang hanya mengenal Buya dari tulisan-tulisan yang diwariskannya–Buya tidak hanya sebagai ulama, tapi juga guru sejarah dan sastra. Terutama Sejarah Islam dan Minangkabau.

Dari 79 buku yang ditulis beliau. Diawali dengan Khotibul Ummah, dalam Bahasa Arab beliau tulis ketika berusia belum 17 tahun. Si Sabariah dalam Bahasa Minang dan buku-buku selanjutnya tidak semua tentang agama (Islam). Buya menulis ; Sejarah Umat Islam, Dari Perbendaharaan Lama, Islam dan Minangkabau, Jamalludin Al Afgany, Tuangku Rao antara Khayal dan Fakta, Muhammadiyah di Minangkabau dan buku-buku lainnya tentang sejarah. Buya menghadirkan sudut pandang yang berbeda dari buku sejarah yang kita baca selama ini kita baca (versi Belanda). Misalnya versi Snock Horgranje Islam masuk Nusantara pada abad ke-13 M namun Hamka dengan ketajaman literasi yang dikuasainya berani menyebut Islam telah masuk pada tahun 51 Hijriah, awal abad ke-7 M. Pada masa khalifah Yazid bin Mu’awiyah khalifah ke-2 Umayyah, 40 tahun setelah wafat Rasulullah. Seperti yang beliau tulis di Dari Perbendaharaan lama.

Begitupula tentang Perang Paderi yang kita pelajari dari Sekolah bahwa Perang Paderi adalah perang antara Kaum adat (Kerajaan Alam Pagaruyung) vs Kaum Paderi ; Kaum Islam puritan berasal dari Arab Saudi yang menentang praktek kemusrykan, bi’ah dan tahayul warisan Hindu yang masih dipraktekan oleh masyarakat Minangkabau. Pada buku Dari Perbendaharaan Lama halaman 128, Hamka menulis bahwa pada 39 Juli 1833, kurang dari 3 bulan Sultan yang dipertuan Agung (Raja Alam Minangkabau) diasingkan telah dipenggal leher 11 Pemuka Adat, 3 Ulama Paderi.
Dari data ini jelas bahwa pemerintah Kolonial Belanda mengeksekusi lebih banyak pemuka adat daripada ulama. Dari sini terbaca jelas bahwa yang terjadi sesungguhnya perang antara seluruh masyarakat Minangkabau melawan Kolonial Belanda bukan perang antara kaum paderi berhadapan dengan kaum adat yang dibantu oleh Kolonial Belanda. Jika kaum adat bersekutu dengan Kolonial Belanda mustahil seorang Sultan (Raja kaum adat) diasingkan ke Betawi.

Buya menulis novel legendaris ; Tenggelam Kapal Van Der Wijk dan Di Bawah Lindungan Ka’bah, selanjutnya ada ; Si Sabariah, Tuan Direktur, Di Jemput Mamaknya. Laila Majnun, Merantau Ke Deli dan roman-roman lainnya. Buya pengarang kawakan pilih tanding di dunia kesusateraan Indonesia. Itu semua karena perbendaharan pengetahuan beliau yang sangat luas karena tekum membaca dikombinasikan ketajaman beliau menilik suatu persoalan, serta langkahnya yang sangat lapang. Hampir semua daerah di Indonesia pernah dikunjunginya. Dengan demikian beliau dapat membaca dengan tajam realitas sosial pada suatu daerah lalu menuagkan dalam bentuk roman.

Hari ini 37 tahun yang lalu, Allah telah memanggilnya untuk kembali kepada-Nya. Terhentilah langkahnya yang luas itu. Berhenti hulu aliran sungai ilmu pengetahuan itu. Namun ‘air’ (ilmu yang jernih) yang telah banyak mengalir dari tintanya masih terlalu banyak untuk kita timba. Belum lagi suri tauladan yang telah beliau contohkan.

****

Al Albana, Andalas, Dzulkhaidah 1438

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close