Nasihat Yang Boleh Kau Tak Kau Dengar

Nasihat Yang Boleh Kau Tak Kau Dengar

#DearAlwi

Saya baru ingat bahwa tempo hari–saat kamu baru pindah ke sekolah yang sekarang–pernah bertanya, “kok kamu nggak ada pelajaran Bahasa Inggris?”.
“Nanti, kelas III ada tiga mata pelajaran baru ; 1. SKI (Sejarah Kebudayaan Islam, 2. BAM (Budaya Alam Minangkabau) dan 3. Bahasa Inggris” kamu menjelaskan.

Saya senang mendengarnya, apalagi dua pelajaran yang kamu sebut di awal,karena saya tak pernah saya dapatkannya di bangku sekolah. Sedangkan Bahasa Inggris biasa saja karena semua sudah paham bahwa seluruh sekolah dasar pasti mendapatkan pelajaran itu, sekalipun di pedalaman Papua.

Setelah ujian tengah semester saya baru sadar, saya tak pernah melihatmu belajar Bahasa Inggris di rumah. Sedangkan mata pelajaran SKI dan BAM membuatmu sibuk. Saya bahkan ikutan membaca buku paket SKI dan BAM milikmu dan kadang ikut campur dengan menambahkan pengetahuanmu tentang dua hal itu, meskipun di luar target mata pelajaran dan itu tidak penting bagimu untuk saat ini. Kamu berhasil mendapatkan nilai yang lumayan tinggi untuk SKI dan mesti remedial untuk BAM pada ujian tengah semester.

“Tak mengapa nak, terlambat mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris. Cepat juga belum tentu menjamin kamu bisa Bahasa Inggris. Kalau kamu berminat dengan suatu hal– termasuk Bahasa Inggris–nanti juga kamu akan berusaha dan menemukan jalannya. Tak bisa cas-cis-cus dalam Bahasa Inggris juga tak mengapa. Tak jago matematika pun no problem. Yang penting kamu menghormati orang yang lebih tua, sholat tepat waktu, halus tutur kata, santun dalam perbuatan dan ucapan, menghormati guru, menyayangi teman, menjaga alam dan seluruh isinya dengan tidak membuang sampah sembarangan, menghargai waktu dengan bijak” saya menyusunkan harapan kepadanya.
“Lha, ayah bolehkan tak bisa Bahasa Inggris dan jago matematika, cuma dua, tapi gantinya kok banyak bangat” protesmu. “Kalau begitu saya lebih memilih bisa Bahasa Inggris sedangkan Matematika saya sudah bisa, daripada dituntut sebanyak itu” kamu melanjutkan.
“nggak bisa dibalik seperti itu, yang ayah sebutkan itulah tujuan pendidikan untuk anak seusiamu sedangkan menguasai pelajaran itu hanyalah bonus” saya menjelaskan.
“Berarti nggak penting pelajaran” kamu berkelit.
“Bukan begitu pula, perlu sebagai dasar-dasar pengetahuan tapi belum penting, pentingnya nanti di Sekolah lanjutan” terang saya.
“Satu lagi yang tak kalah penting, jangan sampai kamu menjadi pelaku bully atau korban bully” saya menambahkan sambil mengeluarkan buku dari tasmu.
“Nah, belajar sekarang!” ujar saya sambil menyerahkan beberapa buku.
“Bukannya nggak penting?” balasmu
“Ini soal lain, persoalan menghargai waktu dengan bijak dan menghargai ilmu pengetahuan yaitu belajar sebentar sehabis magrib ” saya mengelak.

Kamu boleh jago dalam hal bermain dan bersenang-senang namun kalau soal ngomong berputar-putar dan berliku-liku dalam hal yang tak penting begini Ayah memang jagonya, apalagi yang dihadapi bocoh 8 tahun sepertimu.

****

Al Albana, Andaleh 16 Safar 1440

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close