Obitauri Yang Tak Jadi

Saya membelinya pada penghujung September 2015, hari-hari menjelang 30 S yang menyeramkan itu. Beberapa saat menjelang melepaskan diri cengkeraman lembaga keuangan milik Datu’ dari Malaysia.

Beberapa hari lalu saya hampir menuliskan obituarium atas kepergiaanya. Lalu saya mengkalkulasi anggaran untuk pembelian sebuah smartphone. Dibarengi dengan mengkomparasi keunggulan masing-masing fitur yang dijanjikan oleh produsen smartphone; antara Xiomi, Oppo, Vivo. Iphone jelas tidak karena tidak matching kepribadiaan dan keuangan saya. Takut, otak saya yang pas-pasan tidak mampu mengoptimalkan seluruh fitur yang canggih dan kekinian yang disediakan. Dan lagi terlalu mahal bagi ukuran kantong saya. Samsul eh Samsung juga tidak, karena bobot yang sedikit agak berat.

Semua upaya-upaya kalkulasi anggaran dan mengkomparasi keunggulan masing-masing merk smartphone menjadi sia-sia dan tak berguna ketika dua hari yang lalu saya berbelok ke sebuah toko dengan plank Garuda Selular. Saya menanyakan ; adakah kemungkinan telepon ‘agak pintar’ milik saya ini untuk direinkarnasikan?, sambil mematut-matut dan menimang pemilik counter menjawab “bisa Bang, tapi semua data yang ada sebelumnya akan hilang, sama seperti tampilan baru pertama abang beli”. Dalam hati saya sedih ada beberapa file yang ‘seakan-akan’ penting akan lenyap, tapi senang juga karena telepon pintar pintar saya akan kembali seperti baru, berarti lensanya yang retak akan kembali normal.

Cocok biaya service smartphone ini ditinggal untuk menjalani rawat inap semalam karena menurut teknisi yang melakukan ‘enditensei’ waktu operasi di atas jam 12 malam karena sinyal kuat. Saya berguman ‘seperti berobat pakai BPJS’, sedikit-sedikit dipaksa rawat inap, bahkan hanya untuk cabut gigi bungsu (geraham paling belakang) saja harus rawat inap jika menggunakan fasilitas BPJS namun tak perlu rawat inap jika pembayaran menggunakan asuransi atau ditanggung sendiri padahal dengan Rumah Sakit atau Dokter yang sama.

Sudahlah yang penting smartphone ini nyala kembali, toh apa bedanya jika saya bawa pulang hanya bisa memandangi logo Asus yang berputar-putar saat loading berjam-jam hingga habis daya.

Sebenarnya yang mendorong saya berbelok ke Garuda Selular adalah keinginan saya mengenapkan masa pengabdiannya pas lima tahun, seperti Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati, Legislator dan jabatan lainnya. Syukur bisa dua periode sama seperti yang diimpikan Fans Garis Keras Jokowi. Atau biar macam sarjana. Ehhh, bukan deh,Sarjana sekarang cuma butuh 3,5 atau 4 tahun. Instant dan prematur belum cukup usia kandungan. Itulah alasan saya memperpanjang masa pengabdiannya dengan bantuan teknisi. Agar ia lulus dengan waktu yang cukup tidak boleh prematur meskipun selama ini hampir tiga tahun bekerja terlalu keras siang-malam.

Dan semalan, Bang Asus berhasil hidup kembali, setelah mati suri selama 5 hari. Sehat selalu Bang Asus! Jangan pensiun dulu Bang Asus, please !, Bang Asus! Maafkan aku karena masih memaksamu untuk membantuku berbuat dosa dengan menyebarkan kebebalan dan kesesatan pemikiran. Kelak di pengadilan Hari Akhir, kumohon sampaikan yang baik-baik saja sebagai kesaksianmu, dan sembunyikan rapat-rapat segala aibku….

Salam Penuh Harapan

Al Albana, Andalas, 19 Dzulkhaidah 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close