Kebangsaan Menurut Buya Hamka

Berikut saya kutip tulisan Buya Hamka pada Buku Dari Perbendaharaan Lama pada bagian kelima sub pokok bahasan Kebangsaan Dengan Dasar Islam.

****

Dengan darah dan airmata, telah kita beli kemerdekaan ini. Syukur alhamdullilah kita telah mempunyai negara yang benar. Mungkin negara yang ke-6 besarnya dunia ini.

Salah satu dasar yang kita pilih, ialah kebangsaan.

Akan tetapi, rasa kebangsaan, bisa mendorong menimbulkan ‘chauvinisme’, kebangsaan sempit.

Yang di awak segala benar, yang di urang segala bukan”

Rasa kebangsaan bisa menimbulkan semacam hitlerisasi, dan itulah yang menghancur leburkan bangsa Jerman. Kita terdiri dari beberapa suku bangsa dan setiap suku bangsa mempunyai kemegahan sendiri, mempunyai dongeng sendiri tentang kebesaran nenek moyangnya. Mempunyai pahlawan sendiri, pahlawan khayalan. Jika suku bangsa Jawa memegahkan Gajahmada, Minangkabau pun punya Cindur Mato dan Melayu punya Hang Tuah. Biasanya bilamana pahlawan khayalan telah lama mati, kian banyak ditimbulkan atas dirinya tambahan dongeng sehingga dari manusia biasa, mereka dijadikan dewa.

Kebangsaan yang demikian, dapat memecah persatuan yang telah kita capai dan kemerdekaan yang telah ada dalam tangan kita.

Tidaklah di luar ukuran ilmu pengetahuan sejarah, jika saya katakan bahwa ajaran agama Islam telah turut menanamkan rasa kesatuan kebangsaan yang ada sekarang ini, sejak ratusan tahun lalu.

Ajaran Islam menekankan rasa kebaktian di tanah mana, di daerah manapun kita berdiam. Kehidupan itu adalah iman dan amal shaleh, dasarnya ialah taqwa kepada Allah SWT. Kepada orang tidak ditanyakan apakah bangsanya, yang ditanya lebih dahulu adalah keagamaannya dan baktinya.

Berkali-kali sejarah menunjukan bahwa orang dari daerah lain, dapat menjadi besar dalam suatu negeri, di dalam seluruh kepulauan Indonesia, walaupun nama Indonesia belum dikenal pada masa itu.

Sunan Gunung Jati, Fatahillah, atau Maulana Hidayatullah adalah keturunan Arab yang telah bercampur dengan darah Aceh. Ia menyebarkan Islam di Jawa Barat dan ia pula yang mendirikan kerajaan Banten dan Cirebon.

Ki Gedeng Suro, seorang bangsawan dari Demak, ketika di Demak terjadi kekacauan, ia melarikan diri ke Palembang. Ia diterima dan diangkat menjadi Raja Islam pertama di Palembang.

Orang-orang Melayu dari Malaka yang terpaksa meninggalkan tanah airnya karena Portugis telah menaklukan Kerajaan Islam Malaka (1511), mereka mengembara sampai Sulawesi dan menyebarkan Islam di Makassar. Mereka dihormati sebagai saudara seagama, dan gelar Incek masih dipakai oleh keturunan Melayu itu di Makassar sampai sekarang. Demikian juga setelah Kerajaan Gowa dan Tallo menerima Islam sebagai agama resmi tahun 1603 yang dibawa ke istana oleh mubaligh-mubaligh dari Minangkabau, mereka diterima dengan tangan terbuka. Mereka tidak dipandang hina sebagai orang pendatang karena yang mereka bawa bukanlah permusuhan tapi nur cahaya ilahi.

Setelah Kerajaan Bugis dan Makassar jatuh ke dalam cengkraman Kompeni Belanda, hangatnya nafas keislaman telah menjalar kedalam seluruh rongga jiwa putera Bugis-Makassar. Mereka pun mengembara di seluruh kepulauan nusantara, kadang-kadang menghalangi perjalanan kapal-kapal kompeni, kadang menjadi penyiar agama Islam pula.

Karaeng Galesong pergi ke Madura, diterima menjadi menantu oleh Trunojoyo dan berjuang bersama-sama melawan Kompeni Belanda.

Syekh Yusuf Tajul Khalwati mengembara dari Makassar hingga Banten, lalu diterima menjadi Mufti Kerajaan Banten oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan berjuang pula melawan Kompeni Belanda bersama Sultan Ageng hingga akhirnya diasingkan hingga Ceylon (Srilangka) dan tutup usia di Tanjung Harapan (Afrika Selatan).

Si Untung diberi gelar Suropati oleh Sultan Cirebon dan diberi gelar bangsawan–Wironegoro–pula oleh Amangkurat Mataram padahal ia budak asal Bali dan sebelumnya kafir penyembah berhala. Akan tetapi karena ia telah Islam dan berjuang untuk kemerdekaan, ia diterima menjadi bangsawan Jawa dan berjuang pula melawan Kompeni Belanda.

Sesudah punah keturunan pihak laki-laki dari Sultan Iskandar Muda Mahkota Alam di Aceh, berkali-kali keturunan Arab yang berdarah Indonesia menjadi Sultan di Aceh, sampai empat sultan. Diangkat juga orang Arab menjadi sultan di Siak dan Pontianak dan di Perlis (Malaya).

Setelah punah keturunan Arab, dirajakan di Aceh keturunan Bugis. Bahkan tujuh sultan Aceh turun-temurun sampai berjuang melawan Belanda di tahun 1870 adalah berdarah Bugis.

Sultan Deli adalah turunan raja-raja Moghul di India.

Islam tidak membedakan di antara keturunan Arab bangsa sayyid, dengan keturunan budak belian dari Bali dan pengembara lautan dari Bugis, semuanya diterima dengan ahlan wa sahkan, yang dihitung bukan bangsa dan keturunan, tetapi bakti, jasa, dan tujuan hidupnya.

Inilah pusaka nenek moyang, bekas ajaran Islam, yang harus kita pegang teguh menjadi modal untuk menegakan kebangsaan kita sekarang ini. Jangan kita kembali ke jaman jahilliyah, membuka tambo lama yang dapat menyebabkan dendam dan sakit hati.

Bertambah mendalam kefanatikan agama Islam di suatu daerah, bertambah luas dadanya menerima tetamu. Walaupun tamunya orang Kristen. Ingatlah zaman perjuangan kemerdekaan.

Takkala Tuan L.J. Kasimo seorang pemeluk Katholik berjalan dari desa ke desa bersama Dr. Soekiman, meskipun rakyat Islam di desa itu mengetahui beliau seorang Katholik, ia telah dihormati sebagaimana menghormati Pak Kiman. Sampai dibuatkan baju untuk mengembara di hutan. Sampai terlanjur dari mulut Pak Kasimo :”ah, biarlah saya menjadi penasihat Masyumi saja”.

Takkala Sdr. Hoetasuit (ex Sekjen Kern PP dan K) dan Ir. Sitompul turut berdarurat di daerah Minangkabau di zaman agresi militer Belanda kedua, ia disambut di kampung-kampung seperti menyambut keluarga juga, walaupun orang-orang tahu ia penganut Kristen.

Bagitu murni ajaran Islam, memandang orang karena bakti bukan karena suku bangsanya, kita harus kembali kepada ajaran itu dalam membina kebangsaan kita sekarang ini.

Kita terdiri dari beribu-ribu pulau. Terdiri dari beratus suku bangsa, yang masing-masing punya kemegahan sendiri untuk mengokohkan kesatuan, carilah alat perekat yang asli, teladan dari langit.

Janganlah dengan Gajahmada, Hayam Wuruk, jangan dengan Hang Tuah dan Cindurmato. Akan tetapi dengan Islam karena itulah pokok damai kita.

****

Disalin dari buku : Dari Perbendaharan Lama hal 172-174 karya Hamka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close