TIPS MENGENAKAN SARUNG

Maksud hati ikut merayakan hari santri tapi apa daya saya tak pernah nyantri. Biar nggak cupu sarungan aja deh. Tapi ngomong-ngomong tentang sarung, saya baru bisa menggunakan sarung yang benar sejak setahun lalu. Hampir 35 tahun keliru. Maklum bukan santri.
—-
“Kok kamu rapi bangat pakai sarung, ayah kok nggak ” tanya saya kepada anak.
“Ya, kecik, sarungnya juga kecik, jadi mudah pasangnya” jawabnya.
“Walaupun sarung ayah besar, tapi badan ayah juga besar apalagi perut, seperti tagline Muhammadiyah ‘berkemadjuan’, harusnya juga bisa sama seperti kamu rapinya, ajarin dong” desak saya lagi.
“Coba ayah buka terus pasang lagi, saya nak lihat” perintahnya.
Saya melepaskan gulungan sarung sampai ujung, lalu menarik ke atas dan menahan dengan dagu bagian paling atas sarung, lalu melipat bagian kiri ke kanan dan sebaliknya sama besar. Dilanjutkan mengulung dari atas ke bawah hingga gulungan berada sedikit di atas puser. Hasilnya sama seperti semula, tak ada perubahan.
Ia memperhatikan saya dengan seksama saat memasang sarung hingga selesai.
“Pantasan hasilnya buruk, ayah salah. Harusnya lipatan tidak sama besar”.
Saya disuruh melepas kembali sarung lalu meminta saya mengikuti petunjuknya.
“Lipat kecil dulu sebelah kiri, lalu tutup dengan lipatan besar dari kanan ke kiri”
Saya mengikuti arahannya, hasilnya rapi dan licin.
“Oh, begitu, ternyata anak keci’ lebih tahu daripada orang dewasa dalam hal persarungan, terima kasih ya”.

Isteri yang dari tadi memperhatikan menimpali “pantasan selama ini, ayah seperti perempuan pakai blisket kalau pakai sarung, ternyata lipatan dibuat sama besar”
”Walah, selama ini bukannya dikasih tahu, malah diketawain” gumam saya dalam hati.

Sejak itu, saya merasa tambah percaya diri pakai sarung, apalagi ditambah peci hitam dengan bordiran berwarna perak. Kadang meskipun sudah pakai celana panjang yang nyaman dan bersih, saya tetap bersalin menggunakan sarung untuk berangkat sholat ke masjid. Sampai di masjid celingak-celinguk memperhatikan sarung jemaah lain. Ah, itu dia masalahnya, sombong dan ujub, lihat orang pakai sarung kurang rapi di masjid. ‘Kok sarungnya nggak rapi’ untung hanya gumaman dalam hati.

Nah demikianlah tips mengenakan sarung dari saya. Semoga hal kecil ini bermamfaat bagi segelintir orang. Cukuplah hal-hal remeh seperti ini bagian saya, sedangkan urusan-urusan yang penting dan genting semacam politik dan negara menjadi bagian anda-anda yang pakar.

****

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close