Bukittingi Pagi

Seperti halnya senja-peralihan siang ke malam, saya juga suka mengamati perubahan malam yang gelap menuju pagi yang terang. Seperti pagi ini
Setelah shalat subuh, sudah nangkring di jendela seperti burung kakatua yang giginya masih banyak. Menghayati perubahan temperatur warna dari 2000-an Kelvin sampai ke 4000-an Kelvin, menonton lampu-lampu yang padam satu demi satu, mengamati deretan bangunan yang diam sembari menebak segala kemungkinan yang terjadi di dalamnya sepanjang malam tadi.
Nyenyakkah tidur penghuninya semalam? Siapa yang resah dan galau ingin segera pagi?
Di ujung sana mungkin ada yang melewatkan malam tanpa tidur sama sekali. Barangkali ia menderita hypnophobia, semacam disorder di mana seseorang takut tidur. Atau ia seperti yang disebut Dr. Seuss, tak bisa tidur karena merasa kenyataan jauh lebih indah daripada mimpi. Itulah orang-orang yang sedang jatuh cinta dan memendam rindu.

Perlahan-lahan Langit berkelir lazuardi. Tapi tetap saya nikmati. Pagi mana pun terlalu indah untuk dilewatkan.Di sisi timur masih golden moment, tapi backlight, dan terlalu banyak kenangan yang harus saya ingat. Sehingga saya memilih memandang ke barat.
Dan mulai menghitung sesuatu yang tampak seperti noktah oranye dan perak. Saya simpan jumlahnya di hati. Mungkin hitungan kita beda. Apalagi, sebagai netijen yang kaffah, kita sudah lama terbiasa berselisih paham tentang apa pun.
Menurutmu, apa warna peci mua’zim yang mengumandangkan azan subuh di Masjid yang terlihat di foto ini ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close