Pulang ; 2 Mission Complete & 2 Mission Failed

Pulang ke rumah (masa kecil) selalu menghadirkan cerita basi untuk dikisahkan.

Tidur lewat tengah malam dan gerimis yang turun sejak dini hari, terlihat selimut seolah-olah melambaikan tangan sesaat setelah menunaikan sholat subuh. Tidur lagi terasa nikmat sekali.

Dengan sedikit sisa kantuk , saya meneguhkan diri untuk bangkit. Menuju dapur dan membuka pintu belakang. Gerimis sudah berhenti namun mentari belum mampu mengusir halimun pagi itu. Tidak seperti anak PAUD hingga SD ‘bangun tidurku langsung mandi‘ saya kelilingi seluruh bagian dalam rumah, paling depan kamar Abak-Amak hanya sebuah ranjang, lemari pakaian dan sebuah meja di bibir jendela yang sebagian ditutupi debu. Sebuah kamar tanpa penghuni sejak 2 bulan silam. Terkenang Amak yang sudah tiada sejak 7 tahun silam, disusul abak sejak dua bulan lalu. Dada terasa sesak. Bulir bening memenuhi pupil mata.

Menghindar, naik ke atas. Sepi. Tak seorang pun, sebuah televisi yang sudah tak berfungi dan radio milik Buyuang Kuruih. Sudah lebih dari enam bulan ia tidak tidur di salah satu kamar atas. Biasanya lewat tengah malam ia pulang masuk melalui pintu samping dan naik ke atas lalu tidur. Setelah mandi berangkat untuk beraktifitas. Keluar rumah melalui halaman belakang. Pisang yang ditanam enam bulan lalu sudah berdaun hijau dan lebar. Barangkali Tak berapa lama lagi akan nongol jantungnya terlebih dahulu, lalu disusul tandan seterusnya cikal buah berusaha keluar dari kelopak jantung itu.

Oh, hampir lupa, misi pulang kampung yang diusung sejak kemarin petang ; menulis ulang batu nisan amak yang sudah tidak terbaca dengan jelas. Masuk kembali ke dalam membawa kantong yang berisi cat berwarna emas, tiner, kuas lukis, amplas dan kain lap. Tak perlu berlari, pemakaman hanya berjarak 396 langkah dari rumah. Sebuah pandam -perkuburan-kecil kaum caniago.

Setelah disiram dan diamplas untuk menyingkirkan lumut yang menempel lalu dilap hingga kering. Mencelupkan kuas ke dalam cat emas yang sudah ditambahkan sedikit tiner serta diaduk hingga kalis. Setengah jam berlalu. Beberapa kali sapuan kuas keluar dari pahatan huruf yang telah membuat cekungan. Sadar saya bukanlah penerus Van Gogh dan tidak punya bakat perupa seperti Basuki Abdullah, Affandi atau Antonio Blanco. Tapi hal yang seharusnya mudah ; sekadar memasukan cat ke dalam pahatan huruf. Tak perlu imajinasi. Hanya butuh ketengan dan fokus.

Sepertinya ada yang kurang. Kopi. Iya kopi. Meninggalkan pekerjaan sejenak. Jika dikalkulasi progres pengerjaan baru 10%, kembali ke rumah yang berjarak selemparan ketapel. Masuk dapur melalui pintu belakang. Memasak air. Menyalakan kompor, menaruh ketel berisi berisi air siap untuk didihkan. Beberapa bentar ketel mendecis, air mendidih.

Kopi dengan mudah ditemukan. Saya tak menemukan gula. Celingak-celinguk, memfokuskan pandangan di antara deretan bumbu dapur. Sebuah stoples plastik dengan tutup berwarna orange menyembul di antara kantong-kantong plastik aneka warna. Saya tangkap kepala yang berwarna orange itu, sedikit ayunan di udara seperti Chef Barapati. Dan adegan selanjutnya ternyata stoples tidak ditutup dengan sempurna. sehingga hanya tutupnya yang ikut tangan saya, sementara badan stoples jatuh berdebam ke lantai, menumpahkan hampir seluruh isinya ke seantero lantai dapur. Sambil mengutuki diri sendiri (bukan Ratna Sarumpaet) saya menghabiskan hampir sepuluh menit untuk menjumputi nyaris setengah kilo gula pasir, menyapu yang tak tertolong, dan mengelap lantai dari lengket. Dan setelahnya menuag air ke dalam cangkir yang sudah berisi kopi dan gulaa dengan komposisi 1: 1.

Kembali ke areal pemakaman dengan secangkir kopi di tangan. Berjalan dengan sedikit pelan. Penulisan ulang di nisan amak selesai. Misi pertama tuntas dalam waktu tidak cukup dua jam.

Saat membereskan peralatan dan sisa bahan, uni Tina melintas, pulang dari mengantarkan Salbina-Puteri bungsunya dari PAUD. Ia mampir dan kami ngobrol tentang putera sulungnya Fadhil, yang telah menuai banyak pujian dan nihil cacian–tidak seperti Jokowi yang berlimpah pujian sekaligus juga cacian–dari para ibu-ibu dan nenek-nenek di kampung itu karena prestasi akademis dan terlebih kesantunan dan penguasaan ilmu agamanya. Bayangkan Anak kelas 3 MTsN sudah bisa dipercaya menjadi imam sholat serta memimpin zikir serta do’a-do’a setelah sholat. Ia memang mempunyai minat yang tinggi dalam ilmu agama. Ia menjadi oase ditengah gersangnya generasi muda yang berminat meneruskan kepemimpian spritual di kampung kecil ini.

Matahari masih belum mampu menyingkirkan awan. Mendung tebal coklat-kehitaman masih menggantung di langit laksana kopi susu kurang diaduk. Sepertinya tak lama lagi hujan akan pecah.

Misi kedua harus ditunda. Tak bisa dieksekusi hari ini. Penyemprotan pestisida untuk membasmi gulma seperti rumput liar, pakis, keladi, tanaman merambat dan pohon-pohon kecil yang tumbuh di areal pemakaman tidak akan efektif dilakukan saat musim hujan seperti ini. Pelepah kelapa yang berjatuhan pun masih basah akibat hujan beberapa hari belakangan sehingga mustahil bisa diunggun. Misi kedua; membersihkan areal pemakaman ‘failed‘.

Hari menunjukan pukul 10.00 teringat semalam plank nama surau sudah selesai dan sudah sampai. Mision alternatif ; memasang plank “Surau Tangah Padang” Korong Lampanjang, Nagari Kuranji Hilir, disertai ilustrasi masjid begitu yang tertulis dengan cat berwarna hijau dan latar putih di plank berukuran 1,5×1 m.

Menggali lubang untuk membenamkan tiang penyangga plank sedalam 70 cm itu sendiri, di-mandori oleh Mak Etek Kabun yang berdiri disanggah oleh sepasang tongkat yang telah sepuluh tahun menemaninya. Kupluk berwarna coklat juga telah lama menutupi rambutnya yang mulai menipis dan beruban. Dari mulutnya keluar asap seakan-akan seperti cerobong lokomotif.

Galian sedalam 70 cm dengan lebar 30×30 selesai namun sayang panjang tiang penyangga plank kurang ideal. Sebagaimana plank nama semestinya cukup tinggi sehingga terlihat dari kejauhan. Setelah coba dimasukan tiang penyangga plank ke dalam lubang terlihat terlalu rendah. Tak ingin menuai ejekan dari ratusan pasang mata yang memandang “sia ko nan mambuek dan mamasang, cayah karajonyo” Pipa yang menjadi kaki penyangga plank ini mesti disambung dengan bantuan mesin las.

Masalahnya bengkel las berjarak hampir 1 km, mustahil sanggup memanggul plank dengan bobot sekitar 30 Kg. Solusinya dengan pick up atau truck pasir yang sering berlalu lalang. Dengan otoritas yang tak terbatas di korong Lampanjang Mak Etek Kabun yang saat ini bocah sering memanggilnya dengan “Ungku Tungkek”-Kakek Tongkat- mencegat truk pasir yang menuju arah sungai (searah dengan bengkel las) dengan sedikit basa-basi dan candaan Plank nama surau dinaikan ke atas bak truk, dan meluncur. Saya dan Ungku Tungkek mengikuti dengan motor.

Setelah berembuk dengan tukang las ketemu angka 80 cm untuk tambahan tinggi kaki plank penyangga. Tak cukup sebatang rokok Coffe Mild Ungku Tungkek proses penyambungan selesai. Tinggal kini menunggu truk pasir untuk membawa kembali ke tempat semula.

“Ndak mungkin doh Al, kito manungu nan ndak jaleh, pulang kito dulu” usulnya

“Tapi plank iko sia nan ka mambaok pulang?” tanya saya

Dengan gaya ala Jenderal Sudirman, ia memberikan komando kepada Tukang Las agar mencegat truk pasir yang lewat untuk membawa kembali plank nama surau itu. ”Siap” balas tukang las. Ia segera menghentakan pantat di jok motor, melalui spion saya melihatnya telah selesai merapikan tongkat dan saya memutar gas motor secara perlahan-lahan.

Tak berselang lama baru saja selesai memarkirkan motor, sebuah truk pasir berhenti dan menurunkan plank nama itu. Kemudian Ajo Ril, Ma’ Un dan beberapa orang lainnya berdatangan membantu membenamkan tiang penyangga itu ke dalam lobang galian. Ungku Tungkek dengan asap yang terus mengebul mematut-matut sekali-kali memberikan intruksi agar plank itu berdiri lurus dan presisi. “Karajo kito ka diponten urang banyak, jan sampai ada cacek!”-Kerja kita akan dinilai oleh banyak orang, jangan ada cacat-Ia menegaskan. Kami secara bergantian menuangkan adukan pasir, semen dan kerikil ke dalam lubang galian hingga tertutup kembali. Pukul 3 Petang Plank nama Surau Tangah Padang berdiri dengan gagah. Kami pun puas.

Kerjaan selesai, dilanjutkan ngombrol di beranda depan. Berbagai topik yang kami bahas mulai dari pemilu hingga masalah jomblo dan orang terlantar di masa tua. Keasyikan ngobrol karena sudah lama tak berjumpa dengan beberapa kerabat yang menyebar di kota-kota yang berbeda tak berasa jarum jam sudah menunjukan pukul 5 petang. Dan saya harus kembali ke Padang. Satu persatu pamit pulang dengan berbagai alasan. Saya pun demikian. Membersihkan badan dan bersalin. Sebuah tas kulit berwarna hitam yang menggantung di balik pintu kamar dari kemarin saya sambar dan memasukan pakaian kotor kedalamnya.

Di perjalanan baru ingat bahwa saya sudah hampir dua bulan tidak memangkas rambut Ma’ Enek-Pak De’ kalau di Jawa. Ma’ Enek-adik dari ibu, sejak satu setengah tahun lalu menderita stroke. Selain abak, Ma’ Enek lah ‘pasien’ tetap mesin cukur yang saya beli sejak setahun yang lalu. Telah lebih dua bulan Abak berpulang , tinggalah Ma’Enek lah satu-satunya yang menjadi alasan mesin itu menderu, agar tidak karatan.

****

Al Albana, Andalas, 25 Muharam 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close