Jan Pieterszoon Coen Jangkung dan Hidung Belang

Jan Pieterszoon Coen, Gubernur Jenderal V.O.C untuk Hindia Belanda 1619-1623 lalu 1627-1629 merupakan Gubernur Jenderal yang paling populer hingga hari ini. Meskipun jasadnya sudah terkubur hampir 400 tahun silam namanya masih sering disebut, baik di Belanda maupun di Indonesia. Ia kenang layaknya seorang pahlawan padahal ia melakukan yang sebaliknya. Begitulah memori manusia, tidak hanya mengenang yang baik dan menyenangkan namun juga yang buruk dan mengerikan.

Kepala Sekolah di Amsterdam Timur sedang mencari nama pengganti untuk sekolah yang bernama Pieterszoon Coen Scholl. Nama sekolah ini memberikan presenden buruk bagi sekolah yang mendidik murid multi etnis serta terletak di kawasan yang kental nuansa Indonesia dengan nama-nama jalan Javastraat, Sumaterastraat dan Madurastraat.

J.P Coen menjabat sejak usia 32 tahun, hal pertama yang ia lakukan adalah merebut Jayakarta dari Kesultanan Banten, lalu merubah nama kota itu menjadi Batavia, menjadi pusat pemerintahan V.O.C di Nusantara.

Dalam rangka monopoli perdagangan Pala dan Cengkeh di Pulau Banda J.P Coen melakukan pembantaian terhadap penduduk asli pulau Banda. Hal ini terjadi akibat penduduk Banda telah terlebih dahulu berhubungan dagang dengan pedagang Inggris dan Arab dengan harga yang lebih tinggi. Pulau Banda yang awalnya dihuni 14.000 jiwa tersisa hanya 480 orang saja setelah peristiwa naas yang terjadi pada tahun 1621. Selanjutnya J.P Coen memasukan orang-orang dari Bugis, Makassar, Melayu, Tionghoa, Maluku dan Buton ke pulau yang sudah kosong itu.

Akhir hayat Jan P Coen juga tragis. Sebagian versi menyebutkan ia terbunuh pada serangan Mataram yang kedua kalinya ke Batavia. Seorang Intelegen Kerajaan Mataram berhasil memenggal lehernya. Wanita itu bernama Nyimas Utari dan bekerjasama dengan telik sandi dari Samudera Pasai-Mahmuddin yang belakangan menjadi suaminya. Ata perintah Sultan Agung pasangan ini berhasil menyusup ke benteng V.O.C di Batavia dengan kamuflase sebagai saudagar dari Aceh. Mereka dipercaya oleh J.P Coen sebagai mitra bisnis. Nyimas Utari leluasa masuk ke kastil dan bergaul dengan Eva Ment-Isteri Coen dan anak-anaknya.

Nyimas Utari berhasil membunuh Eva Ment dan anak-anaknya melalui racun sedangkan Mahmuddin berhasil masuk ke ruangan Coen dan melumpuhkannya. Sebagai bukti kepada Sultan Agung Nyimas Utari memenggal leher Coen dengan menggunakan golok kepunyaan Mahmuddin. Lalu mereka melarikan kepala itu. Namun saya Nyimas berhasil dilumpuhkan oleh peluru Kompeni selanjutnya kepala iti dilarikan oleh Mahmuddin secara estafet prajurit Mataram membawanya sampai sampai ke pusat kerajaan Mataram dan dikuburkan di tangga masuk Makam Imogiri–makam Raja-Raja Mataram. Setiap orang yang masuk ke Makam akan menginjak tangga yang dibawahnya berkubur kepala J.P Coen. Sebagai bentuk penghinaan. Hingga kini para peziarah yang paham cerita ini akan melakukan ritual pengutukan dengan cara menginjak-injak baris ke-716 sembari mengeluarkan sumpah serapah.

Sedangkan versi Sejarahwan Belanda J.P Coen meninggal mendadak pada 20 September 1629 tengah malam akibat penyakit kolera. Padahal padaa 17 September 1629 ia terlihat segar dan sehat saat memeriksa kesiapan prajuritnya dalam menghadapi serangan Mataram. Dan jasadnya dikubur di Balaikota (Taman Fatahillah) kemudian dipindahkan ke sebuah gereja tua (kini menjadi Museum Wayang). Namun Arkelog Belanda telah melakukan penggalian pada makam itu pada tahun 1939 tidak ditemukan tulang belulang. Sedangkan Tangga yang diyakini kepala J.P Coen bersemayam didalamnya belum pernah dilakukan penggalian untuk pembuktian.

Konon khabarnya sebutan ‘jangkung’ untuk orang yang bertubuh tinggi berasal dari namanya. Jan P Coen yang postur tinggi menjulang. Orang-orang Batavia menyebut orang-orang yang berpostur tinggi seperti Jan P. Coen dengan ‘Jan Coen(baca ; Jankun). Disesuaikan dengan lidah Batavia menjadi Jangkung.

Begitu pula dengan istilah ‘Hidung Belang’. Jan P Coen seorang penjaga moral yang fanatik. Ia tegas menegakan hukum termasuk kepada anak angkatnya-Sara Specx. Sara Specx danPieter J Cortenhoeff dua sejoli yang terbukti telah melakukan perzinaan. Hukum ditegakan Pieter J Cortenhoeff naik tiang gantungan, sebelum kursi injakan Pieter diambil wajah hingga hidungnya terlebih dahulu dicoret dengan arang yang hitam, sehingga hidungnya terlihat belang-belang. Konon hidung yang belang-belang inilah sebutan untuk laki-laki yang suka berzina. Meskipun seorang yang bengis dan ambisius ternyata J.P Coen seorang penjaga moral.

****

Al Albana, Andalas 11 Muharam 1440

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close