Hatta Sang Sahabat Setia

Terhitung sejak 1 Desember 1956, Hatta mengundurkan diri dari Jabatan Wakil Presiden. Banyak hal yang menjadi penyebabnya. Salah satunya Soekarno yang gandrung bereksperimen meracik tiga ideoligi ; Nasionalis, Pan Islamis dan Komunis, yang disebut Nasakom menjadi Ideologi negara. Eksperimen ini pulah kelak yang akan menjungkalkan beliau dari Kursi Kepresidenan.

Sejak Hatta mundur Soekarno tidak menunjuk pengganti sampai akhirnya Seokarno terjungkal 10 tahun kemudian. Kenapa? Dari sekian banyak sosok saat itu tidak ada yang pantaskah menjadi pengganti Hatta?

Sebenarnya kedua sosok ini (Hatta-Soekarno) memiliki kharakter yang berbeda bahkan dapat disebut bertolak belakang. Soekarno seorang ekstrovert, senang dipuji, seorang orator ulung yang haus sorotan lampu kamera dan tepuk tangan, berpenampilan tendy, pria flamboyan penyuka pesta dan foya-foya, seniman yang senang keindahan termasuk kecantikan wanita, senang hal mistik (sebelum belajar pada Ahmad Hassan), emosional dan meledak-ledak sedangkan Hatta lebih kalem, tenang, tipikal seorang pemikir dan konseptur ulung yang lebih senang dibilik-bilik kesunyian lembaran kertas, lebih religius, hemat dan bersahaja.

Bahkan sebelum kemerdekaan mereka juga berbeda pandangan tentang konsep perjuangan dan bentuk negara. Mereka bersahut-sahutan menulis di media massa untuk menyampaikan gagasan masing.

Dulu Sukarno dan Hatta berdebat keras soal metode yang akan dipakai untuk mempersiapkan kemerdekaan. Sukarno bersikeras bahwa kesadaran rakyat untuk menuntut kemerdekaan dapat dicapai dengan agitasi dan provokasi. Bagi Hatta itu tidak mungkin. Kesadaran rakyat untuk secara bersama-sama menuntut kemerdekaan, hanya dapat dicapai melalui pendidikan. “Agitasi baik pembuka jalan! Didikan membimbing rakyat ke organisasi! Sebab itu usaha kita sekarang: Pendidikan!”. Begitu kata Hatta di dalam tulisannya berjudul “Pendidikan”, yang dimuat Daulat Ra’jat, 20 September 1932 .

Dalam bentuk negara, Hatta yang mendapat pencerahan Eropa karena bersekolah di Belanda lebih cenderung kepada ideologi sosialis dengan demokrasi liberal. Hatta menyakini bentuk negara Faderal seperti negara-negara maju di Eropa cocok untuk Indonesia yang majemuk sedangkan Soekarno yang tidak pernah tinggal di Eropa cenderung kepada negara kesatuan dengan sistim pemerintahan sentralisasi yang kuat seperti Kerajaan Majapahit pada zaman dahulu. Bahkan di awal kemerdekaan Soekarno memaksakan sistim partai tunggal untuk menciptakan pemerintahan yang kuat seperti di Jepang dan China. Namun upaya ini digagalkan oleh Sjahrir, seorang sosialis kanan yang tergila-gila dengan kemajuan Eropa dengan sistim multipartai.

Satu-satunya yang menyatukan mereka berdua adalah cita-cita kemerdekaan. Dwi Tunggal kita menjuluki mereka. Mereka bersatu demi kemerdekaan bercerai karena politik.

Meskipun berpisah, setelah mundur dari wakil presiden, Hatta tidak pernah mengkritik Soekarno secara terbuka, Ia lebih memilih mendatangi Soekarno sacara lansung dalam menyampaikan kritik daj saran yang akan disampaikan. Begitupula Soekarno, ia sangat menyayangi dan mencintai Sahabatnya, Hatta yang kini berpisah jalan. Mereka tidak pernah saling bermusuhan.

Konon khabarnya sebagian petinggi PRRI memintanya menyeberang ke Sumatera agar dapat didaulat menjadi pemimpin tertinggi PRRI, namun tawaran itu ditolak. Bahkan Hatta menasehati Keponakan dan para petinggi PRRI untuk tetap setia pada pemerintah pusat yang dipimpin Soekarno.

Februari 1970, beberapa bulan sebelum Soekaarno wafat, Guntur, Putera Sulung Soekaeno menikah, Rezim Orde Baru yang sangat represif melarang Soekarno hadir di hari pernikahan puteranya. Hatta menggantikan peran sahabatnya dihari pernikahan itu.

Pada masa Orde Baru segala yang berbau Soekarnoisme dihilangkan, sampailah pada wacana bahwa Siapa yang pencetus Pancasila? , Soekarno atau Muhammad Yamin. Orde Baru secara masih membangun wacana bahwa Ideologi Pancasila merupakan hasil pemikiran Muhammad Yamin bukan Soekarno. Sebelum 1 Juni 1945, Muhammad Yamin pernah berpidato tentang dasar negara sama seperti Pancasila. Hatta yang sudah tua dan mulai sakit-sakitan pada tahun 1973 gerah dan turun gunung membuyarkan rekayasa Orde Baru. Beliau marah atas pembelokan dan pengaburan fakta sejarah. Dengan lantang menegaskan bahwa Bung Karno adalah penggali Pancasila sebenarnya bukan Muhammad Yamin.

Hatta sahabat sejati. Begitulah sejatinya sikap seorang sahabat. Tidak mesti sejalan dan memuji tapi tidak pula membenci dan memusuhi saat terjadi perbedaan pendapat sehingga tidak seiring sejalan lagi. Sahabat adalah menyampaikan kebenaran meskipun sudah berpisaah jalan.

****

Al Albana, Andalas, Dzulkhaidah 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close