Perihal Orang Siak dan Islam Masuk Minangkabau

Setelah sempat tertahan di ruang belakang, piring dan mangkok yang berisi aneka lauk-pauk dan sayuran, tentu saja nasi putih menjulur ke ruang keluarga yang sebelumnya semua kursi dan perkakas telah disingkirkan. Sebuah karpet permadani berwarna merah bata menutupi hampir keseluruhan lantai ruangan itu. Lauk dan sayur ditata sedemikian rupa, diselingi oleh piring-piring yang berisi nasi putih. Mangkok nasi ‘tambuah’ serta semangka yang sudah dipotong-potong dan beberapa sisir pisang menyempurnakan pemandangan yang terhampar di atas permadani. Amboii, menggugah selera.

Dari belakang muncul Elok, ” alah salasai hidangan, suruah urang siak masuak lai”. Ia menitahkan kepada saya untuk menyuruh Orang ‘Siak’ dan tentunya seluruh tetangga dan kerabat yang sempat tertahan di teras karena hidangan belum selesai disajikan di ruang keluarga yang sore itu disulap menjadi ruang untuk menghaturkan Do’a Syukuran Qur’ban. Dan kami beserta sekitar 20-an undangan mengepung hidangan yang telah disajikan. Tentu saja setelah orang siak selesai memimpin do’a.

Kami di Minangkabau menyebut orang-orang yang alim–orang-orang yang memiliki ilmu agama (Islam) melebihi orang kebanyakan– dengan sebutan orang ‘siak’. Sebutan untuk lebai-lebai (orang-orang yang mengurus Surau/Masjid). Kata ‘siak’ juga kami gunakan untuk menyebut mereka sedang berusaha untuk hidup lebih baik sesuai tuntunan Islam. “Wah, batambah siak si Malin sajak pulang dari rantau”-wah, bertambah alim si Malin sejak pulang dari rantau-. Siak sebutan untuk seseorang yang dalam hidupnya tekun menjalankan agama.

Siak adalah sebuah wilayah yang saat ini berada di Provinsi Riau. Sebuah Kabupaten yang berada di aliran sungai yang juga bernama Sungai Siak.

Di Semenanjung Tanah Melayu (Malaysia) umumnya yang disebut siak memang pengurua harian Masjid, sampai kepada yang memandikan dan mengkafani jenazah, mereka itu disebut orang siak. Baik di Semanjung Tanah Melayu maupun di Minangkabau, kata siak berkaitan erat dengan agama (Islam).

Dr. Syekh Abdullah Ahmad, ulama besar Minangkabau seangkatan dengan Haji Rasul-Ayah Buya Hamka), pendiri Yayasan PGAI dan Adabiah Padang, bahwa pepatah Minangkabau yang terkenal; “Adat manurun, syarak mandaki” mendakinya syara (agama Islam) dari daerah Siak menuju pedalaman Minangkabau. Tentu saja pendapat ini bertentangan dengan arus utama masyarakat Minangkabau bahwa syara(islam) mendaki dari Ulakan- Pariaman yang dibawa oleh Syekh Burhanuddin menuju pedalaman Minangkabau (darek), sekembali dari. Aceh dan berguru kepada Syekh Abdurrrauf.

Syekh Abdullaah Ahmad tidak menerima pendapat bahwa Islam pertama kali masuk Minangkabau dari Pariaman dibawa Syekh Burhanuddin (1646-1704 M). Karena jika demikian Islam baru masuk ke Minangkabau pada penghujung abad ke-17. Sedangkan pada peralihan abad 16-17 mubaligh-mubaligh dari Minangkabau telah menyebarkan Islam di Sulawesi. Datuk Patimang alias Khatib Sulung berhasil meng-islam-kan dari Kerajaan Luwu pada 1603, Datuk Ri Bandang alias Khatib Tungga meng-islam-kan Kerajaan Gowa-Tallo Pada 1607. Sedangkan Datuk Ri Tiro alias Khatib Bungsu bergerak ke arah Tiro, Bulukumba dan Bantaeng.

Alasan Syekh Abdullah Ahmad menyakini Islam masuk Minangkabau dari Siak adalah : “ialah orang-orang yang ahli dalam hal agama Islam, sejak dahulu sampai sekarang disebut orang siak”.

Siak adalah Minangkabau Timur ; sejak dari Rokan, Kampar dan sekiran Sungai Siak. Jika seseorabg terlihat ahli dalam agama Islam kelihatan, mereka dihormati dan disebut orang siak. Sampai sekarang masih seperti itu.

****

Al Albana, Andalas, 22 Muharam 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close