Lelaki Tua Pedangang Kristal Dalam Sang Alkemis

Membaca novel terutama sastra serius semacam karya Pramudya, Kuntowijoyo, Ayu Utami atau Seno Gumira dan lain sebagainya akan menggugah jiwa tentang hal-hal kemanusiaan, sedangkan sebagian besar sastra populer semacam karya Habiburahman, Andrea Hirata, Tere Liye akan memotivasi kita untuk menghadapi hidup lebih baik lagi.

Terus terang belakangan saya memang kurang tertarik dengan hal-hal yang beraroma motivasi, termasuk juga novel. Padahal dahulu, sepuluh tahun silam saya berlangganan motivasi via SMS dari motivator kondang yang menjadi patron pasangan ideal bersama isterinya sebelum isteri pertamanya membongkar kasus penelantaran anak yang telah dilakukannya pada masa lampau. Sama seperti Anang-KD yang menjadi patron keluarga ideal bagi pasangan muda sebelum perceraian mereka. Panggilan ‘Pipi-mimi’ adalah warisan mereka.

Ketidaksukaan saya kepada buku atau tulisan yang berhubungan dengan motivasi bermula sejak melahap buku-buku biografi dan sejarah dengan sentuhan sastra dan filsafat. Buku motivasi cenderung menyederhanakan masalah-masalah kehidupan dengan memenggal potongan kehidupan tokoh-tokoh sukses. Tentu saja penggalan itu akan disesuaikan dengan konteks kemasan yang akan disampaikan. Selainnya itu buku motivasi cenderung mengarahkan orang dalam pemenuhan kebutuhan ekonomi dan hasrat memiliki dunia. Sehingga isi penuh mengurui.

Berbeda dengan Sang Alkemis karya , tidak dalam kecenderungan semacam itu. Paulo Chelho membungkus semacam ‘motivasi’ dalam pengembaraan Santiago. Pengembaraan untuk pengkayaan jiwa daripada pengkayaan materi.

Bagi saya sulit membedakan bagian yang paling menarik dalam pengembaraan Santiago pada Sang Alkemis ini, rasaya saya tak tega seperti motivator memenggal-menggal bagian cerita untuk disesuaikan dengan konteks yang disampaikan. Seluruh pengembaraan jiwa yang ditempuhnya adalah elemen-elemen yang tak terpisahkan dalam membentuk kesatuan yang dapat disebut pencarian jiwa.

Tentu saja hal yang paling mengunggah jiwa berada pada tokoh utama yakni Santiago, seorang pemuda belia yang mengembara dari Andalusia hingga sampai ke Mesir bertemu dengan berbagai kharakter dan berbagai permasalahan. Namun ada satu tokoh yang menurut saya unik, belum pernah saya temukan bahkan tidak akan pernah saya temukan selamanya baik pada dunia nyata maupun tokoh fiktif dalam novel atau film.

Ketika sampai di Tangier Santiago bertemu dengan seorang lelaki tua. Ia berkerja pada Lelaki tua pedagang aneka macam Kristal itu untuk mendapatkan uang agar bisa meneruskan perjalanan. Lelaki tua itu seorang muslim yang sholeh. Santiago diperkenalkan dasar ajaran islam (Rukun Islam). Yang membuat lelaki tua itu bersemangat menjalani hidup adalah agar dapat menyempurnakan rukun islam ke-5 yaitu menunaikan haji ke Mekkah, sedangkan keempat rukun islan lainnya telah ia penuhi selama ini.

Setelah melihat keadaan keuangan Lelaki Tua itu sudah cukup bahkan berlebih untuk biaya perjalanan Haji ke Makkah, Santiago bertanya kenapa ia belum berangkat juga? Lelaki Tua menjawab, “Saya takut jika impian itu saya penuhi, saya tak lagi bersemangat untuk menjalani hidup”.

Bagian ini membuat saya berkali-kali membaca Al Kemis ini. Saya pernah membaca novel yang jauh lebih tebal dari ini, seperti Arus Balik 760 halaman, namun saya merasakan Alkemis yang hanya 216 halaman ini jauh lebih ‘tebal’ dari novel lainnya.

****

Al Albana, Andalas 13 Safar 1440

Kategori Buku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close