Agus Salim dan Generasi Kedua Minang

Pada 1837, Tuangku Imam Bonjol dijebak ; Ia datang untuk berunding ke Padang namun ditangkap dan dilayarkan ke Batavia, selanjutnya diasingkan ke Lutak-Minahasa hingga meninggal di sana. Perang Paderi usai, namun Belanda belum sepenuhnya menguasai Minangkabau. Sisa-sisa kekuatan kaum paderi masih berpengaruh di Minangkabau.

Kolonial Belanda merubah strategi dengan merangkul sisa-sisa kekuatan Paderi. Tokoh-tokoh yang berpengaruh diangkat menjadi pejabat kolonial termasuk Tuangku Abdul Rahman-Kakek Agus Salim Menjadi pejabat kantor Residende Padang Darat, selanjutnya menjadi Hoofdjaksa di Bukittinggi dan Padang.

Tanam Paksa berakhir,partai yang berhaluan liberal di parlemen Kerajaan Belanda mendesak agar bumiputera tanah jajahan diberikan hak mendapatkan pendidikan. Selainnya itu politik etis dengan mendirikam sekolah untuk pribumi juga akan menguntungkan pemerintah Kolonial. Bumiputera yang tercerahkan oleh pendidikan dapat digunakan sebagai amtenaar -pegawai kolonial- dengan gaji rendah, dengan begitu Pemerintah tak perlu lagi mendatangkan amtenaar dari negeri Belanda dengan gaji tinggi untuk mengurus birokrasi di tanah jajahan termasuk di Minangkabau.

Maka didirikan sekolah, yang masih terbatas bagi putera pegawai kolonial. Pegawai Kolonial Belanda di Minangkabau menyambutnya dengan antusias dengan mengantarkan putera mereka ke sekolah buatan Kolonial Belanda, termasuk HoffDjaksa Abdur Rahman mengantarkan Puteranya Muhammad Salim (ayah Agus Salim) ke sekolah milik kolonial Belanda di Koto Gadang.

Generasi awal yang mendapatkan pendidikan Belanda sesuai harapan pemerintah Kolonial Belanda : setelah tamat mereka bekerja untuk pemerintahan Kolonial Belanda. Muhammad Salim menjadi hoffdjaksa seperti ayahnya, begitu pula dengan begitu pula dengan Muhammad Rasyad-ayah Sutan Syahrir dan Rohana Kudus-seorang Hoffdjaksa di Medan, Tuangku Oesman Bagindo Khatib-Ayah Muhammad Yamin dan Djamaluddin Adinegoro seorang mantri pertanian, Ayah Chairil Anwar hoffdjaksa di Rengat. Mereka semua adalah generasi pertama yang mengenyam pendidikan dari sekolah yang didirikan pemerintah kolonial Belanda. Hasilnya pun sesuai maksud dan tujuan pendirian sekolah yaitu mendapatkan pegawai dengan gaji lebih rendah daripada mendatangkan dari negeri Belanda untuk menjalankan pemerintahan di tanah koloni.

Namun pada generasi kedua–putera-putera mereka– tujuan pemerintah kolonial Belanda meleset. Seperti Agus Salim, Sutan Syahrir, Muhammad Yamin, Djamaluddin Adinegoro, Abdul Muis dan banyak lainnya, setelah mendapatkan pendidikan di sekolah yang didirikan Kolonial Belanda mereka enggan bekerja untuk pemerintahan kolonial Belanda, justeru dari generasi kedua ini tumbuh kesadaran dan benih-benih perjuangan untuk mencongkel kekuatan kolonial dari tanah air mereka. Sebagian besar tokoh pergerakan nasional dari Minangkabau adalah putera dari pejabat yang menjalankan pemerintahan kolonial di Minangkabau kecuali Hatta yang berasal dari keturunan saudagar dan ulama.

****

Al Albana, Andalas, 28 Muharam 1440

Satu tanggapan untuk “Agus Salim dan Generasi Kedua Minang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close