Perdamaian-Perdamaian

Perdamaian perdamaian

Perdamaian perdamaian

Perdamaian perdamaian

Perdamaiaan perdamaian

Banyak yang cinta damai

Tapi perang makin ramai

Bingung bingungku memikirkan.

Itulah petikan lirik dari lagu Qasidah milik Nasida Ria yang melegenda, apalagi setelah diaransement ulang oleh Group Band Gigi dengan versi kekinian dan lebih ngebeat.

Jika diizinkan saya akan menambahkan dua baris lirik seperti ini ;

Siapa yang lebih kencang teriak perdamaian

Sesungguhnya tanpa sadar dialah yang menyebabkan perang semakin ramai

Seperti itulah gambaran situasi dunia saat ini. Dari media massa kita dengar khabar betapa kencangnya Amerika dan negara-negara maju di Eropa meneriakan pesan perdamaian, berbanding lurus dengan produksi senjata yang digunakan untuk berperang dan saling bunuh. Diikuti dengan pendirian Rumah Sakit untuk korban perang.

Binggung kan?

Begitu pula dalam negeri. Perang pun semakin ramai, terlebih pasca Pilpres 2014. Tentu saja bukan dalam artian perang sesungguhnya (perang senjata) tapi perang opini di jagad maya. Semua orang pun berteriak (sebagian ikut-ikutan berteriak agar dianggap eksis di dunia maya) menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Mengajak pada perdamaian.

Naluri manusia memang cenderung kepada perdamaian. Saya percaya mereka yang berteriak perdamaian itu, memang sungguh-sungguh menghendaki kedamaian di negeri ini. Namun sebagian (besar) lupa bahwa hal yang paling dibutuhkan saat terjadi pertikaian atau perselisihan yang berujung pada terjadinya ‘perang’ adalah ‘mengamputasi’ ego. Selama ego masih menempel kuat pada diri anda jangan perharap akan datang perdamaian, meskipun berteriak ‘Perdamaian-Perdamaian’ hingga habis atau rusak pita suara atau merusak gendang telinga kami yang mendengarkan.

“Mari berdamai, tapi seharusnya begini!”

“Mari kita akhiri pertikaian ini, serahkan semua pada kami semua akan beres!”

“Kita berdamai saja, ikuti cara kami!”

Seperti itulah gambaran narasi-narasi dari mereka yang sering berteriak perdamaian di media sosial.

“Mari kita damai, kita berikan kesempatan dua periode untuk Jokowi menuntaskan yang telah tengah dikerjakannya”, atau “Ok, kita damai, tapi 2019 ganti presiden. Atau seperti ini “Semua akan damai asal bukan Jokowi”. Narasi seperti itulah perang di jagad maya semakin ramai, seramai teriakan perdamaian-perdamaian.

Mari kita bangun narasi-narasi seperti ini “mari kita akhiri perselisihan, sebaiknya bagaimana?”, mari kita duduk bersama, mencari cara untuk mengakhiri pertikaian”.

Gantilah kata “seharusnya begini!” dengan “sebaiknya bagaimana?” Insyaallah damai akan datang.

****

Al Albana, Andalas, 25 Dzulqaidah 1439

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close