Sjahrir

Jika Tan Malaka menjadi legenda dan misteri karena sepanjang hidupnya memang selalu nyaris berada “di bawah tanah”, maka Sjahir tetap menjadi teka-teki (barangkali) karena ia selalu berdiri tegak “di atas tanah”, “di tengah pentas”, dengan sikap yang tegar di tengah arus zaman yang justru sedang tergesa-gesa dan tak sabar!

Sejarah mencatat: Sutan Sjahrir di umur 36 tahun menjadi Perdana Menteri pertama dengan Amir Syarifuddin sebagai Menteri Pertahanan. Tetapi mereka akhirnya bersimpang jalan, dan final ketika Amir makin radikal setelah kedatangan Musso pada Agustus 1948, karena Sjahrir memang tak pernah goyah oleh godaan sentimentalitas revolusioner golongan komunis yang sering, dalam kata-kata Sjahrir sendiri, “menghancurkan dalam diri mereka sendiri jiwa serta semangat sosialisme yaitu kemampuan untuk menghargai kemanusiaan dan martabat manusia.”

Sjahrir, yang akrab dipanggil Bung Kecil karena perawakannya yang mungil, tentu belajar dari apa yang dilakukan Stalin dengan Gulag-nya. Dan itulah sebabnya ia kokoh berdiri: sosialismenya adalah sosialisme yang percaya atas martabat manusia. Itulah yang menurutnya menjadi inti “sosialisme kerakyatan”; istilah yang kemudian diplesetkan menjadi “soska” alias sosialis kanan, plesetan yang ditujukan pada Sjahrir yang (terutama oleh komunis dan para revolusioner dari kelompok pemuda) dinilai sebagai sosialime malu-malu, sosialisme yang kompromistis, kebarat-baratan.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close