Kegagalan Sosialisasi Vaksin MR

“Yah, besok bunda mau nungguin Ale di Sekolah, soalnya ada informasi petugas vaksin MR datang lagi besok”, ujar isteri dengan sedikit tendensius kemarin malam.

Ia punya alasan yang kuat untuk tidak setuju Vaksin. Sebelum berangkat haji 7 tahun lalu, selain vaksin maningitis yang diwajibkan kepada calon jemaah haji, ia juga vaksin influenza atas inisiatif dan biaya sendiri. Masih di tanah air air kena pilek, terlebih di sana hingga kembali pulang. Vaksinnya tidak ampuh, ia kecewa dan itu wajar.

Sedangkan saya dengan yang tidak punya pengalaman buruk dengan vaksin dan pengetahuan yang cukup tentang medis tentu tidak punya alasan untuk menolak vaksin. Meskipun begitu sebagai manusia yang dianugerahi akal saya juga tidak bisa sepenuhnya percaya kepada semua program vaksinisasi. Saya tidak Pro Vaksin dan juga tidak anti Vaksin.

Sedangkan untuk anak, kami mengambil jalan tengah ; full vaksin sampai usia 2 tahun. Dan terakhir setahun yang lalu ia terpaksa ikut vaksin difteri karena saya tipikal orang yang tidak terlalu suka berpolemik dan bisa memahami tekanan dari dinas kesehatan terhadap pihak sekolah untuk kelancaran program vaksin ini.

Soal kehalalan, MUI membenarkan bahwa vaksin MR mengandung unsur Babi. Haram hukumnya kecuali dalam keadaan darurat. Dalam hal ke-darurat-an inilah terjadi perselisihan pendapat. Sebagian menafsirkan-berdasarkan informasi yang di dapatkan dari media bahwa kondisi memang sudah darurat sehingga Vaksin MR yang haram karena mengandung unsur Babi menjadi mubah (boleh), sedangkan sebagian lagi-masih berdasarkan dari informasi yang diperoleh dari media) beranggapan bahwa kondisi masih baik-baik saja, belum darurat. Padahal kedua yang bersiteru ini enggan meninggalkan gawai untuk blusukan ke rumah sakit untuk mendapatkan informasi yang jelas. Momen ini dimamfaatkan oleh para buzzer untuk memperuncing kedua kubu yang bertikai dengan memberi ‘bumbu politik’, jadilah pertikaian ini hingga april 2019 atau 2024 baru selesai.

Saya sendiri tidak ingin masuk ke dalam kedua kubu yang sedang bertikai. Saya tidak percaya dengan berita-berita yang disebarkan oleh buzzer seperti ; Di kota X seorang anak sekarat setelah disuntik vaksin MR atau seorang murid kelas 3 SD meninggal akibat vaksin MR di kota Z, dan lain semacamnya dengan judul yang ditulis se-boombastis mungkin. Begitu pula sebaliknya ; ‘inilah akibat menolak Vaksin MR belasan anak mengalami kebutaan’ atau ‘inilah penyakit yang akan derita buah hati anda yang tidak mendapatkan vaksin MR’ dan lain sebagainya yang tak kalah boombastis dibanding dengan kelompok yang anti vaksin. Meskipun sumbernya dicomot dari situs antah-berantah yang secara kasat mata saja malas untuk membaca apalagi untuk percaya, misalnya kesalahan typo, atau tanda baca (tanda pentung menggelindung berderet lima) dan kaidah Bahasa Indonesia lainnya.

Beberapa minggu lalu ke sekolah datang petugas dari Dinas Kesehatan. Mereka menjelaskan tentang pentingnya vaksinasi MR, lalu meminta kerelaan setiap murid untuk dilakukan vaksinasi. Dalam hal ini tentu izin orang tua. Sebagai seorang yang selalu berada di tengah termasuk dalam hal Vaksin (Pro Vaksin dengan Anti Vaksin), saya menyerahkan keputusan ini kepada isteri. Sudah pasti ia tidak setuju. Al hasil dari 38 murid di kelas anak kami hanya 2 orang murid yang mendapatkan izin dari orang tuanya untuk vaksinasi MR. Bisa dibilang proyek mereka gagal. Dan saat itu saya masih netral.

Tak berselang lama, datang lagi petugas dari dinas kesehatan untuk mensosialisasikan Vaksin MR. Mula-mula sosialisasi, makin lama saya mengindikasikan sebagai bentuk intimidasi. Awalnya kerelaan belakangan terjadi pemaksaan. Seminggu yang lalu, anak kami bersembunyi ke dalam lemari yang berada dalam kelas saat petugas Vaksinasi datang, sebagian lagi temannya berhamburan sampai keluar areal sekolah.

Saya yang dari awal netral jadi terusik akibat menggunakan cara intimidasi dan pemaksaan seperti ini. Saya anggap mereka gagal dalam mensosialisasikan baik secara nasional maupun petugas dinas kesehatan di setiap provinsi dan kota/Kabupaten yang datang ke sekolah-sekolah. Saya merasa lemparkan ke masa Orde Baru ketika kelas 3 SD dipaksa membeli buku PSPB, yang saya lupa judulnya isinya tentang Serangan Umum 1 Maret.

Saya yang belum bisa sepenuhnya percaya akan mamfaat vaksin sekarang dipaksa untuk menerima saja. Terus terang saya tidak percaya vaksin menyebabkan anak menjadi nakal, tempramental atau tidak sopan kepada orang tua dan lain sebagainya. Maaf, saya tidak bisa mempercayai hal seperti itu efek dari vaksin. Apalagi vaksin disangkutkan dengan teori konspirasi Zionis dan segala macamnya untuk merusak generasi muda negara-negra berpenduduk muslim. Saya hanya sedang memikirkan bagaimana produsen-produsen farmasi yang ada di Eropa, Jepang dan lainnya bisa mengeruk keuntungan yang besar dengan dengan mendistribukan hasil produksi mereka kepada negara-negara berkembang seperti negara kita. Kenapa Siti Fadilah Supari-Mantan Menteri Kesehatan bisa menjadi ‘Pesakitan’ akibat menolak sampel flu burung di bawa ke luar negeri? Kenapa isu-isu berbagai macam penyakit seperti flu burung dan lain sebagainya itu bersifat temporary, setelah selasai program vaksin, isu juga berakhir. Banyak lagi kenapa, kenapa yang bersimpul di kepala saya tiba-tiba ada unsur pemaksaan dan intimidasi seperti ini.

Sebagai seorang oposan tanggung (bukan tangguh) saya tidak terima dengan segala hal yang bersifat intimidasi apalagi pemaksaan. Saya menolak Vaksin MR bukan berdasarkan isu-isu yang disebar oleh buzzer tapi karena saya melihat Dinas Kesehatan gagal dalam mensosialisakan.

Jika program Vaksinasi MR ini gagal bagaimana program-program vaksinasi selanjutnya?, semacam Vaksin anti Galau, Vaksin anti Gombal , Vaksin anti PHP dan lain sebagainya untuk putera-puteri kita menghadapi tantangan hidup lebih berat di masa depan. Yang jelas anggaran biaya import vaksin ini sangat besar tentu saja fee buat mereka yang ‘memperjuangkan rakyat’ juga sangat besar. Pantasan mereka ngotot bangat. Padahal pandemik yang menyebabkan vaksin ini menjadi halal baru terjadi di dunia maya, sedangkan di dunia nyata entah di belahan bumi sebelah mana?

****

Al Albana, Andalas, 14 Safar 1440

Kategori Khasanah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close