Abak

Setelah 96 hari kepergianya, sudah dua kali ia datang dalam mimpi ; dua minggu lalu, mimpi yang singkat. Ia bertanya apakah saya masih bekerja? Saya merasa tidak cocok sebagai seorang pekerja, jawab saya. Ia melanjutkan dengan apa saya menafkahi hidup? Saya merasa lebih cocok menjadi petani. Ia tersenyum dan saya pun terbangun.

Semalam saya bermimpi lagi. Saya bertengkar dengannya–hal yang tak pernah terjadi selama ia masih hidup–saya bersyukur tidak terlahir sebagai anak yang keras kepala dan suka berbuat onar, malah cenderung penurut, terutama kepada orang tua dan keluarga. Meskipun begitu tidak semua perintahnya saya ikuti dan tidak semua yang ia larang saya hindari. Namun satu hal yang tak pernah saya lakukan membantah omongannya. Namanya jiwa muda pasti ada jengkel dan kesal, namun saya tidak berani menunjukan secara frontal dihadapannya.

Mimpi semalan sebenarnya tidak bertengkar juga, saya hanya berani membantah omongannya yang menuduh saya tak tak peduli urusan keluarga. Dalam mimpi semalan saya menjelaskan bahwa saya bukan tidak peduli namun saya tidak tahu kalau ia sedang mengurus KTP. Satu lagi yang saya tegaskan bahwa saya tidak terima cara ngomong kepada saya seperti ngomong sama anak-anak. Saya sudah dewasa dan sudah punya anak pula seharusnya berbicara baik-baik. Padahal dalam mimpi itu ia tidak terlihat sedang marah dan ia menyebut saya tidak peduli urusan keluarga dengan intonasi yang datar tanpa tekanan.

Azan subuh berkumandang dari smartphone dan saya pun terbangun.

Tiba-tiba, sore ini saya ingin pulang menziarahi makam kedua orang tua. Tidur di kamarnya dengan menggunakan selimut yang pernah dipakainya. Akan saya bisikan kepadanya saya ingin tua seperti dia yang tidak suka merepotkan anak-cucunya. Melakukan segala sesuatu sendiri, berjalan tertatih-tatih dengan tongkat dan tak jarang jatuh. Kepada amak akan saya bisikan bahwa saya telah membuktikan ucapannya [ kamu tak akan bisa merasakan kasih sayang orang tua kepada anaknya, sebelum kamu punya anak]. Dan itu benar. Sebelum pulang kembali ke Padang akan saya periksa lemari pakaiannya dan mengambil beberapa potong pakaian yang sekira pantas untuk dikenakan.

Padahal baru tiga minggu lalu pulang menulis ulang batu nisan amak.

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ mudkhalahu. Waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqihi minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa a’idz-hu min ‘adzaabil qabri wa min ‘adzaabin naari.”

****

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close