Guru Keci’ Memberikan Kesempatan Untuk Berbakti Sejak Dini

Foto ini bertitimangsa 30 Agustus 2011, beberapa hari setelah lebaran. Kala itu usianya 17 bulan.

Tujuh tahun berlalu, serasa baru kemarin, kamu dilahirkan. Saat di photo itu kamu sudah mulai bisa memanggil ‘Bunda’, ‘Ayah’ dan baru bisa berjalan beberapa langkah. Dengan telaten kami mengajarkanmu merangkak, lalu berdiri dengan lutut goyah, lalu memberanikan diri untuk berdiri. Beberapa saat sebelum bunda berangkat haji kamu sudah bisa jalan dengan lancar.

Masih jelas diingatan saat mengajarkanmu pipis. mengangkatmu ke toilet sambil menepok-nepok pantatmu pelan-pelan mengucapkan ‘pis’ ‘pis’. Setelah usia dua setengah tahun kamu tak mau lagi menggunakan popok bayi selalu memberitahu jika ingin pipis dan pub. Lucunya kadang tidak dapat membedakan gejala pipis dan pup.

Usia empat tahun kami didaftarkanmu ke TPA, beberapa kali pernah rewel sehingga tak mau berangkat mengaji. Akhirnya dipaksa bundamu. Bahkan sampai setoran hafal huruf hijjaiyah kepada ustazah pun di pelukan bundanya. Ada satu kebiasaanmu setiap kali terlambat tiba TPA. Mendapati teman-temanmu sudah duduk rapi dengan kelompok masing-masing membuatmu grogi dan merasa bersalah. Loncat kecil di tempat sebanyak dua kali membuatmu merasa lebih nyaman sebelum bergabung dengan kelompokmu.

Pada Usia lima tahun kami mengajarkanmu bersepeda. Hampir tak ada peristiwa luar bisa untuk dikenang selama kamu belajar sepeda. Tidak ada bekas luka, atau kenangan kecebur ke dalam got atau menabrak dinding dan pagar rumah tangga. Itu karena kamu sudah memiliki dan mengunakan sepeda dengan roda bantu sejak usia dua setengah tahun. Namun saya tetap terkagum-kagum pada hari kamu bisa bersepeda tanpa roda bantu. Berselang dua jam setelah saya melepaskan kedua roda bantu kamu lansung bisa dan lancar tanpa sekalipun jatuh. Justeru yang menjadi kenangan adalah ketika membeli sepeda itu. Kita membeli sepeda itu pada sebuah toko di Ciledug yang berjarak 5 Km dari rumah. Mustahil kami memenuhi tuntutan bocah dua setengah tahun untuk mengendarai sepeda itu sampai ke rumah. Kamu terus meronta dan menangis sepanjang perjalanan pulang.

Begitulah nak, sebagian yang keterampilan fisik yang kami ajarkan dari sekian banyak nasihat-nasihat yang membuatmu terkadang bosan. Dulu kamu sepenuhnya menjadi objek pengajaran.

Waktu memanjangkan sulur-sulurnya. Sejak TPA dan sekolah sumber pengetahuanmu tidak hanya kami orangtuamu, namun juga guru-gurumu di sekolah dan TPA. Bahkan sejak beberapa tahun belakangan kami, terutama saya juga mendapat pengajaran darimu. Berkali-kali kamu membenarkan makhroja’ dan tajwid saya dalam membaca Al Qur’an. Kamu juga membantu saya dalam menambah hafalan surat-surat pendek. Bahkan kamu ‘mengajar-paksa’ saya untuk bisa memainkan game Mobile Legend. Hingga akhirnya kamu menyerah karena saya memang tidak suka dan tidak bisa main game.

Sekarang kamu sudah kelas 3, sebagian besar yang membimbingmu belajar di rumah adalah bunda. Tentu saja karena ia lebih banyak waktu bersamamu. Selainnya itu ia lebih menguasai daripada saya. Katamu “Kalau Ayah yang ngajarin nggak bakalan selesai, satu topik dibahas panjang lebar dari hal-hal yang penting sampai pada hal tak berguna, tapi lebih sering yang tidak penting”.

Tempo hari kita pernah bahas tentang satuan baku dan satuan tidak baku. Tanpa membaca buku paketmu saya memulai dengan sebuah pertanyaan kenapa ada satuan baku dan satuan tidak baku? Menerangkan panjang lebar bahwa satuan tidak baku sudah ada sebelum ada satuan baku. Tidak hanya menjelaskan satuan tidak baku seperti jengkal, hasta, depa. Saya juga memberi tahu bahwa bangsa Arab dan Persia zaman dahulu menggunakan farsakh untuk satuan jarak, sedangkan Nusantara seperti dalam cerita silat menggunakan lemparan tombak, sepeminum teh sampai waktu tempuh dengan menggunakan kuda untuk satuan jarak. Kemudian untuk satuan baku juga ada Sistim British dan Satuan Internasioal. “Kalau kamu di Eropa, jika ditanya tinggimu, jangan jawab 120, mereka akan kaget dan tak percaya masa iya bocah sependek ini 120, karena yang mereka maksud berapa kaki bukan berapa centi. Sama seperti bocah lainnya, senang mempelajari apa-apa yang diluar pelajarannya. Saya pun puas. Tapi semua ini hanya sedikit sekali membantumu dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dan soal ujianmu di sekolah.

Setidaknya ada pelajaran yang saya sering turut serta saat kamu belajar di rumah saat bunda yaitu Sejarah Kebudayaan Islam, Budaya Alam Minangkabau dan Bahasa Arab. Namun bunda tak pernah mempercayakan sepenuhnya kepadaku, walaupun ia percaya saya punya wawasan lebih dalam hal Sejarah Kebudayaan Islam dan Budaya Alam Minangkabau. Soalnya itu tadi. Saya mengajarkan tidak sesuai buku paket. Ada baiknya juga pengetahuanmu tentang dua pelajaran ini bertambah luas, namun ketinggalan dari materi yang diajarkan sekolah.

Nah soal bahasa Arab, sementara saya belum mendapatkan guru dan belum ikut kursus Bahasa Arab, maka saya mendaulatmu sebagai guru. Guru Keci’. Anggap saja sebagai kesempatan bagimu untuk berbakti kepada orangtua sejak dini.

****

Al Albana, Andalas 14 Muharam 1440

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close