Film Liam & Laila Terselamatkan Oleh Mak Uwo Nizar dan Pian

Masuk teater 4 XXI TransMart tanpa antusias, karena belum pernah mendengar tentang film ini sebelumnya. Liam & Laila film ini diberi judul, hanya saya dengar dari isteri-yang mengajak nonton sore itu.

Tiba sedikit telat, tapi memang disengaja selain tak ingin melihat kampanye Jokowi sebelum film diputar, anak saya juga takut dengan cuplikan film-film horor yang akan tayang yang biasanya diputar beberapa saat sebelum film dimulai.

Film yang disutradarai oleh Arief Malim Mudo, (sutradara film Surau dan Silek) mengangkat tema budaya Minangkabau yang berusaha bertahan ditengah desakan modernisasi akibat globalisasi.

Laila seorang gadis Minang berpendidikan tinggi (S-2), tumbuh dalam keluarga yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam dan menghormati tradisi-adat. Laila telah berusia 31 tahun. Pian-adik laki-laki Laila didesak oleh pacarnya untuk segera dinikahi, sedangkan Pian tidak boleh melangkahi Kakaknya, Laila.

Sehari-hari Laila menjual aneka aksesoris hasil kerajinan secara online. Ia berkenalan dengan seorang pemuda Prancis–Liam, seorang yang tengah mempelajari Islam akibat Islamphobia yang melanda Eropa–melalui facebook. Perkenalan itu menyeret Liam ke Bukittinggi untuk memperjuangkan cinta sekaligus menelusuri penasarannya terhadap Islam.

Masalahnya muncul ketika Ma’ Uwo Nizar-kakak dari ibu Laila- sebagai Tungganai (pemegang otoritas) Rumah Gadang belum percaya sepenuhnya akan itikad baik dari Liam yang ingin mempersunting keponakannya, meskipun begitu ia juga tidak menolak mentah-mentah keinginan Liam.

Saya melihat Arief berhasil menonjolkan kharakter Ma’ Uwo Nizar sebagai yang dituakan di Rumah Gadang, ia bijaksana, berani dan tegas. Ia menolak dengan alasan yang jelas bahwa Liam seorang pemuda asing yang datang dari jauh, dengan agama dan adat yang berbeda, tidak jelas asal-usulnya, terlebih lagi belum diketahui motifnya untuk menikahi Laila. Kalaupun Liam masuk Islam jangan-jangan hanya untuk menikahi Laila, setelah mendapatkan Laila akan berpaling kepadaaa keyakinan lama. Namun walaupun begitu ia masih memberikan ruang bagi Jamil-adiknya dan Pian-adik Laila untuk menyelidiki keseriusan Liam terhadap Laila dan Islam.

Pada sisi lainnya, walaupun Ma’ Uwo Nizar belum merestui hubungan Liam-Laila, sebagai Tungganai Rumah Gadang ia, membela adik dan keponakannya ketika Datuk-Datuk di kampung merasa tersinggung karena tidak diajak berunding dalam rencana pernikahan Liam-Laila. Ma’ Uwo Nizar tegas dan keras tapi dengan tetap sopan menghadapi datuak-datuak. Ia sosok yang tegas dan keras ke dalam (kepada keponakan dan adik) namun juga menjadi pelindung rumah gadang dari luar. Inilah yang dimaksud dengan bijaksan. Inilah karakter aseli seorang Bundo Kanduang dalam rumah gadang.

Dengan keinginan sendiri Liam memeluk Islam, bahkan tanpa garansi dari pihak keluarga Laila menerima lamarannya. Masalahnya ia hanya punya punya waktu 30 hari sebelum dideportasi.

Plot cerita yang dibangun menurut saya terlalu monoton, hampir tak ada kejutan bahkan terputus dan meloncat. Tidak ada ada scene yang memperlihatkan Ma’ Uwo Nizar telah menyetujui hubungan mereka.

Tiba-tiba mereka telah direpotkan oleh urusan birokrasi yang berbelit-belit, dibuat repot oleh aparat yang sok tertib adminitrasi yang tak jelas dalam mengurus syarat-syarat pernikahan Liam dan Laila.

Setelah masuk Islam, Liam dikhitan. Barangkali sutradara ingin membuat drama komedi pada scene ini tapi saya merasa seperti sedang menonton serial FTV yang nyasar ke Bioskop. Soalnya terlalu garing dan tak logis.

Selesai operasi khitan, Liam pergi ke mesin ATM yang berada di areal Rumah Sakit untuk mengambil uang untuk menyelesaikan biaya rumah sakit. Kartu ATM-nya kesedot karena terlambat memencet tombol mesin ATM. Tiba-tiba dua orang Satpam datang dan menuduhnya hendak kabur tanpa menyelesaikan biaya rumah sakit. Liam coba menjelaskan namun kedua satpam itu tidak memberikan kesempatan. Massa yang sudah terbiasa curiga terhadap segala hal-hal asing ikut mengepung Liam. Melontarkan berbagai tuduhan. Dengan bersarung Liam lari untuk menghindari amukan masa. Untung Pian yang melihat kejadian itu dari angkot. Ia turun dan membubarkan masa.

Terlalu banyak jika ingin membahas kekuragan film ini. Film dengan lokasi syuting hampir 80% di Bukittinggi tapi sayang sekali tidak mengekplorasi keindahan alam Bukittinggi yang konon khabarnya, jika seorang Arab tertidur di Gurun Sahara, lalu tengah malam jin memindahkannya ke Bukittingi. Saat bangun pagi ia menyangka telah mati dan masuk surga. Ilustrasi musik saluang dan bansi yang menjadi ciri khas musik minang juga tidak terdengar sepanjang tayang film ini.

Selain karakter Ma’ Uwo Nizar yang membuat saya terus menyaksikan film ini adalah tokoh Pian, dengan celetukan dalam Bahasa Minang yang menggelitik dan tingkahnya yang ciluah’, konyol serta ekspresi wajah yang sangat percaya diri.

Tanpa kedua tokoh ini ; Ma’ Uwo Nizar dan Pian, saya merasa telah rugi ; membayar Rp 50.000 untuk sebuah film sekelas FTV. Namun sebagai putera minang saya memberikan apresiasi tinggi atas upaya-upaya memperkenalkan kebudayaan Minang kepada dunia luar termasuk menggunakan media film, untuk jangkauan lebih luas. Satu lagi film ini hampir 80% dialog menggunakan Bahasa Minang, dengan dialek yang tak terlalu buruk. Jadi tidak ada alasan bagi orang Minang untuk tidak menonton.

****

Al Albana, Andalas, 28 Muharam 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close