Ratna ; Dibela Saat Dusta Dicela Kala Jujur

Ratna seorang seniman sekaligus seorang aktifis HAM dan feminis. Sebagai seorang seniman ia menghabiskan hidupnya dari panggung ke panggung, memerankan aneka lakon dalam dunia teater. Namun kebanyakan orang mengenal namanya sebagai aktifis dan belakangan sebagai polotisi.

Sebagai seorang aktifis, ia sangat kritis tidak hanya pada pemerintahan sekarang tapi juga pada pemerintahan sebelum-sebelumnya. Terakhir sebelum kasus “penganiayaan“, ia menyebut bahwa pemerintah telah memblokir rekening Ruben PS Marey, seorang warga Papua yang telah menerima transper dari Union Bank Switzerland (UBS) sebesar 23 triliyun untuk pembangunan Papua, karena Ruben merupakan salah seorang tujuh keturunan raja-raja Nusantara. Uang itu berasal dari Raja-raja Nusantara yang tersimpan sejak ratusan tahun.

Sebagian besar dari kritikan saya tidak pahan, barangkali kapasitas otak saya tidak mencukupi untuk mengikuti cara berfikir seorang seperti Ratna.

Saya dan barangkali juga sebagian anda pasti bersepakat bahwa Ratna juga manusia biasa, seperti kita, punya pikiran jernih, hati nurani, Sebagaimana sebagaimana kita semua, meskipun kadang meledak-ledak. Ratna juga subjek hukum dan juga punya hak azasi serta sebagai saudara seiman kita hendaknya ikut menjaga kehormatannya.

Kebohongan yang ia rekayasa dan disebar-luaskan oleh sebagian dari kita tentu bertentangan dengan pikiran jernih dan nurani Ratna. Beban itu tak bisa ia tahan terus menerus, itulah yang menuntun untuk menyatakan ; pengakuan akan laku bohongnya dan disertai permohonan maaf.

Biarkan proses hukum berjalan. Kita berikan kesempatan kepada penegak hukum untuk menindak. Agar proses pengadilan berjalan lancar tak perlu kita melakukan ‘presure’.

Saya membayangkan betapa tak mudah, betapa berat, fase-fase yang harus ia lewati itu. Mengaku salah dan minta maaf, di negeri di mana banyak manusia dan ‘elite’nya berlomba tepuk dada sebagai ‘Pembawa Obor Kebenaran, hal yang dilakukan Ratna adalah loncatan.

Bandingkan dengan pejabat dan politisi yang sejak dari mulai tersangka hingga terpidana tak pernah merasa khilaf apalagi bersalah, ada saja alasan untuk pembenaran tindakannya. Jangan pula bandingkan RS satu lagi yang tidak punya itikat untuk menyelesaikan tuduhkan kemenpora kepadanya mengenai perabot rumah tangga seperti: sendok, garpu, piring, camera dan lainnya yang belum dikembalikannya.

Berbeda dengan lelaki, Ratna, perempuan 70 tahun itu pasang badan. Ia mengaku salah dan minta maaf. Ia pasti sadar hujatan dan caci maki keji akan segera menyusul pengakuan jujurnya, seperti tsunami Palu, akan menyebabkan ‘Gempa politik’. Ia pasti paham, hukum akan segera mengejarnya seperti kutukan. Itulah yang terjadi. Ia tak mundur atau berkelit.

Menyesal dari kesalahan dan kekeliruan hanya dapat dilakukan oleh orang berjiwa besar, Ratna telah memulai, kita berharap ‘Orang-Orang besar’ lain juga namun justeru sebaliknya, momentum kebohongan Ratna justeru digoreng dan memolesnya sebagai senjata, adakah mereka mengaku salah? No! Mereka tetap menganggap Ratnalah biang kerok persoalan. Ratna harus digerus, dicincang. Karena Ratna sudah menggoreskan aib, kubu sebelahnya juga sama, tak kalah buasnya. Berjingkrak kegirangan, berasa dapat mendapat amunisi untuk menyerang.

Tindakan politisi ini meskipun menjijikan namun dapat diterima akal. Namanya juga ‘pengasong suara’ musiman, jangankan ‘bangkai gajah’, ‘lalat mati’ pun akan ‘digoreng’ dijadikan umpan untuk mendapatkan suara. Yang saya tak dapat pahami adalah mereka yang dengan semangat 45 menyebarkan berita ‘penganiayaan Ratna’ dan membabi-buta membelanya namun setelah mendapatkan informasi pengakuan kejujuran Ratna, berbalik menghujat dan mencaci-maki dengan berbagai macam tuduhan. Dengan bahasa yang tidak enak untuk dibaca.

Dari dulu saya memang tak pernah simpatik terhadap tindakan dan pernyataan Ratna, namun saya berusaha menjaga lisan terhadap seorang perempuan apalagi yang sudah tua. Barangkali ada yang seumuran ibu atau nenek kalian.

Saya hanya berusaha menegakkan kewarasan–yang saya tahu juga bukan perkara mudah di zaman informasi yang membludak tanpa diayak di era di digital saat ini. Saya berusaha agar tidak tergesa-gesa terhadap sebuah berita. Mengendapkam sejenak, lalu menarik nafas dalam-dalam, memberikan kesempatan akal sehat untuk berfikir. Menahan diri untuk berkomentar dan berbagi (share) kecuali secukupnya dan sekadar saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close