Menunggu Kepunahan Bahasa Daerah

Membahas bahasa saja untuk memperhalus rasa daripada membahas politik yang oleh karenanya terkadang membuat kita ‘mati rasa’ terhadap perasaan orang lain.

Kepunahan Bahaya Daerah (Minang) hanya masalah waktu. Selain penuturnya semakin berkurang karena beralih menggunakan Bahasa Indonesia. Setidaknya seiring berjalan waktu jumlah kosa-kata semakin berkurang. Masihkan Dunsanak mendengar kata ‘rangik‘ untuk nyamuk, ‘pakan nasi‘ untuk lauk, ‘Kuhue‘ untuk batuk dan banyak lainya untuk dapat disebutkan disini.

Terutama dalam bahasa tulis memang lebih susah menggunakan Bahasa Daerah (Minang). Selama menggunakan Facebook saya baru sekali menulis dengan Bahasa Minang. Dan itu sulit. Hamka pernah menulis sebuah novel dalam Bahasa Minang yang berjudul Si Sabariah. Luar biasa.

Para ‘Student‘ (kaum terpelajar-mahasiswaa) pada awal abad ke-20 juga mengalami kendala untuk menulis dengan Bahasa Melayu (cikal-bakal Bahasa Indonesia) mereka lebih memilih menggunakan Bahasa Belanda ketika itu. Penyebabnya adalah kosakata Bahasa Melayu yang masih terbatas kala itu. Dalam Novel Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh berkali-kali meminta Minke untuk menulis dalam Bahasa Melayu agar menjangkau Bumiputera yang tak bisa berbahasa Belanda.

Tahukah anda hingga saat ini jumlah kosa kata dalam Bahasa Indonesia hanya 91.000 sudah termasuk serapan dari bahasa asing ; Bahasa Arab, Belanda, Portugis, Inggris, China serta bahasa daerah, sedangkan Kementrian Pendidikan menargetkan 181.000 kosa kata pada 2019 nanti. Bayangkan kosakata Bahasa Arab mencapai 12.300.000 kosakata sedangkan Bahasa Jerman 3.000.000 kosakata Bahasa Inggris 600.000 kosakasa, Bahaha Prancis 150.000 kosakata.
Saya membayangkan jika kita bisa menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Asing lainnya tentu sangat mudah dan lancar dalam menulis untuk menyampaikan gagasan.

Daripada memperdebatkan mana yang lebih benar penulisan ‘Insya Allah’, ‘Insyaallah’, ‘InsyaAllah’, ‘Insyaallah, ‘Insha Allah’ atau ‘In Sha Allah’. Yang terakhir digunakan dalam Bahasa Inggris, ada baiknya kita mulai memahami satu persatu maksud kosakata Bahasa Arab yang 12, 3 juta itu.

Jadi itulah salah satu sebabnya Allah menurunkan Al Qur’an dalam Bahasa Arab.

****

Al Albana, Andalas, Dzukkhaidah 1439

Kategori Sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close