Natsir

Banyak tokoh mendaku sebagai penerus cita-cita Soekarno begitu pula dengan Hatta. Banyak pula sosok yang ditokohkan seolah-olah/seakan-akan/ dimirip-miripkan/ disama-samakan, didandani seperti Soekarno atau Hatta, meskipun hanya sebatas cara berpakaian atau kesamaan nama. Itu semua dalam rangka mencapai ambisi politik-kekuasaan. Berbeda dengan Natsir hampir tak pernah ada tokoh yang mendaku sebagai titisan–penerus cita-cita Natsir. Hanya berani mendaku sebagai murid Natsir, yaitu pakar Hukum Tata Negara pilih Tanding-Yusril Ihza Mahendra. Siapapun akan gentar jika berhadapan dengannya di pengadilan termasuk juga Makamah Konstitusi yang meloloskan gugatannya beberapa kali.
Kenapa tidak ada yang berani mendaku sebagai penerus cita-cita Natsir?

Saya pernah melihat cover salah satu buku yang berjudul politisi santun ala Natsir pada sebuah pameran buku. Namun sayang tidak saya membawa buku itu ke kasir kala itu.

Natsir adalah Politisi Islam-Ketua Masyumi, sosok seperti beliau ini yang kita rindukan saat-saat seperti sekarang ini. Ia tegas, lugas dan cerdas namun tetap santun. Tidak pragmatis apalagi opportunis namun bisa bekerja sama dengan kelompok mana saja. Tidak terbatas hanya dengan kelompok islam. Di era informasi tak bersekat ini barangkali pernah atau bahkan sering hadir di beranda sosial media kita berita tentang hubungan baik antara Natsir dengan Leimena-Pendiri Partai Kristen Indonesia dan Kasimo-Pendiri Partai Katholik Indoenesia. Gaya berpotik santun seperti inilah yang membuatnya tidak pernah ditangkap pada era kolonial Belanda. Pada masa Orde Baru beliau adalah salah seorang tokoh sentral Petisi 50 namun rezim tidak punya cara untuk mengamankannya.

Benarkah PRRI sebuah pemberontakan ?
Sama seperti tetangga dan kerabat lainnya. Nenek saya punya sebuah ladang yang sudah lebih 20 tahun tak pernah diurus. Terletak di seberang sungai kecil dan balik sebuah bukit yang hanya bisa ditempuh dengan jalan setepak dan medannya benar-benar sempit dan tanjakan tajam untuk mencapai ladang tersebut. Bukik Gulang-Gulang kami menyebut lokasi ladang itu.

Ketika nenek masih hidup, saya pernah bertanya kenapa kita punya kebun di ladang di sana?. Nenek bercerita bahwa ketika terjadi ‘Pergolakan’ PRRI, nenek dan seluruh warga kampung mengungsi ke sana. Ke bibir hutan agar tidak terkena peluru nyasar di tengah pertempuran Milisi PRRI dengan Tentara Pusat (TNI Pusat).

Pada masa sekolah dan dalam buku-buku pelajaran sejarah kita akan menemukan tentang pemberontakan pada masa Presiden Soekarno salah satunya adalah Pemberontakan PRRI di Sumatera.

‘Pemberontakan’ dan ‘Pergolakan’ secara etimologi punya makna yang berbeda. Meskipun jika ditarik secara kontekstual mempunyai makna yang sama atau mendekati sama. Orang-orang Minang menyebutnya pergolakan politik akibat ketidakmerataan dan ketidakadilan pembangunan, sedangkan pemerintah pusat mencap sebagai pemberontakan yang harus diselesaikan dengan bedil. Satu peristiwa dua nama. Tergantung sudut pandang yang digunakan.

Sekali lagi tokoh seperti Natsir yang lebih dibutuhkan ummat saat ini. Bukan sekadar yang mendaku sebagai penerus cita-cita Soekarno atau Hatta. Bukan pula mengecilkan peran kedua Proklamator itu. Tapi zaman sudah berbeda tentu saja situasi dan kondisi juga berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close