Dongeng Kaum Sufi Mendewakan Raja

Sudah menjadi adat dan dongeng turun-temurun bahwa raja adalah suci, keturunan dewa. Beliau tidak sama dengan manusia kebanyakan. Dengan demikian titah raja dipandang suci tidak boleh dibantah. Membantahnya sama dengan membantah dewa (tuhan).

Pada zaman animisme dan dinamisme kepercayaan kepada kekuatan gaib ; roh nenek moyang, pohon, sungai, batu, gunung dan lainnya. Raja dipandang sebagai dukun yang sanggup menjadi penghubung antara rakyat di alam nyata dengan dengan kekuatan gaib itu.

Setelah Hindu tersebar di Nusantara, jelas dinyatakan bahwa raja adalah titisan dewa. Airlangga titisan dewa Wisnu. Pada zaman majapahit diperkuat lagi tuah raja, bahwa raja bukanlah manusia biasa, akan tetapi keturunan dari khayangan, titisan Abimayu dan Arjuna.

Dengan mempertinggi tuah raja, sehingga mudah rakyat diperintah. Menatap mata raja tidak boleh apalagi duduk sejajar berhadapan. Untuk menghadap raja beringsut dengan bantuan kedua tangan, seperti hewan melata yang tak punya tulang belakang. Bahkan di jalanan jika berpapasan dengan iring-iringan kereta kerajaan, tidak hanya sekadar memberikan meluangkan jalan tapi segera merundukan tubuh dan mengangkat sembah, baru boleh mengangkat kepala setelah rombongan menjauh tak terlihat lagi.

Awal kedatangan Islam, Kerajaan Nusantara yang telah memeluk Islam menyesuaikan dengan nilai Islam bahwa manusia sejajar dan semua manusia adalah keturunan Adam a.s tidak ada manusia keturunan dewa.

Merah Silu yang bergelar Al Malikush Shaleh, raja Pasai yang mula-mula memeluk Islam awalnya adalah seorang nelayan di perairan Aceh bukan keturunan dewa. Ia tidak sempat didewakan.

Namun tidak demikian halnya dengan Kerajaan Islam setelah itu. Kerajaan Islam Malaka, berdiri awal abad ke-14. Raja-raja Malaka berasal dari Kerajaan Hindu Melayu di Tumasik (Singapura). Nenek moyong mereka berasal dari Palembang, Bukit Seguntang Mahameru.

Raja mesti dituahkan, padahal dalam ajaran Islam tidak demikian. Namun sisa-sisa zaman jahiliyaah belum terhapus sepenuhnya. Ajaran Tasawuf masuk bersamaan dengan fiqih dan lainnya. Dalam buku kaum sufi ada bahan untuk memberi tuah raja-raja islam dengan berbagai alasan dan kepentingan pula. Apakah ajaran itu sesuai dengan ajaran asli Islam? atau sudah melenceng dan bercampur. Itu lain soal. Dalam hal ini kaum sufi peroleh keuntungan karena mendapatkan tempat yang istimewa di kerajaan, pun demikian dengan raja, titahnya dipatuhi oleh rakyat.

Satu diantaranya yang penting, dalam ajaran tasawuf bahwa Nabi Khaidir a.s masih hidup sampai hari ini, baru akan mati pada hari kiamat. Nabi Khaidir a.s adalah seorang nabi besar merangkap menjadi wali quthub– yang berjumlah tujuh-yang setiap malam melakukan inspeksi pada seluruh dunia, menyelidiki penderitaan umat manusia. Sehabis itu mereka-wali quthub yang berjumlah tujuh-bermusyawarah dan melaporkan hasil inspeksi masing-masing. Nabi Khaidir a.s bergelar pula Mudawil Kulum berarti yang mengobati hati manusia.

Masih dari ajaran tasawuf pula, Nabi Khaidir a.s wazir dari Sultan Iskandar Zulkarnain. Ia pernah masuk ke dasar lautan sebagai upaya mencari tempat terbit matahari. Dalam catatan sejarah Iskandar Zulkarnain adalah putera Raja Philipus-Raja Macedonia-dan murid Aristoteles. Iskandar Zulkarnain pernah mengembara sampai ke Persia, berperang mengalahkan Darus, Maharaja Persia, terus ke India sampai tepi sungai Gangga.

Masuklah ajaran Tasawuf ke kitab-kitab karangan Ibnu Arabi dan Abdul Karim Jailani (keturunan Abdul Kadir Jailani). Penuhlah kitab mereka dengan khayalan tentang nabi Khaidir a.s dan Iskandar Zulkarnain. Apalagi kisah kedua orang itu terdapat pula pada Al Qur’an pada surah Al-Kahf. Mudahlah bagi yang hendak berkhayal menyusun cerita bahwa nabi Khaidir a.s adalah wazir Iskandar Zulkarnain. Bahkan adapula yang menyebut Iskandar Zulkarnain sebagai nabi pula.

Dalam Al Qur’an tidak sepatah jua menyebut nama nabi Khaidir a.s yang disebut hanyalah seorang hamba kami yang shaleh. Sebagian ahli tafsir juga tidak berani memastikan hamba kami yang sholeh itu nabi Khaidir a.s. ada juga ahli tafsir yang tidak mau menjelaskan Zul Qarnain (yang mempunyai dua tanduk) itu adalah Iskandar Zulkarnain-putera Raja Macedonia yang sudah jelas tidak memeluk agama Tauhid. Bahkan gurunya bukanlah seorang nabi utusan Allah, melainkan seorang filsuf Yunani terkenal Aristoteles, murid Plato.

Penyusun dongeng Sejarah Melayu tidak mau melepaskan kesempatan mengambil fantasi penafsiran dan khayal kaum sufi untuk mendewakan raja-raja melayu.

Alkisah, tersebutlah bahwa Raja Iskandar Zulkarnain datang dari Macedonia ke negeri Hindi, lalu berperang dengam raja Kida Hindi. Pada perperangan dahsyat itu kalahlah Kida Hindi, meskipun kalah Iskandar Zulkarnain tidaklah menghinakan Kida Hindi. Sebagai ucapan terima kasih kepada Iskandar Zulkarnain yang tetap mengormati kemuliaannya dihadiahkan puterinya yang sangat cantik, Syahru Bariyah namanya kepadaa Iskandar Zulkarnain untuk dinikahi. Nabi Khaidir a.s menjadi kadhinya. Tak lama berselang Iskandar Zulkarnain kembali ke negerinya dan isteri ditinggalkan bersama Kida Hindi. Kemudian baru diketahui Syahru Bariah tengah hamil anak dari Iskandar Zulkarnain. Setelah cukup bulan lahirlah seorang bayi laki-laki yang diberi nama Aristum Syah yang kelak menggantikan kakeknya. Dan turun temurun menjadi raja sampai kepada Raja Suran, raja di negeri Keling. Salah seorang keturunan ini nikah dengan puteri Nusyirwan Adil.

Diceritakan bahwa Raja Suran telah mengalahkan negeri China dan Siam. Pun didongengkan Raja Suran masuk ke dasar laut dengan keranda kaca. Berjumpa dengan raja seluruh lautan yaitu Raja Aftabul Ardh. Tiga tahum lamanya Raja Suran tinggal di dalam lautan sampai menikah dengan Puteri Raja Aftabul Ardh, hingga memperoleh tiga orang anak. Ia pun kembali naik ke atas dengan mengendarai Kuda Semberani dan berjumpa kembali dengan rakyatnya.

Dengan permaisuri di daratan Raja Suran memiliki tiga orang putera dan seorang puteri. Tuan Puteri Candani Wasis dipinang oleh Raja Hiran. Sedangkan ketiga anak laki-laki ; Paldu Tani dirajakan oleh ayahnya di Andam Negara, Nila Manan dirajakan di negeri Bija Negara, sedangkan yang paling tua Bacitram Syah mendapat negeri yang keci. Sebagai putera sulung ia merasa tidak adil. Sedihlah beliu, lalu meninggalkan kampung halaman dengan pengikutnya sebanyak 20 kapal. Angin kencang memporak-porandakan rombongan ini. Sebagian tenggelam, sebagian lagi berbalik pulang serta sebagian lagi tidak ada khabar beritanya.

Beberapa masa kemudian, di Palembang ada dua orang perempuan berhuma-ladang- di Bukit Sugantang Mahameru. Pada suatu malam padi yang mereka tanam di puncak bukit terang benderang laksana api, timbullah rasa cemas di hati mereka. Keesokan hari, bangun tidur mereka bergegas hendak melihat padi yang terang benderang semalam. Terjadi keajaiban padi mereka berbuah emas, batangnya tembaga sedangkan daunya perak. Di sana mereka dapati tiga orang, salah seorang berpakaian kerajaan. Kepalanya memakai mahkota dan mengendarai seekor lembu. Lalu mereka menjelaskan bahwa mereka adalah keturunan Sultan Iskandar Zulkarnain melalui nasab Nusirwan Adil-Raja Magrib dan Masyrik dan pancar dari Nabi Sulaiman a.s. Yang mengendarai Lembu adalah Bacitram Syah, yang dua lagi bernama Nila Utama dan Karna Pandita. Mahkota yang di kepalaa Bacitram Syah adalah penanda keturunan Iskandar Zulkarnain.

Tiba-tiba Lembu yang dikendarai Baginda Bacitram Syah memuntahkan buih lalu muntah itu berubah wujud menjadi seorang laki-laki dinamai Bat dan destar (ikat kepala) kebesaran. Bat mengaturkan sembah kepada Bacitram Syah dan memanggil gelar kerajaan Bacitram Syah yaitu Sang Suparba Taramberi Tribuana.

Sampailah berita ini kepada Demang Lebar Daun, Raja Palembang. Akhirnya Bacitram Syah dengan gelar kerajaaan Sang Suparba Taramberi Tribuana dinikahkan dengan puterinya yang bernama Wan Sendari serta dirajakan pula di negeri Melayu Hindu Palembang. Yang kelak keturunan ini menjadi raja di Kerajaan Hindu Tumasik selanjutnya di Kerajaan Islam Malaka.

Beberapa lama kemudian Sang Suparba meneruskan perjalanan menuju Bintan. Ia singgah di Sapat Kuantan. Di sana ia bertemu dengan Orang Minangkabau. Ia pun dirajakan karena dapat membunuh ular Sakti Muna (si Kati Muna). Diteruskan perjalanan hingga Bintan. Bertemu dengan permaisuri Raja Bintan Iskandar Syah dan dinikahkan dengan puterinya. Sang Suparba melanjutkan perjalanan hingga Tumasik. Di Tumasik ada seekor Singa besar oleh karena itulah Tumasik diberima Singapura.

Di Singapura inilah Sang Suparba mendirikan kerajaan. Ia memiliki dua orang anak, yaitu Raja Kecil Besae dan Raja Kecil Muda. Dari keturunan inilah kelak menjadi Raja di Kerajaan Islam Malaka.

Sebab itulah raja-raja Melayu bahkan Orang Minangkabau menyebut dirinya keturunan Iskandar Zulkarnain yang anak cucunya turun di atas Bukit Seguntang Mahameru.

Demikianlah dongeng yang dikarang oleh kaum sufi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan metodologi ilmu sejarah.

****

Disarikan dari buku Perbendaharaan Lama, Karya Buya Hamka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close